Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Beras Rendah Emisi Berpeluang Masuk Pasar Ritel, Pendapatan Petani Bisa Naik

Kompas.com, 2 November 2026, 08:28 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Indonesia berpeluang memperluas pemasaran beras rendah emisi ke pasar ritel umum tanpa mengharuskan konsumen membayar harga tambahan untuk aspek keberlanjutan.

Model produksi ini juga berpotensi meningkatkan pendapatan petani sekaligus menekan emisi gas rumah kaca (GRK) dan penggunaan air.

Laporan yang disusun Philanthropy Asia Alliance (PAA), Pijar Foundation, dan World Economic Forum menyebutkan, peluang tersebut dapat diwujudkan melalui peningkatan kualitas gabah dan proses penggilingan yang memenuhi standar beras premium, dengan tetap mengikuti ketentuan harga eceran tertinggi (HET) yang berlaku.

Baca juga: Bapanas: Inflasi Beras Kuartal III 2026 Terendah dalam Empat Tahun berkat CBP

Beras merupakan makanan pokok bagi lebih dari 250 juta penduduk Indonesia. Di sisi lain, budi daya padi menyumbang sekitar 34 persen dari total emisi GRK sektor pertanian di Indonesia.

Kondisi tersebut menempatkan sektor perberasan pada persimpangan antara menjaga ketahanan pangan nasional dan mencapai target iklim. Salah satunya, target Low Carbon Development Initiative untuk menerapkan praktik rendah karbon di sekitar satu juta hektare lahan pada 2030.

Menurut laporan Scaling Sustainable Rice Systems in Southeast Asia: Insights from a Feasibility Study in Indonesia, hasil uji coba agronomi di Grobogan, Jawa Tengah, menunjukkan bahwa metode alternate wetting and drying (AWD) berpotensi diterapkan pada lahan sawah di Indonesia.

"AWD merupakan metode pengairan yang memungkinkan sawah mengalami pengeringan hingga batas aman sebelum kembali diairi. Dalam uji coba tersebut, penerapan AWD mampu mempertahankan hasil panen sekaligus mengurangi penggunaan air irigasi hingga 30 persen dan emisi metana hingga 35 persen," tulis laporan tersebut dikutip Senin (2/10/2026).

Pendapatan petani berpotensi meningkat

Berdasarkan skenario pemodelan dalam laporan tersebut, surplus bersih petani berpotensi meningkat sekitar 31 persen. Peningkatan ini didorong oleh harga jual gabah yang lebih tinggi di tingkat petani, kenaikan hasil panen sekitar 6 persen, serta penurunan total biaya produksi.

Pihak pembeli hasil panen atau offtaker, termasuk penggilingan dan pembeli grosir, juga berpotensi memperoleh keuntungan. Nilai yang diperoleh dari kategori beras premium diperkirakan lebih besar dibandingkan tambahan harga yang dibayarkan kepada petani.

Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan margin kotor pengolahan hingga 45 persen.

Laporan itu mengusulkan implementasi awal pada lahan seluas 100 hektare selama empat musim tanam. Tahap tersebut ditujukan untuk menguji asumsi pemodelan dalam kondisi operasional nyata.

Direktur Eksekutif Pijar Foundation Cazadira Fediva Tamzil mengatakan, petani kecil tidak seharusnya menanggung sendiri biaya transisi menuju ekonomi hijau.

Baca juga: Harga Kalah Bersaing, Ekspor Beras dan Singkong Thailand Merosot

"Perubahan cara menanam padi harus mampu mengurangi emisi sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi petani. Temuan kami menunjukkan bahwa melalui kolaborasi yang efektif, produksi beras rendah emisi dapat meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus mengurangi penggunaan air dan emisi. Inilah transisi yang kita butuhkan, ketika keberlanjutan menjadi sebuah peluang,” ujar Cazadira dalam keterangan tertulis, Kamis (29/10/2026).

Kepastian pembelian dibutuhkan

Laporan tersebut menekankan pentingnya komitmen pembelian untuk memperluas penerapan beras rendah emisi. Kepastian permintaan sebelum petani mengubah praktik budi daya dinilai dapat meningkatkan keyakinan mereka untuk menerapkan metode baru.

Mengacu pada panduan CEO dari First Movers Coalition for Food, laporan itu menguraikan dua pendekatan yang dapat dilakukan pembeli. Pertama, memasukkan persyaratan beras berkelanjutan ke dalam spesifikasi pengadaan. Kedua, mendanai program di wilayah pemasok atau *supply-shed*, dengan tetap memberi kebebasan kepada petani untuk menjual hasil panennya di pasar terbuka.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Studi: 140 Juta Pekerjaan di Eropa Berpotensi Terdampak Krisis Alam
Studi: 140 Juta Pekerjaan di Eropa Berpotensi Terdampak Krisis Alam
Pemerintah
Studi Ungkap 56 Ton Partikel Mikroplastik  Hujani Gunung Everest Sepanjang Tahun
Studi Ungkap 56 Ton Partikel Mikroplastik Hujani Gunung Everest Sepanjang Tahun
Pemerintah
BRIN Kembangkan Teknologi Berbasis Karbon dan Jamur untuk Urai Limbah
BRIN Kembangkan Teknologi Berbasis Karbon dan Jamur untuk Urai Limbah
LSM/Figur
Masjid Indonesia Bidik Kontribusi 1 GW Energi Surya
Masjid Indonesia Bidik Kontribusi 1 GW Energi Surya
Pemerintah
PBB: 80 Persen Pekerja Rumah Tangga Tak Punya Perlindungan Kerja Formal
PBB: 80 Persen Pekerja Rumah Tangga Tak Punya Perlindungan Kerja Formal
Pemerintah
Kadar Gas Rumah Kaca Capai Rekor Tertinggi Baru pada 2025v
Kadar Gas Rumah Kaca Capai Rekor Tertinggi Baru pada 2025v
Pemerintah
Beras Rendah Emisi Berpeluang Masuk Pasar Ritel, Pendapatan Petani Bisa Naik
Beras Rendah Emisi Berpeluang Masuk Pasar Ritel, Pendapatan Petani Bisa Naik
LSM/Figur
Pemkot Surakarta dan Konsorsium Filantrofi Dorong Transisi Sanitasi Aman
Pemkot Surakarta dan Konsorsium Filantrofi Dorong Transisi Sanitasi Aman
Pemerintah
K-24 Grup dan Danone Indonesia Dukung Pemenuhan Nutrisi Anak Pascabencana di NTT
K-24 Grup dan Danone Indonesia Dukung Pemenuhan Nutrisi Anak Pascabencana di NTT
Swasta
Restorasi Gambut dan Pemantauan Udara Diperlukan untuk Penanganan Karhutla Jangka Panjang
Restorasi Gambut dan Pemantauan Udara Diperlukan untuk Penanganan Karhutla Jangka Panjang
LSM/Figur
PBB: Daya Serap Karbon Samudra Kian Menurun akibat Krisis Iklim
PBB: Daya Serap Karbon Samudra Kian Menurun akibat Krisis Iklim
Pemerintah
Skor Daya Saing Karbon RI Terendah di ASEAN, Tertinggal Jauh dari Filipina
Skor Daya Saing Karbon RI Terendah di ASEAN, Tertinggal Jauh dari Filipina
LSM/Figur
ESG di Asia Tak Lagi Sekadar CSR, Kini Terintegrasi ke Jantung Bisnis
ESG di Asia Tak Lagi Sekadar CSR, Kini Terintegrasi ke Jantung Bisnis
Swasta
Nilai yang Tinggal di Tanah Nikel
Nilai yang Tinggal di Tanah Nikel
Swasta
UNBL dan Uniska Dampingi Warga Al Kautsar Olah Potensi Desa Jadi Produk Bernilai
UNBL dan Uniska Dampingi Warga Al Kautsar Olah Potensi Desa Jadi Produk Bernilai
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau