Menurut dia, antibiotik diciptakan untuk membantu dan menolong manusia. Karena itu, penggunaannya perlu dilakukan secara bijak, sesuai resep dan petunjuk dokter, bukan berdasarkan perkiraan sendiri.
Pengendalian resistansi antimikrob, kata Hadri, membutuhkan pendekatan terpadu yang mencakup manusia, hewan, dan lingkungan. Pemanfaatan teknologi genomik dapat membantu memetakan gen resistansi sekaligus mendukung penyusunan kebijakan pengendalian yang lebih tepat melalui pendekatan One Health.
Selain penggunaan antibiotik, pencemaran lingkungan oleh residu antibiotik juga menjadi salah satu aspek yang perlu diperhatikan dalam pengendalian resistansi antimikrob.
Pakar pencemaran dan ekotoksikologi IPB University, Etty Riani, mengatakan residu antibiotik dalam limbah medis dapat bertahan di lingkungan selama periode tertentu. Jika masuk ke badan air, residu tersebut berpotensi memengaruhi mikroorganisme yang hidup di dalam ekosistem.
Menurut Etty, mikroorganisme yang berperan menjaga keseimbangan ekosistem dapat terdampak. Sementara itu, mikroorganisme yang mampu bertahan terhadap paparan antibiotik berpotensi menjadi resisten.
Baca juga: Bakteri Sangat Berbahaya Bocor dari Lab Siberia Rusia, Tewaskan Peneliti
“Kalau yang mengandung residu antibiotik, tentu ini sangat membahayakan. Yang bisa membantu kita hilang, sementara yang bandel dan akan merusak ekosistem itu justru resisten, menjadi kebal,” tutur Etty kepada Kompas.com, Selasa (18/8/2026).
Etty juga mengingatkan potensi risiko melalui rantai makanan. Residu yang masuk ke perairan dapat terpapar pada organisme perairan, termasuk ikan. Apabila organisme dari perairan tercemar tersebut dikonsumsi manusia, paparan residu antibiotik berpotensi terjadi melalui makanan.
Karena itu, pengendalian resistansi antimikrob tidak hanya berkaitan dengan penggunaan antibiotik pada manusia dan hewan, tetapi juga perlu memperhatikan pengelolaan limbah serta kondisi lingkungan.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya