Sulawesi Tenggara menjadi salah satu contohnya. Badan Pusat Statistik mencatat ekonomi provinsi ini tumbuh 5,79 persen pada triwulan IV-2025, naik dari 5,40 persen dibandingkan 2024.
Industri pengolahan mencatat pertumbuhan tertinggi sepanjang 2025, yakni 14,91 persen.
Pomalaa menjadi salah satu titik pertumbuhan industri tersebut.
Bupati Kolaka Amri menyebut keberadaan industri pengolahan membuat daerahnya kini menempati posisi penting dalam agenda hilirisasi nasional.
“Kabupaten Kolaka memiliki posisi strategis dalam peta hilirisasi mineral nasional,” ujarnya dalam Leader Forum 2nd Edition antara Pemerintah Kabupaten Kolaka dan PT Vale Indonesia pada Juli 2026.
Bagi Pemerintah Kabupaten Kolaka, pembangunan fondasi hilirisasi tidak cukup dilihat dari besarnya investasi dan kapasitas produksi.
Baca juga: Dari Bekas Tambang Jadi Hutan, Jejak Keberlanjutan PT Vale di Sorowako
Amri menyebut manfaatnya perlu terlihat dari pembukaan pekerjaan bagi warga lokal, pertumbuhan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), peningkatan pendapatan asli daerah, serta pembangunan infrastruktur yang dapat digunakan bersama.
Pekerjaan menjadi salah satu dampak yang paling cepat terlihat.
Pada September 2025, tidak kurang dari 4.100 orang bekerja di proyek Pomalaa. Perusahaan mengeklaim 70 persen di antaranya merupakan warga ber-KTP Kolaka.
Kehadiran ribuan pekerja menunjukkan besarnya kebutuhan tenaga selama masa pembangunan. Ketika proyek bergerak menuju fase operasi, kebutuhan tenaga kerjanya pun ikut berubah.
Fasilitas HPAL memerlukan pekerja dengan keterampilan teknis, mulai dari hidrometalurgi, kelistrikan, pengoperasian alat, hingga keselamatan kerja.
Baca juga: Ketika Industri Nikel Berdamai dengan Alam, Kisah Keberlanjutan Vale
Sejumlah keterampilan tersebut belum banyak tersedia di pasar tenaga kerja setempat. Pelatihan pun berjalan bersamaan dengan pembangunan proyek.
Vale dan Huayou menjalankan Bridge Program bersama lembaga pendidikan dan pelatihan vokasi. Program tersebut mencakup pelatihan teknis, pengembangan kemampuan manajerial, serta kesempatan magang.
Pelatihan tenaga kerja di sekitar Pomalaa sebenarnya telah berlangsung sejak sebelum fasilitas berdiri. Bidangnya meliputi kelistrikan, pengelasan, keselamatan dasar, operator alat berat, juru ukur, hingga keterampilan perkantoran.
Komposisi tenaga kerja proyek juga berubah mengikuti tahap pembangunan. Laporan Keberlanjutan Vale 2025 mencatat karyawan langsung perusahaan di Pomalaa berjumlah 99 orang, sedangkan sebagian besar tenaga kerja proyek berada di perusahaan kontraktor.
Persoalan kesempatan kerja masih muncul dalam hubungan perusahaan dengan masyarakat.
Sepanjang 2025, Vale mencatat 95 pengaduan dari masyarakat dan pemangku kepentingan di Pomalaa. Keluhannya antara lain berkaitan dengan pekerjaan, lahan, dampak lingkungan, dan ganti rugi. Sebanyak 90 pengaduan dinyatakan selesai.
Baca juga: Vale Indonesia Ubah Limbah Nikel Jadi Berkah lewat Inisiatif Sirkular
Fase operasi kelak akan menguji seberapa banyak keterampilan baru itu dapat menetap di Kolaka ketika kebutuhan pekerja konstruksi mulai berkurang.
Namun, perputaran ekonomi dari sebuah proyek besar tidak hanya berlangsung di balik pagar kawasan industri.
Di desa-desa sekitar Pomalaa, bentuknya bisa jauh lebih sederhana.
Di rumah pembibitan di Pomalaa, ada 4.600 bibit kakao telah ditanam. Sebanyak 100 petani juga dipersiapkan sebagai calon produsen kakao bersertifikat.
Salah seorang di antaranya ialah Rahmad, Ketua Forum Kakao Mandara.
“Sebelumnya, kami hanya menjual biji kakao mentah,” kata Rahmad dikutip dalam Laporan Keberlanjutan Vale 2025.
Petani kemudian mendapat pendampingan untuk mengolah kakao, mulai dari tahap pascapanen hingga pengemasan.
Baca juga: Vale Indonesia Lakukan Reklamasi 3.791 Hektare Lahan Tambang di Sulsel
Jarak antara kebun kakao dan pabrik HPAL agak jauh, begitu pula skala ekonominya. Namun, keduanya memperlihatkan proses dalam menambah tahapan pengolahan sebelum suatu komoditas meninggalkan daerah asalnya.
Kegiatan ekonomi lain turut tumbuh mengikuti ramainya kawasan. Pada Agustus 2026, sekitar 150 UMKM mengikuti festival kuliner yang digelar bersama pemerintah daerah, Kadin, HIPMI Kolaka, dan IGP Pomalaa.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya