Climate & Nature Lead PAA Claire Oei mengatakan, petani akan lebih terdorong mengubah cara budi daya ketika mengetahui adanya pembeli yang siap menyerap hasil panen mereka.
“Bagi lembaga filantropi, tantangannya adalah mengidentifikasi bagian-bagian dalam rantai nilai di mana pendanaan awal dapat memberikan dampak terbesar untuk membawa beras rendah emisi ke rak-rak supermarket," tutur Claire.
Untuk mendukung produksi, laporan tersebut juga mengusulkan skema perlindungan risiko kerugian tahap pertama atau first-loss cover. Skema ini dirancang untuk menanggung dampak gagal panen serius selama petani beradaptasi dengan metode baru.
Baca juga: Skor Daya Saing Karbon RI Terendah di ASEAN, Tertinggal Jauh dari Filipina
Dukungan juga perlu mencakup pelatihan agar praktik rendah emisi tetap diterapkan setelah masa uji coba berakhir.
Skema pembiayaan dirancang untuk berkembang seiring bertambahnya bukti keberhasilan di lapangan.
Jika penerapan pada lahan seluas 10.000 hektare berhasil, model ini berpotensi menarik keterlibatan lebih besar dari lembaga pembiayaan pembangunan dan pemberi pinjaman multilateral. Pembiayaan komersial juga diharapkan mengambil peran lebih besar apabila model tersebut terus menunjukkan kelayakan ekonomi.
Dalam skenario penerapan penuh pada lahan seluas 10.000 hektare, laporan tersebut memperkirakan model ini dapat menjangkau sekitar 40.000 petani kecil.
Pemodelan juga memperkirakan potensi surplus bersih petani mencapai 40,5 juta dollar AS atau sekitar Rp 737 miliar, serta margin kotor pengolahan sebesar 15 juta dollar AS atau sekitar Rp 270 miliar setiap tahun.
Dari sisi lingkungan, model tersebut diperkirakan dapat mengurangi emisi sebesar 40.000-60.000 ton setara karbon dioksida (tCO2e) dan menghemat air irigasi sebanyak 50-90 juta meter kubik.
Senior Manager, Food Initiatives di World Economic Forum Noopur Desai mengatakan, pengembangan rantai nilai beras yang tangguh dan berkelanjutan dapat memberikan manfaat bagi petani sekaligus menjaga kepastian pasokan.
“Dari sisi ekonomi, manfaatnya jelas: membangun rantai nilai beras yang tangguh dan berkelanjutan dapat meningkatkan kesejahteraan petani kecil sekaligus menjaga kepastian pasokan,” ucap Noopur.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya