KOTAWARINGIN TIMUR, KOMPAS.com – Asap putih tebal masih mengepul dari lahan di Desa Kenyala, Kecamatan Telawang, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, Kamis (10/9/2026), sekitar pukul 12.00 WIB.
Di tengah sengatan sinar Matahari, debu, dan kepulan asap, sejumlah petugas pemadam berbaju merah berjibaku menyisir lahan yang masih terbakar. Selang panjang ditarik melewati semak dan batang-batang pohon yang hangus. Air terus disemprotkan ke titik-titik yang masih mengeluarkan asap.
Tak jauh dari area terbakar, beberapa petugas duduk di pinggir jalan tanah. Mereka beristirahat sejenak untuk memulihkan tenaga sebelum kembali menghadapi asap dan panas di lokasi pemadaman. Salah satunya adalah Ahmad Fahrul (25).
Ahmad bukanlah petugas pemadam kebakaran, melainkan karyawan di bagian audit dan sertifikasi Musim Mas Group. Sejak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) merebak di Kalimantan Tengah, ia dan karyawan Musim Mas Group lain ikut terjun membantu memadamkan api.
Hawa panas, kata Ahmad, bukan satu-satunya tantangan. Asap menjadi lawan yang tidak kalah berat. Semakin pekat asap, maka kian sulit pula petugas bertahan di lokasi.
“Kalau asapnya semakin tebal, masker ataupun kacamata itu kadang bisa tembus juga. Asap ini yang lebih berbahaya,” ujar Ahmad kepada Kompas.com, Kamis.
Belum lagi pakaian pelindung yang dikenakan terasa berat sehingga menambah beban di tengah kondisi tersebut. Meski begitu, upaya Ahmad dan karyawan Musim Mas Group lain tidak pernah surut. Bagi mereka, keterlibatan dalam pemadaman sudah menjadi bagian dari komitmen bersama untuk membantu menangani karhutla yang terjadi di Kalimantan Tengah.
Kondisi di Kenyala hanyalah satu potongan dari persoalan karhutla di Kalimantan Tengah. Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kalimantan Tengah menunjukkan, sejak Kamis (1/1/2026) hingga Senin (7/9/2026) tercatat 104.140 titik panas atau hotspot di provinsi tersebut.
Pada periode sama, terdapat 2.698 kejadian karhutla dengan luas area terbakar berdasarkan laporan lapangan mencapai 8.139,12 hektare.
Kotawaringin Timur menjadi daerah dengan jumlah hotspot kumulatif terbanyak di Kalimantan Tengah, yakni 20.570 titik. Kabupaten ini juga mencatat 519 kejadian karhutla dengan luas area terbakar mencapai 2.423,24 hektare, tertinggi di provinsi tersebut.
Lonjakan terbesar terjadi pada Agustus 2026. Sepanjang bulan itu, Kalimantan Tengah mencatat 71.350 hotspot, 1.444 kejadian karhutla, dan 4.898,06 hektare lahan terbakar.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan bahwa September 2026 masih menjadi fase kritis karhutla di Indonesia, termasuk di Kalimantan. Kondisi cuaca kering yang masih dominan, jumlah hotspot yang tinggi, dan pengaruh El Nino menjadi faktor yang perlu terus diwaspadai. Bahkan, fenomena El Nino diprediksi masih akan bertahan hingga awal 2027.
Saat ditemui tim Kompas.com, Pelaksana Harian (Plh) Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Kotawaringin Timur Rihel Magat mengatakan, pemerintah daerah telah menetapkan status tanggap darurat karhutla sejak Kamis (30/7/2026).
Status tersebut kemudian diperpanjang hingga September 2026 dengan mempertimbangkan jumlah kejadian, kondisi muka air, serta prakiraan cuaca.
Rihel melanjutkan, penanganan karhutla tidak mungkin hanya dibebankan kepada pemerintah pusat dan daerah.
“Penanganan karhutla ibarat kelompok kerja. Jadi, perlu ada kolaborasi lintas sektor, termasuk pihak swasta,” ucapnya.
Musim Mas Group memfasilitasi helikopter untuk melakukan water bombing sebagai bagian dari upaya pemadaman karhutla di Kalimantan Tengah.Manager Survey yang juga menjadi Koordinator Penanggulangan Karhutla Musim Mas Group Wilayah Kalimantan Bangun Hapsoro menuturkan, sebagai perusahaan yang beroperasi di Kalimantan Tengah, pihaknya merespons masalah karhutla dengan cepat. Respons ini pun tidak hanya dilakukan di dalam kawasan konsesi saja.
Sejak Rabu (8/7/2026), lebih dari 1.000 personel dari operasional Musim Mas Group di Kalimantan Tengah telah dilibatkan dalam penanganan karhutla di 13 desa.
Desa tersebut adalah Desa Sebabi, Kenyala, Tanah Putih, Hanjalipan, Tangar, Baampah, Penyang, Camba, Soren, Bagendang Tengah, Natai Baru, Palangan, dan Kandan.
Selain melakukan pemadaman, Musim Mas Group juga menyalurkan bantuan peralatan pemadam kepada 14 desa di sekitar wilayah operasionalnya. Bantuan ditujukan untuk memperkuat kesiapsiagaan masyarakat agar dapat melakukan penanganan awal ketika kebakaran terjadi.
Peralatan yang diberikan meliputi mesin pompa air atau alkon, selang, nozzle, serta perlengkapan penunjang pemadaman lainnya.
Personel yang diterjunkan juga berasal dari berbagai fungsi perusahaan, seperti Achmad. Oleh karena itu, karyawan dibekali pelatihan pemadaman secara berkala.
Bangun melanjutkan, pelatihan tetap dilakukan meskipun tidak sedang terjadi kebakaran, termasuk mengenai penggunaan peralatan pemadam. Mobilisasi tersebut, lanjutnya, membuat sebagian karyawan harus meninggalkan sementara pekerjaan rutinnya.
“(Pekerjaan aslinya) jelas terganggu. Namun, ini merupakan komitmen kami untuk menangani karhutla ini dengan cepat,” ucapnya.
Selain menerjunkan 1.000 personel untuk memadamkan kebakaran, perusahaan juga mengerahkan 16 mobil pemadam kebakaran, memfasilitasi satu helikopter untuk water bombing, serta menyediakan alat berat untuk membuat sekat bakar guna membantu memutus penyebaran api.
Dukungan juga diberikan untuk memperkuat penanganan yang dilakukan pemerintah daerah. Perusahaan menyerahkan satu unit mobil tangki air dan satu unit water cannon atau mobil tembak kepada BPBD Kabupaten Kotawaringin Timur.
Rihel mengapresiasi keterlibatan Musim Mas Group dalam penanganan karhutla, termasuk dukungan peralatan yang diberikan kepada pemerintah daerah, kecamatan, dan desa-desa.
“Bagi kami, pemerintah daerah sangat bersyukur dibantu dengan peralatan sampai ke desa-desa, sampai kecamatan. Artinya, tugas kami juga agak ringan,” ujar Rihel.
Khusus di Desa Kenyala, sekitar 40–50 personel dikerahkan untuk menangani kebakaran. Asisten Kepala Training Center Musim Mas Group dan Koordinator Regu Pemadam Kebakaran Musim Mas Group Suparman mengatakan, tim telah bergerak sejak kebakaran diketahui pada Minggu (6/9/2026).
Pemadaman karhutla bukan pekerjaan sekali siram lalu selesai, terlebih jika kebakaran terjadi di lahan gambut. Adapun lahan gambut terdiri dari susunan sisa vegetasi selama ribuan tahun. Saat kemarau melanda, sisa vegetasi itu menjadi bahan bakar padat. Ketika terbakar dan merembet hingga ke bawah tanah, apinya menjadi sulit terbakar. Ditambah lagi dengan faktor embusan angin dan ketersediaan air yang menipis akibat kemarau panjang.
Berdasarkan pemantauan Kompas.com di lapangan, api yang sempat mereda dapat kembali muncul. Asap masih mengepul di sejumlah titik sehingga petugas harus terus menyisir lahan dan melakukan pembasahan.
Kondisi itu semakin menantang karena sumber air di sekitar lokasi telah mengering. Air menjadi kebutuhan utama, sedangkan pasokannya harus didatangkan menggunakan mobil tangki.
“Air yang paling sangat kami butuhkan untuk memadamkan api yang terjadi saat ini,” kata Suparman.
Menurut dia, tim menggunakan berbagai cara untuk mengejar api, mulai dari mobil pemadam hingga ember untuk menangani api-api kecil. Ketika sumber air tidak tersedia, air dari sungai atau parit diangkut menggunakan mobil tangki.
Upaya pemadaman dari darat kemudian diperkuat dengan water bombing dari udara. Kapten Helikopter Samsul Sabirin mengatakan, air dibawa menggunakan bambi bucket berkapasitas sekitar 800 liter. Namun, efektivitas pemadaman sangat bergantung pada jarak sumber air dari titik kebakaran.
Saat operasi di sekitar Kenyala, helikopter harus menempuh jarak sekitar 8 km untuk mengambil air. Dalam satu jam penerbangan, helikopter hanya sempat melakukan tiga kali water bombing.
Jarak tersebut menjadi tantangan tersendiri. Menurut Samsul, ketika helikopter kembali mengambil air, titik yang sebelumnya sudah disiram bahkan bisa kembali menyala sebelum helikopter tiba lagi.
“Harapan kita sumber airnya lebih dekat, lebih efektif,” ujarnya.
Di lokasi lain dengan sumber air yang lebih dekat, Samsul pernah melakukan 12 kali water bombing dalam sekitar 40 menit.
Di Kenyala, selain jarak dengan sumber air, operasi pemadaman api juga sangat bergantung pada jarak pandang. Pasalnya, asap yang terlalu tebal dapat membuat helikopter tidak dapat mendekati titik kebakaran.
Karena itulah, lanjut Samsul, pemadaman dari udara tidak menggantikan kerja tim di darat. Setelah air dijatuhkan, petugas tetap harus menyisir dan membasahi titik-titik yang masih mengeluarkan asap agar api tidak kembali membesar.
Paparan asap yang berlangsung selama kebakaran turut menimbulkan persoalan kesehatan bagi masyarakat.
Untuk membantu masyarakat yang terdampak asap, Senior Manager Hubungan Masyarakat Musim Mas Group Susanto Fitriadi mengatakan, pihaknya mendirikan posko kesehatan dengan menggandeng puskesmas dan dinas kesehatan setempat.
Dalam kurun sekitar satu pekan, perusahaan menjalankan posko di lima lokasi. Salah satunya berada di Desa Bagendang Tengah, Kecamatan Mentaya Hilir Utara.
Salah satu warga yang datang adalah Aliansyah (65). Ia mengaku merasakan sesak napas setelah kebakaran berlangsung selama sekitar satu bulan.
“Dampaknya sangat buruk bagi kesehatan kami. Kami merasakan sesak napas dan batuk,” ucapnya.
Susanto melanjutkan, posko tersebut menyediakan pemeriksaan dan pengobatan gratis bagi masyarakat terdampak karhutla.
“Tujuan kami adalah membantu masyarakat yang terdampak kebakaran hutan dan lahan,” tuturnya.
Adapun layanan yang disiapkan meliputi pemeriksaan kesehatan, pemberian obat-obatan, vitamin dan masker, hingga oksigen bagi warga yang membutuhkan. Target pelayanan setiap posko berkisar 100–120 orang.
Dokter Musim Mas Group dr Yulin Effendy menambahkan, masyarakat juga dapat menjalani pemeriksaan laboratorium sederhana berupa pengecekan gula darah, asam urat, dan kolesterol.
Apabila diperlukan, berdasarkan hasil pemeriksaan, pasien dengan keluhan pernapasan juga dapat memperoleh tindakan oksigenasi ataupun nebulisasi.
Menurut Yulin, rata-rata sekitar 100 warga datang ke setiap posko. Sekitar 30–40 persen di antaranya mengalami keluhan pernapasan berupa batuk dan sesak napas.
Musim Mas Group mendirikan posko kesehatan bersama puskesmas dan dinas kesehatan untuk membantu masyarakat terdampak karhutla.Salah satu lapis pertama pencegahan kebakaran adalah mengetahui potensi kebakaran sedini mungkin.
Musim Mas Group memiliki sekitar 154 menara pemantau api (fire tower) di wilayah operasionalnya di Kalimantan Tengah. Setiap menara digunakan untuk memantau area sekitar 600 hektare.
Frekuensi pemantauan disesuaikan dengan tingkat risiko kebakaran. Ketika kondisi semakin kering, patroli dari menara dilakukan lebih sering. Pada kondisi ekstrem, pemantauan dapat dilakukan lima kali sehari, bahkan bisa lebih.
Pengamatan visual tersebut dilengkapi dengan pemantauan hotspot. Namun, keberadaan hotspot tidak selalu berarti ada api. Titik panas merupakan anomali panas yang masih harus diverifikasi.
Ketika hotspot terdeteksi, tim diterjunkan untuk melakukan pengecekan langsung. Jika wilayah sulit dijangkau, drone digunakan untuk melihat kondisi dari udara.
Selain menara pemantau api, Musim Mas Group memiliki 201 embung sebagai bagian dari kesiapsiagaan menghadapi kebakaran. Setiap embung disiapkan untuk mendukung area sekitar 500 hektare.
Keberadaan embung menjadi penting pada musim kemarau karena sumber air alami dapat menyusut atau mengering.
Perusahaan juga menerapkan Zero Burning Policy yang melarang penggunaan api dalam pembukaan lahan di area operasional. Sistem pencegahan tersebut dilengkapi dengan patroli, kesiapan regu pemadam, serta pelatihan personel.
Selain memperkuat mitigasi di area operasional, Musim Mas Group juga melibatkan masyarakat sekitar dalam upaya pencegahan karhutla melalui Program Masyarakat Bebas Api yang telah berjalan sejak 2015. Program ini kini mencakup 29 desa di Kalimantan Tengah.
Asisten Kepala Humas sekaligus Koordinator Pencegahan Kebakaran Musim Mas Group Harlim Tubagus Simamora menjelaskan, melalui program ini, perusahaan memberikan edukasi mengenai risiko kebakaran, mendorong pembukaan lahan tanpa bakar, serta menggelar pelatihan pemadaman bagi masyarakat secara rutin dua kali setahun.
Setiap tahun, desa peserta membuat kesepakatan dengan perusahaan untuk menjaga wilayahnya dari karhutla. Desa yang berhasil mempertahankan wilayahnya tetap aman dari kebakaran berhak memperoleh reward berupa bantuan sesuai kebutuhan desa. Salah satu desa peserta adalah Desa Simpur.
Harlim mengatakan, Simpur menjadi salah satu desa yang paling konsisten menjaga wilayahnya dari kebakaran. Keberhasilan ini ditopang pendekatan persuasif pemerintah desa kepada masyarakat.
Kepala Desa Simpur Khairil Anwar menuturkan, sosialisasi tidak hanya dilakukan melalui pertemuan formal. Pemerintah desa juga mendatangi warga secara langsung, termasuk ketika mereka beraktivitas di kebun atau ladang.
“Kalau yang selama ini saya lakukan, saya datang langsung secara perorangan, kami datang langsung ke lahan. Kami komunikasi, menjalin kesamaan persepsi untuk sama-sama menjaga agar tidak terjadi kebakaran,” ujar Khairil.
Berkat pendekatan tersebut, tidak ada kebakaran yang disebabkan oleh warga Desa Simpur. Kesiapsiagaan turut diperkuat melalui patroli warga.
Desa dan Ketua Patroli Desa Simpur Syahril menerangkan, sekitar enam hingga delapan anggota melakukan patroli secara bergantian dari pagi hingga malam. Jika menemukan asap, tim segera berkoordinasi dengan pemerintah desa. Drone juga digunakan untuk memeriksa lokasi yang sulit dijangkau pandangan mata.
Simpur juga menjadi salah satu desa yang paling sering memperoleh reward dari Program Masyarakat Bebas Api. Pemanfaatannya ditentukan melalui musyawarah desa dan digunakan untuk kebutuhan masyarakat, antara lain perbaikan jalan, rumah ibadah, ataupun infrastruktur lainnya.
Di luar program tersebut, Musim Mas Group turut mendampingi pekebun swadaya untuk menerapkan good agricultural practices (GAP), termasuk mendorong pembukaan dan pengelolaan lahan tanpa praktik tebang dan bakar.
Harlim berharap, pola pencegahan yang diterapkan di Simpur dapat direplikasi di desa lain.
“Dengan demikian, kebakaran tidak terjadi di desa lain,” ujarnya.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya