KOMPAS.com - Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis (SKHB) IPB University menemukan gen resistansi antimikrob pada bakteri Escherichia coli (E coli) dari ekosistem tempat pemotongan hewan di Provinsi Banten.
Temuan ini menunjukkan potensi penyebaran gen resistansi di antara sektor hewan, lingkungan, dan manusia yang perlu diwaspadai.
Guru Besar SKHB IPB University, Hadri Latif, mengatakan salah satu jalur perpindahan mikroorganisme yang telah resistan terhadap antimikrob adalah melalui pangan.
Baca juga: Air Tercemar E. Coli, Warga Serpong Lagoon Tangsel Tuntut Ganti Rugi Rp 539 Juta ke Pengelola WTP
Gen resistansi juga dapat berpindah dari satu bakteri ke bakteri lain melalui mekanisme transfer gen horizontal, salah satunya konjugasi.
Perpindahan gen tersebut berpotensi membuat bakteri penyebab penyakit menjadi kebal terhadap antimikrob tertentu. Akibatnya, infeksi yang ditimbulkan dapat menjadi lebih sulit diobati.
Temuan tersebut merupakan bagian dari penelitian Hadri yang dilakukan di Banten sejak 2023 dengan judul “Membaca Jejak Resistansi Antimikrob: Pendekatan Genomik untuk Kebijakan Berbasis "One Health di Indonesia”.
Penelitian ini mengintegrasikan analisis genomik bakteri dari sektor manusia, hewan, dan lingkungan.
Dalam penelitian tersebut, Hadri menggunakan teknologi whole-genome sequencing (WGS) untuk membaca materi genetik bakteri secara menyeluruh. Teknologi ini membantu mengidentifikasi gen resistansi antimikrob (ARG), lokasi gen pada plasmid atau kromosom, serta potensi resistansi terhadap beberapa kelas antimikrob sekaligus.
Hasil penelitian menemukan gen resistansi yang berkaitan dengan 12 kelas antimikrob pada sampel dari tempat pemotongan babi.
Potensi resistansi terhadap tiga kelas antimikrob atau lebih (multidrug resistance/MDR) mencapai 90 persen pada isolat hewan, 40 persen pada isolat lingkungan, dan 12,7 persen pada isolat manusia.
“Pada isolat E coli dari hewan dan lingkungan, sekitar 85 persen gen resistansinya ditemukan pada plasmid,” ujar Hadri, dilansir dari laman resmi IPB University, Senin (2/11/2026).
Baca juga: Bangkok Kembali Temukan Bakteri Listeria di Jamur Enoki, Ini Gejala dan Risiko Infeksinya
Plasmid merupakan materi genetik yang dapat berperan dalam perpindahan gen resistansi antarbakteri. Hasil penelitian juga menunjukkan perubahan profil gen resistansi antara 2023 dan 2026.
Gen mcr-1.1 yang berkaitan dengan resistansi terhadap kolistin terdeteksi pada 2023, tetapi tidak lagi ditemukan pada 2026. Hadri menyebut perubahan tersebut selaras dengan penghentian penggunaan kolistin pada hewan.
Hadri mengingatkan masyarakat agar tidak menggunakan antibiotik secara sembarangan, termasuk untuk mengatasi batuk dan pilek.
“Batuk pilek belum tentu penyebabnya bakteri bahkan penyebab utamanya adalah virus. Padahal, virus tidak bisa diobati dengan antibiotik,” tutur Hadri.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya