Bagi pelaku usaha lokal, pasar yang lebih besar berada pada rantai pasok proyek.
Laporan Keberlanjutan Vale mencatat pada 2025, belanja yang dialokasikan kepada pemasok dalam negeri mencapai 895,4 juta dollar AS, atau 90 persen dari total belanja pemasok.
Untuk masuk ke dalamnya, pengusaha daerah harus memenuhi berbagai persyaratan, mulai dari volume, kualitas, keselamatan, hingga standar pengadaan.
Ujian terhadap pengelolaan lingkungan datang ketika proyek masih dalam tahap pembangunan.
Pada November 2025, hujan deras menyebabkan lumpur merendam sawah warga di Desa Oko-Oko dan Lamendai. Air Sungai Huko-Huko juga dilaporkan berubah kemerahan.
Baca juga: Teknologi Canggih PT Vale Jaga Kejernihan Danau Matano
Vale menyebut curah hujan tinggi menyebabkan kolam penampung sedimen meluap dan menyatakan telah melakukan langkah pengendalian. WALHI Sulawesi Tenggara, berdasarkan pemantauannya, menyoroti aliran sedimentasi dari kawasan proyek menuju anak sungai yang terhubung dengan wilayah terdampak.
Pada 2025, Laporan Keberlanjutan Vale mencatat pengeluaran pengelolaan lingkungan di IGP Pomalaa mencapai 9,5 juta dollar AS. Setahun sebelumnya nilainya sekitar 500.000 dollar AS.
Sebagian besar dana itu digunakan untuk pengendalian air selama konstruksi, termasuk pembangunan kolam sedimen.
Hingga akhir 2025, luas lahan terganggu secara kumulatif mencapai 807,76 hektar. Belum terdapat area yang direklamasi karena proyek masih berada dalam tahap pengembangan.
Di luar konsesi, rehabilitasi daerah aliran sungai yang berkaitan dengan IGP Pomalaa mencapai 1.953 hektar.
Lingkungan sekitar Pomalaa juga menyimpan keragaman hayati yang menjadi perhatian selama pengembangan proyek.
Baca juga: Rayakan HUT Ke-56, PT Vale Tegaskan Komitmen Berkelanjutan lewat Praktik Tambang Bertanggung Jawab
Kajian habitat kritis perusahaan mencatat 11 spesies pemicu habitat kritis setelah konsultasi dilakukan dengan masyarakat di 20 desa.
Ketika fasilitas HPAL mulai berproduksi, persoalan yang diawasi akan bertambah.
Proses pengolahan menghasilkan residu yang perlu disimpan dan dikelola sepanjang masa operasi. Di Sulawesi yang bercurah hujan tinggi, pengendalian air, sedimentasi, dan pemantauan fasilitas pengelolaan residu menjadi bagian dari kegiatan sehari-hari kawasan industri.
Vale menyebut residu HPAL akan dikelola oleh perusahaan patungan yang mengoperasikan fasilitas pengolahan bersama mitra sesuai standar lingkungan proyek.
Tekanan terhadap industri nikel juga tidak hanya datang dari sekitar tambang. Di pasar baterai kendaraan listrik, teknologi terus berubah.
Global EV Outlook 2026 dari International Energy Agency mencatat baterai lithium iron phosphate atau LFP, yang tidak menggunakan nikel, telah menguasai lebih dari 55 persen baterai kendaraan listrik yang digunakan secara global pada 2025.
Baca juga: Vale Dukung Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat Morowali
Harga paket baterai LFP rata-rata juga lebih dari 40 persen lebih murah dibandingkan baterai berbasis nickel manganese cobalt (NMC).
Meski demikian, di luar China hampir 80 persen baterai kendaraan listrik yang digunakan pada 2025 masih memakai kimia berbasis nikel.
Perkembangan teknologi itu membuat masa depan industri nikel tidak hanya bergantung pada seberapa banyak mineral yang tersedia di dalam tanah. Daya saing biaya, teknologi pengolahan, serta cara dampak sosial dan lingkungan dikelola ikut menentukan perjalanan industri tersebut.
Bagi Pomalaa, perjalanan itu masih akan berlangsung lama. Umur tambang Pomalaa diperkirakan berlangsung hingga sekitar 2045.
Dalam rentang waktu itu, nikel akan terus keluar dari tanah dan masuk ke rantai pengolahan. Sementara warga, kebun, sawah, dan Sungai Huko-Huko tetap menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari di Pomalaa.
Jejak hilirisasi kelak akan terlihat dari apa yang tetap bertahan dan tumbuh di daerah itu ketika umur tambang mendekati akhir.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya