Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Nilai yang Tinggal di Tanah Nikel

Kompas.com, 31 Oktober 2026, 09:35 WIB
Sri Noviyanti,
DWN

Tim Redaksi

Sulawesi Tenggara menjadi salah satu contohnya. Badan Pusat Statistik mencatat ekonomi provinsi ini tumbuh 5,79 persen pada triwulan IV-2025, naik dari 5,40 persen dibandingkan 2024.

Industri pengolahan mencatat pertumbuhan tertinggi sepanjang 2025, yakni 14,91 persen.
Pomalaa menjadi salah satu titik pertumbuhan industri tersebut.

Bupati Kolaka Amri menyebut keberadaan industri pengolahan membuat daerahnya kini menempati posisi penting dalam agenda hilirisasi nasional.

“Kabupaten Kolaka memiliki posisi strategis dalam peta hilirisasi mineral nasional,” ujarnya dalam Leader Forum 2nd Edition antara Pemerintah Kabupaten Kolaka dan PT Vale Indonesia pada Juli 2026.

Bagi Pemerintah Kabupaten Kolaka, pembangunan fondasi hilirisasi tidak cukup dilihat dari besarnya investasi dan kapasitas produksi.

Baca juga: Dari Bekas Tambang Jadi Hutan, Jejak Keberlanjutan PT Vale di Sorowako

Amri menyebut manfaatnya perlu terlihat dari pembukaan pekerjaan bagi warga lokal, pertumbuhan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), peningkatan pendapatan asli daerah, serta pembangunan infrastruktur yang dapat digunakan bersama.

Pekerjaan menjadi salah satu dampak yang paling cepat terlihat.

Mencari tempat bagi pekerja lokal

Pada September 2025, tidak kurang dari 4.100 orang bekerja di proyek Pomalaa. Perusahaan mengeklaim 70 persen di antaranya merupakan warga ber-KTP Kolaka.

Kehadiran ribuan pekerja menunjukkan besarnya kebutuhan tenaga selama masa pembangunan. Ketika proyek bergerak menuju fase operasi, kebutuhan tenaga kerjanya pun ikut berubah.

Fasilitas HPAL memerlukan pekerja dengan keterampilan teknis, mulai dari hidrometalurgi, kelistrikan, pengoperasian alat, hingga keselamatan kerja.

Baca juga: Ketika Industri Nikel Berdamai dengan Alam, Kisah Keberlanjutan Vale

Sejumlah keterampilan tersebut belum banyak tersedia di pasar tenaga kerja setempat. Pelatihan pun berjalan bersamaan dengan pembangunan proyek.

Vale dan Huayou menjalankan Bridge Program bersama lembaga pendidikan dan pelatihan vokasi. Program tersebut mencakup pelatihan teknis, pengembangan kemampuan manajerial, serta kesempatan magang.

Pelatihan tenaga kerja di sekitar Pomalaa sebenarnya telah berlangsung sejak sebelum fasilitas berdiri. Bidangnya meliputi kelistrikan, pengelasan, keselamatan dasar, operator alat berat, juru ukur, hingga keterampilan perkantoran.

Komposisi tenaga kerja proyek juga berubah mengikuti tahap pembangunan. Laporan Keberlanjutan Vale 2025 mencatat karyawan langsung perusahaan di Pomalaa berjumlah 99 orang, sedangkan sebagian besar tenaga kerja proyek berada di perusahaan kontraktor.

Persoalan kesempatan kerja masih muncul dalam hubungan perusahaan dengan masyarakat.
Sepanjang 2025, Vale mencatat 95 pengaduan dari masyarakat dan pemangku kepentingan di Pomalaa. Keluhannya antara lain berkaitan dengan pekerjaan, lahan, dampak lingkungan, dan ganti rugi. Sebanyak 90 pengaduan dinyatakan selesai.

Baca juga: Vale Indonesia Ubah Limbah Nikel Jadi Berkah lewat Inisiatif Sirkular

Fase operasi kelak akan menguji seberapa banyak keterampilan baru itu dapat menetap di Kolaka ketika kebutuhan pekerja konstruksi mulai berkurang.

Namun, perputaran ekonomi dari sebuah proyek besar tidak hanya berlangsung di balik pagar kawasan industri.

Di desa-desa sekitar Pomalaa, bentuknya bisa jauh lebih sederhana.

Nilai tambah di kebun kakao

Di rumah pembibitan di Pomalaa, ada 4.600 bibit kakao telah ditanam. Sebanyak 100 petani juga dipersiapkan sebagai calon produsen kakao bersertifikat.

Salah seorang di antaranya ialah Rahmad, Ketua Forum Kakao Mandara.

“Sebelumnya, kami hanya menjual biji kakao mentah,” kata Rahmad dikutip dalam Laporan Keberlanjutan Vale 2025.

Petani kemudian mendapat pendampingan untuk mengolah kakao, mulai dari tahap pascapanen hingga pengemasan.

Baca juga: Vale Indonesia Lakukan Reklamasi 3.791 Hektare Lahan Tambang di Sulsel

Jarak antara kebun kakao dan pabrik HPAL agak jauh, begitu pula skala ekonominya. Namun, keduanya memperlihatkan proses dalam menambah tahapan pengolahan sebelum suatu komoditas meninggalkan daerah asalnya.

Kegiatan ekonomi lain turut tumbuh mengikuti ramainya kawasan. Pada Agustus 2026, sekitar 150 UMKM mengikuti festival kuliner yang digelar bersama pemerintah daerah, Kadin, HIPMI Kolaka, dan IGP Pomalaa.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pemkot Surakarta dan Konsorsium Filantrofi Dorong Transisi Sanitasi Aman
Pemkot Surakarta dan Konsorsium Filantrofi Dorong Transisi Sanitasi Aman
Pemerintah
K-24 Grup dan Danone Indonesia Dukung Pemenuhan Nutrisi Anak Pascabencana di NTT
K-24 Grup dan Danone Indonesia Dukung Pemenuhan Nutrisi Anak Pascabencana di NTT
Swasta
Restorasi Gambut dan Pemantauan Udara Diperlukan untuk Penanganan Karhutla Jangka Panjang
Restorasi Gambut dan Pemantauan Udara Diperlukan untuk Penanganan Karhutla Jangka Panjang
LSM/Figur
PBB: Daya Serap Karbon Samudra Kian Menurun akibat Krisis Iklim
PBB: Daya Serap Karbon Samudra Kian Menurun akibat Krisis Iklim
Pemerintah
Skor Daya Saing Karbon RI Terendah di ASEAN, Tertinggal Jauh dari Filipina
Skor Daya Saing Karbon RI Terendah di ASEAN, Tertinggal Jauh dari Filipina
LSM/Figur
ESG di Asia Tak Lagi Sekadar CSR, Kini Terintegrasi ke Jantung Bisnis
ESG di Asia Tak Lagi Sekadar CSR, Kini Terintegrasi ke Jantung Bisnis
Swasta
Nilai yang Tinggal di Tanah Nikel
Nilai yang Tinggal di Tanah Nikel
Swasta
UNBL dan Uniska Dampingi Warga Al Kautsar Olah Potensi Desa Jadi Produk Bernilai
UNBL dan Uniska Dampingi Warga Al Kautsar Olah Potensi Desa Jadi Produk Bernilai
Pemerintah
EIGER Nature Diresmikan, Menpar Apresiasi Ekowisata Berkelanjutan
EIGER Nature Diresmikan, Menpar Apresiasi Ekowisata Berkelanjutan
BrandzView
Bingung TPS Ditutup, Kampung di Bogor Kelola Sampah Organik Jadi Alas Kandang Ayam dan Kompos
Bingung TPS Ditutup, Kampung di Bogor Kelola Sampah Organik Jadi Alas Kandang Ayam dan Kompos
LSM/Figur
361 Kilogram Sampah Diangkat dari Bantaran Ciliwung, Pencemaran Domestik Jadi Sorotan
361 Kilogram Sampah Diangkat dari Bantaran Ciliwung, Pencemaran Domestik Jadi Sorotan
Swasta
Harga Karbon Indonesia Terlalu Murah, Industri Menanti Kepastian Perdagangan Emisi
Harga Karbon Indonesia Terlalu Murah, Industri Menanti Kepastian Perdagangan Emisi
LSM/Figur
Mengurai Krisis Biarpet dan Ambisi Ketahanan Energi
Mengurai Krisis Biarpet dan Ambisi Ketahanan Energi
Pemerintah
Zonasi Sampah di Bantargebang Tak Jelas, Pengelolaan Emisi Metana Terkendala
Zonasi Sampah di Bantargebang Tak Jelas, Pengelolaan Emisi Metana Terkendala
LSM/Figur
RTH Jadi Penopang 'Green Campus' dari Menurunkan Suhu hingga Mencegah Banjir
RTH Jadi Penopang "Green Campus" dari Menurunkan Suhu hingga Mencegah Banjir
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau