Capaian Proyek Restorasi Ekosistem Riau Lindungi Lahan Basah di Riau

Kompas.com - 07/02/2025, 13:24 WIB
Yogarta Awawa Prabaning Arka,
Agung Dwi E

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Lahan basah atau wetlands merupakan ekosistem yang penting bagi kelestarian alam dan kehidupan manusia.

Untuk mengingat peran penting lahan basah, 2 Februari pun ditetapkan sebagai World Wetlands Day atau Hari Lahan Basah Sedunia. Tanggal itu dipilih untuk memperingati penandatangan Konvensi Lahan Basah Ramsar di Ramsar, Iran, 2 Februari 1971.

Pada 2025, World Wetlands Day mengusung tema “Melindungi Lahan Basah Demi Masa Depan Kita Bersama”. Tema ini dipilih untuk menegaskan signifikansi perlindungan dan pemulihan lahan basah demi keberlanjutan fungsi ekosistem.

Menurut Ramsar Convention on Wetlands, sekitar 12,1 juta kilometer persegi area dunia merupakan lahan basah. Lahan ini menjadi rumah bagi lebih dari 40 persen spesies di dunia dan berperan penting dalam merespons perubahan iklim.

Salah satu contoh lahan basah adalah lahan gambut yang merupakan penyerap karbon paling efektif. Meski hanya mencakup 3 persen permukaan bumi, Ramsar Convention on Wetlands mencatat bahwa lahan gambut menyimpan hampir 30 persen dari seluruh karbon alami.

Selain itu, lahan gambut yang sehat juga dapat menyimpan air hingga empat kali lebih banyak ketimbang jenis tanah lain. Lahan ini juga menjadi habitat bagi berbagai populasi satwa liar dan tanaman.

Indonesia sendiri merupakan salah satu negara dengan luas lahan gambut terbesar di dunia. Untuk menjaga kelestariannya, sebuah proyek restorasi hutan gambut seluas 150.693 ha atau sekitar dua kali luas Singapura, yaitu Restorasi Ekosistem Riau (RER), pun diinisiasi oleh produsen kertas PaperOne, APRIL Group, pada 2013 di Riau.

Program RER bertujuan untuk menjaga, melindungi, dan memulihkan hutan gambut yang terdegradasi di Semenanjung Kampar dan Pulau Padang, Provinsi Riau.

Selama lebih dari satu dekade, RER telah melakukan berbagai upaya untuk menjaga dan memulihkan ekosistem gambut. Berikut adalah beberapa capaian RER.

1. Perlindungan keanekaragaman hayati

Kawasan RER di Semenanjung Kampar menjadi rumah bagi 896 spesies flora dan fauna, termasuk spesies yang terancam punah menurut daftar International Union for Conservation of Nature (IUCN).

Untuk mengidentifikasi keanekaragaman hayati, RER melakukan sejumlah upaya, salah satunya mengadopsi teknologi kamera jebak. Melalui kamera jebak, RER dapat mengamati satwa liar di habitat alami tanpa mengganggu mereka.

Beberapa spesies yang dapat ditemukan di kawasan RER adalah Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae), Beruang Madu (Helarctos malayanus), dan Kucing Kepala Datar (Prionailurus planiceps).

2. Restorasi hutan terdegradasi

RER memiliki fokus untuk merestorasi situs hutan terdegradasi. Salah satunya adalah area Makmur yang terdegradasi akibat pembuatan kanal liar, penebangan intensif, dan kebakaran di masa lalu.

Kawasan tersebut mengalami kemajuan signifikan sejak proses restorasi situs makmur dilakukan pada 2017.RER berhasil meningkatkan kepadatan pohon hampir tiga kali lipat melalui penanaman dari 192 pohon per ha menjadi 518 pohon per ha.

Selain itu, RER juga melakukan penutupan kanal untuk menjaga kelembapan gambut dan meminimalisasi ancaman kebakaran serta potensi emisi karbon.

RER juga telah membangun 87 bendungan yang berhasil menutup 28 kanal dengan total panjang mencapai 148,6 km. Inisiatif ini berdampak positif pada lahan gambut seluas 9.369 ha.

3. Penghidupan berkelanjutan untuk masyarakat

Menurut Laporan Kemajuan RER 2023, terdapat lebih dari 50.000 orang yang tinggal di sekitar kawasan RER. Partisipasi dan keterlibatan masyarakat pun menjadi kunci dalam upaya keberhasilan konservasi.

Pada 2023, RER bekerja sama dengan Hutan Desa (HD) Segamai, sebuah desa di Provinsi Riau yang mendapatkan izin pengelolaan HD pada 2017.

Kerja sama tersebut dilakukan karena keterbatasan kapasitas masyarakat untuk melindungi dan mengelola area hutan desa.

Kemitraan tersebut memberikan dukungan teknis dan finansial, seperti pelatihan perlindungan hutan, identifikasi satwa liar, pengelolaan hutan, dan pemanfaatan produk hutan bukan kayu.

4. Pengembangan penelitian lahan gambut tropis

APRIL berkomitmen mengembangkan ilmu pengetahuan lahan gambut tropis melalui riset dan kolaborasi dengan ilmuwan dan akademisi nasional dan internasional serta pemangku kepentingan.

Salah satu pencapaian terbarunya adalah publikasi riset ilmiah di jurnal bergengsi, Nature. Pada jurnal ini, tim riset lahan gambut APRIL bersama ilmuwan internasional memublikasikan dampak perubahan penggunaan lahan terhadap aliran gas rumah kaca (GRK) di lahan gambut tropis Sumatera.

APRIL juga telah menyelesaikan pembangunan Eco-Research Camp di Semenanjung Kampar untuk mendukung kemajuan penelitian lahan gambut tropis pada 2021.

Eco-Research Camp itu menyediakan fasilitas bagi ilmuwan untuk mempelajari keanekaragaman hayati dan habitatnya serta berkontribusi dalam upaya restorasi lahan gambut tropis di Indonesia.

Lanskap yang Berkembang

Penyelenggaraan proyek restorasi dan konservasi tersebut tidak lepas dari komitmen APRIL pada Perjanjian Iklim di Konferensi Perubahan Iklim PBB Paris pada 2015 atau COP21 di Paris.

Pada konferensi tersebut, APRIL berkomitmen menginvestasikan dana sebesar 100 juta dollar AS untuk upaya konservasi dan restorasi RER selama 10 tahun.

Komitmen tersebut merupakan bagian dari inisiatif Sustainable Forest Management Policy (SFMP) 2.0 yang dirilis APRIL Group sejak 2015.

Dalam komitmennya, APRIL menargetkan 1-for-1, yakni merestorasi dan mengonservasi hutan alam seluas area hutan produksi yang dikelola APRIL. Hingga awal 2025, realisasi restorasi hutan mencapai 82 persen dari target.

Selain itu, komitmen APRIL terhadap upaya konservasi dan restorasi semakin kuat dengan peluncuran komitmen satu dekade APRIL2030 pada 2020.

Pada pilar Lanskap yang Berkembang, APRIL berkomitmen memperluas investasi untuk konservasi lanskap, mencapai hasil positif dalam keanekaragaman hayati, mendukung perlindungan satwa liar di Indonesia, serta mengembangkan ilmu pengetahuan lahan gambut tropis.

Komitmen tersebut diperkuat APRIL2030 melalui inisiatif 1 dollar per ton. Pada program ini, satu dollar AS akan diinvestasikan untuk setiap ton serat yang dipanen. Hingga kini, pendanaan ini telah mengumpulkan sekitar 35 juta dollar AS untuk mendukung program restorasi dan konservasi.

Pada COP29 di Baku, Azerbaijan, Direktur Utama PT Riau Andalan Pulp and Paper, unit operasional APRIL Group, Sihol Aritonang, mengatakan bahwa perlindungan kawasan RER menjadi bagian penting dari strategi perusahaan dalam mendukung pencapaian FOLU Net Sink 2030.

“Pendekatan tersebut efektif karena sumber daya dari hutan produksi dapat dimanfaatkan untuk melindungi hutan alam,” kata Sihol.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi Akun
Proteksi akunmu dari aktivitas yang tidak kamu lakukan.
199920002001200220032004200520062007200820092010
Data akan digunakan untuk tujuan verifikasi sesuai Kebijakan Data Pribadi KG Media.
Verifikasi Akun Berhasil
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau