KOMPAS.com – Tidak cukup hanya mengandalkan kebijakan pemerintah, dalam mengatasi persoalan lingkungan perlu berbagai perubahan dimulai dari kebiasaan sehari-hari, yang diperkuat melalui kolaborasi, dan ditanamkan sejak bangku sekolah.
Urgensi peran individu dan dunia pendidikan tersebut menjadi salah satu bahasan dalam Roadshow ASRI Menyapa Surabaya yang diselenggarakan Yayasan Berkat Budaya Sejahtera (YBBS) Kompas Gramedia bersama Unilever melalui program Akademi Sekolah Lestari (ASRI), di SMKN 10 Surabaya, Senin (12/10/2026).
Kegiatan ini melibatkan perwakilan dari 100 sekolah SMA/SMK sederajat di sekitar Surabaya dan diikuti sekitar 400 peserta.
Selain memperkenalkan ASRI sebagai gerakan pendidikan keberlanjutan di sekolah, kegiatan ini mengajak guru dan siswa memandang persoalan lingkungan secara lebih dekat, serta mengenali langkah-langkah yang bisa dilakukan untuk mengatasinya.
Roadshow tersebut juga didukung Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur Wilayah Surabaya dan Sidoarjo, yang diwakili oleh Hari Indarjoko, Pengawas Sekolah Tingkat SMA. Dukungan ini mencerminkan pentingnya kolaborasi antara dunia pendidikan dan berbagai pihak dalam mendorong kepedulian lingkungan di kalangan pelajar.
Founder Yayasan Lohjinawi, Yasmin Maulana menyoroti pentingnya pengelolaan sampah dari sumbernya. Ini termasuk melalui kebiasaan memilah sampah secara konsisten. Perubahan perilaku memang tidak selalu terjadi dalam waktu singkat.
Namun, upaya perubahan tersebut dapat berkembang menjadi kebiasaan ketika dilakukan terus-menerus dan melibatkan lebih banyak orang.
"Tanggung jawab sampah itu tanggung jawab bersama, bukan hanya pemerintah. Yang terpenting adalah bagaimana sampah dari sumbernya, mulai dari diri sendiri atau rumah, juga bisa kita atasi,” ujar Yasmin dalam keterangan tertulis, Jumat (23/10/2026).
Selain aksi langsung, komunikasi juga berperan penting dalam membangun kepedulian terhadap lingkungan.
Editor National Geographic Indonesia, Ade Sulaeman menegaskan, pesan lingkungan perlu disampaikan melalui pendekatan yang dekat dengan pengalaman sehari-hari agar lebih relevan bagi audiens, terutama generasi muda.
“Kalau mau bikin orang tergugah sama konten kita, pakai metode proximity atau kedekatan, supaya mereka merasa relate dengan apa yang kita alami,” tutur Ade.
Peserta juga memperoleh pengalaman belajar melalui berbagai aktivitas di booth, termasuk pemeriksaan mikroplastik bersama Ecoton dan pembelajaran mengenai bank sampah bersama Yayasan Lohjinawi.
Aktivitas ini memperkenalkan persoalan lingkungan melalui pengalaman yang lebih konkret, sekaligus menunjukkan beragam bentuk aksi yang dapat dilakukan.
Upaya membangun kepedulian lingkungan tersebut berlanjut melalui ASRI Goes to School pada 13–16 Oktober 2026.
Dalam program ini, tim ASRI mengunjungi SMKN 10 Surabaya, SMAN 2 Surabaya, SMKN 1 Surabaya, SMKN 13 Surabaya, dan SMA IPIEMS untuk berinteraksi langsung dengan siswa di ruang kelas.
Para siswa diperkenalkan dengan Lestari Academy, platform pembelajaran digital yang menyediakan materi mengenai berbagai isu keberlanjutan.
Pembelajaran juga dikemas melalui permainan interaktif menggunakan Kahoot agar siswa dapat memahami materi sekaligus menguji pengetahuan mereka dengan cara yang lebih partisipatif.
Melalui pendekatan ini, siswa diharapkan lebih dari sekadar memahami persoalan lingkungan. Namun, siswa juga diharapkan mampu mengidentifikasi masalah di sekitar dan mengembangkan gagasan untuk mengatasinya.
Gagasan tersebut bisa menjadi awal dari proyek keberlanjutan yang relevan dengan kebutuhan sekolah maupun masyarakat.
Kesempatan untuk mengembangkan gagasan itu juga terbuka melalui Kompetisi ASRI 2026, kompetisi tingkat nasional yang ditujukan bagi siswa dan guru.
Kompetisi ini mencakup enam topik. Yaitu, Pengelolaan Sampah, Kelestarian Alam, Kesejahteraan Fisik, Transisi Energi, Pekerjaan Hijau, dan Komunikasi Keberlanjutan.
Pendaftaran Kompetisi ASRI 2026 dibuka hingga 16 November 2026. Informasi lebih lanjut mengenai kompetisi dan program ASRI dapat diakses melalui Instagram Teman ASRI di @temanasri.
Melalui pembelajaran, kolaborasi, dan pengembangan proyek, ASRI mendorong sekolah menjadi ruang bagi siswa dan guru untuk mengubah kepedulian terhadap lingkungan menjadi gagasan maupun aksi nyata yang berkelanjutan.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya