Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Nilai yang Tinggal di Tanah Nikel

Kompas.com, 31 Oktober 2026, 09:35 WIB
Sri Noviyanti,
DWN

Tim Redaksi

Bagi pelaku usaha lokal, pasar yang lebih besar berada pada rantai pasok proyek.
Laporan Keberlanjutan Vale mencatat pada 2025, belanja yang dialokasikan kepada pemasok dalam negeri mencapai 895,4 juta dollar AS, atau 90 persen dari total belanja pemasok.

Untuk masuk ke dalamnya, pengusaha daerah harus memenuhi berbagai persyaratan, mulai dari volume, kualitas, keselamatan, hingga standar pengadaan.

Hujan turun di Pomalaa

Ujian terhadap pengelolaan lingkungan datang ketika proyek masih dalam tahap pembangunan.

Pada November 2025, hujan deras menyebabkan lumpur merendam sawah warga di Desa Oko-Oko dan Lamendai. Air Sungai Huko-Huko juga dilaporkan berubah kemerahan.

Baca juga: Teknologi Canggih PT Vale Jaga Kejernihan Danau Matano

Vale menyebut curah hujan tinggi menyebabkan kolam penampung sedimen meluap dan menyatakan telah melakukan langkah pengendalian. WALHI Sulawesi Tenggara, berdasarkan pemantauannya, menyoroti aliran sedimentasi dari kawasan proyek menuju anak sungai yang terhubung dengan wilayah terdampak.

Pada 2025, Laporan Keberlanjutan Vale mencatat pengeluaran pengelolaan lingkungan di IGP Pomalaa mencapai 9,5 juta dollar AS. Setahun sebelumnya nilainya sekitar 500.000 dollar AS.

Sebagian besar dana itu digunakan untuk pengendalian air selama konstruksi, termasuk pembangunan kolam sedimen.

Hingga akhir 2025, luas lahan terganggu secara kumulatif mencapai 807,76 hektar. Belum terdapat area yang direklamasi karena proyek masih berada dalam tahap pengembangan.

Di luar konsesi, rehabilitasi daerah aliran sungai yang berkaitan dengan IGP Pomalaa mencapai 1.953 hektar.

Lingkungan sekitar Pomalaa juga menyimpan keragaman hayati yang menjadi perhatian selama pengembangan proyek.

Baca juga: Rayakan HUT Ke-56, PT Vale Tegaskan Komitmen Berkelanjutan lewat Praktik Tambang Bertanggung Jawab

Kajian habitat kritis perusahaan mencatat 11 spesies pemicu habitat kritis setelah konsultasi dilakukan dengan masyarakat di 20 desa.

Ketika fasilitas HPAL mulai berproduksi, persoalan yang diawasi akan bertambah.
Proses pengolahan menghasilkan residu yang perlu disimpan dan dikelola sepanjang masa operasi. Di Sulawesi yang bercurah hujan tinggi, pengendalian air, sedimentasi, dan pemantauan fasilitas pengelolaan residu menjadi bagian dari kegiatan sehari-hari kawasan industri.

Vale menyebut residu HPAL akan dikelola oleh perusahaan patungan yang mengoperasikan fasilitas pengolahan bersama mitra sesuai standar lingkungan proyek.

Tekanan terhadap industri nikel juga tidak hanya datang dari sekitar tambang. Di pasar baterai kendaraan listrik, teknologi terus berubah.

Global EV Outlook 2026 dari International Energy Agency mencatat baterai lithium iron phosphate atau LFP, yang tidak menggunakan nikel, telah menguasai lebih dari 55 persen baterai kendaraan listrik yang digunakan secara global pada 2025.

Baca juga: Vale Dukung Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat Morowali

Harga paket baterai LFP rata-rata juga lebih dari 40 persen lebih murah dibandingkan baterai berbasis nickel manganese cobalt (NMC).

Meski demikian, di luar China hampir 80 persen baterai kendaraan listrik yang digunakan pada 2025 masih memakai kimia berbasis nikel.

Perkembangan teknologi itu membuat masa depan industri nikel tidak hanya bergantung pada seberapa banyak mineral yang tersedia di dalam tanah. Daya saing biaya, teknologi pengolahan, serta cara dampak sosial dan lingkungan dikelola ikut menentukan perjalanan industri tersebut.

Bagi Pomalaa, perjalanan itu masih akan berlangsung lama. Umur tambang Pomalaa diperkirakan berlangsung hingga sekitar 2045.

Dalam rentang waktu itu, nikel akan terus keluar dari tanah dan masuk ke rantai pengolahan. Sementara warga, kebun, sawah, dan Sungai Huko-Huko tetap menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari di Pomalaa.

Jejak hilirisasi kelak akan terlihat dari apa yang tetap bertahan dan tumbuh di daerah itu ketika umur tambang mendekati akhir.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pemkot Surakarta dan Konsorsium Filantrofi Dorong Transisi Sanitasi Aman
Pemkot Surakarta dan Konsorsium Filantrofi Dorong Transisi Sanitasi Aman
Pemerintah
K-24 Grup dan Danone Indonesia Dukung Pemenuhan Nutrisi Anak Pascabencana di NTT
K-24 Grup dan Danone Indonesia Dukung Pemenuhan Nutrisi Anak Pascabencana di NTT
Swasta
Restorasi Gambut dan Pemantauan Udara Diperlukan untuk Penanganan Karhutla Jangka Panjang
Restorasi Gambut dan Pemantauan Udara Diperlukan untuk Penanganan Karhutla Jangka Panjang
LSM/Figur
PBB: Daya Serap Karbon Samudra Kian Menurun akibat Krisis Iklim
PBB: Daya Serap Karbon Samudra Kian Menurun akibat Krisis Iklim
Pemerintah
Skor Daya Saing Karbon RI Terendah di ASEAN, Tertinggal Jauh dari Filipina
Skor Daya Saing Karbon RI Terendah di ASEAN, Tertinggal Jauh dari Filipina
LSM/Figur
ESG di Asia Tak Lagi Sekadar CSR, Kini Terintegrasi ke Jantung Bisnis
ESG di Asia Tak Lagi Sekadar CSR, Kini Terintegrasi ke Jantung Bisnis
Swasta
Nilai yang Tinggal di Tanah Nikel
Nilai yang Tinggal di Tanah Nikel
Swasta
UNBL dan Uniska Dampingi Warga Al Kautsar Olah Potensi Desa Jadi Produk Bernilai
UNBL dan Uniska Dampingi Warga Al Kautsar Olah Potensi Desa Jadi Produk Bernilai
Pemerintah
EIGER Nature Diresmikan, Menpar Apresiasi Ekowisata Berkelanjutan
EIGER Nature Diresmikan, Menpar Apresiasi Ekowisata Berkelanjutan
BrandzView
Bingung TPS Ditutup, Kampung di Bogor Kelola Sampah Organik Jadi Alas Kandang Ayam dan Kompos
Bingung TPS Ditutup, Kampung di Bogor Kelola Sampah Organik Jadi Alas Kandang Ayam dan Kompos
LSM/Figur
361 Kilogram Sampah Diangkat dari Bantaran Ciliwung, Pencemaran Domestik Jadi Sorotan
361 Kilogram Sampah Diangkat dari Bantaran Ciliwung, Pencemaran Domestik Jadi Sorotan
Swasta
Harga Karbon Indonesia Terlalu Murah, Industri Menanti Kepastian Perdagangan Emisi
Harga Karbon Indonesia Terlalu Murah, Industri Menanti Kepastian Perdagangan Emisi
LSM/Figur
Mengurai Krisis Biarpet dan Ambisi Ketahanan Energi
Mengurai Krisis Biarpet dan Ambisi Ketahanan Energi
Pemerintah
Zonasi Sampah di Bantargebang Tak Jelas, Pengelolaan Emisi Metana Terkendala
Zonasi Sampah di Bantargebang Tak Jelas, Pengelolaan Emisi Metana Terkendala
LSM/Figur
RTH Jadi Penopang 'Green Campus' dari Menurunkan Suhu hingga Mencegah Banjir
RTH Jadi Penopang "Green Campus" dari Menurunkan Suhu hingga Mencegah Banjir
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau