KOMPAS.com - Musibah menjadi titik balik Nurdini Prihastiti (35). Semula bernisnis dalam bidang konveksi seragam sekolah, kini dia berhasil lewat Dama Kara, brand fashion yang bukan sekadar sukses secara bisnis, tetapi juga inklusif dan berdampak sosial.
Nurdini membagikan kisah inspiratifnya saat menerima Kompas.com dalam acara Diplomat Success Challenge (DSC) Season 16 bertajuk “Eksplorasi Langsung Wirausaha Lokal Inspiratif di Bandung”, Senin (2/6/2025).
Titik balik Dini terjadi pada 2019. Saat itu, ia mendapatkan pesanan besar untuk dikirim ke Kalimantan. Namun, pengangkutan barang tersebut mengalami kecelakaan—kapalnya terbakar di Laut Masalembu. Kerugian besar itu menjadi pukulan telak bagi bisnisnya.
Bagi Dini, musibah itu bukan sekadar kegagalan teknis. Ia memaknainya sebagai teguran, bahwa selama ini ia belum memberi manfaat yang cukup bagi orang lain, meskipun bisnisnya sudah memberikan banyak untuk dirinya sendiri.
Dari keinginan menebar manfaat itulah Dama Kara lahir. Berbasis di Bandung, brand ini memproduksi batik cap dan membuka ruang belajar bagi anak-anak berkebutuhan khusus.
“Dama itu artinya kebajikan. Sedangkan Kara diambil dari kelapa, yang seluruh bagiannya bisa bermanfaat. Dari mulai buahnya, airnya, tempurungnya, bahkan hingga serabutnya. Saya ingin Dama Kara juga begitu,” tuturnya.
Memberi Ruang bagi yang Berkebutuhan Khusus
Salah satu fokus utama Dama Kara adalah menyediakan ruang menggambar bagi anak-anak berkebutuhan khusus. Bagi Dini, aktivitas menggambar bukan hanya bentuk ekspresi, tetapi juga terapi yang membantu anak-anak dengan kebutuhan khusus.
Ia terinspirasi dari Iris Grace, seorang anak dengan autisme asal Inggris, yang karya seninya dikenal luas dan menjadi fondasi terbentuknya bisnis seni yang mendukung ekspresi anak-anak berkebutuhan khusus.
“Setelah mencari tahu, ternyata di Indonesia belum banyak tempat seperti itu,” ucapnya.
Tahun yang sama, Dini bersama suaminya mulai bekerja sama dengan yayasan yang menaungi anak-anak berkebutuhan khusus. Mereka menyediakan ruang terapi menggambar secara gratis, lengkap dengan pendampingan guru khusus.
Baca juga: Kurangi Sampah “Fast Fashion” lewat Gerakan Barter Pakaian
“Setelah berhasil bekerja sama dengan satu yayasan, kami mengalokasikan sebagian pendapatan kami untuk mendukung kegiatan ini,” jelas Dini.
Inilah awal mula jembatan antara bisnis dan kebermanfaatan terbentuk.
“Mereka memiliki istimewaan dan pintar dengan caranya sendiri. Karena itu, kami juga memperkenalkan karya mereka sebagai bagian dari koleksi Dama Kara,” ujar Dini.
Anak-anak berkebutuhan khusus ini pun mendapat royalti dari karya yang digunakan dalam desain produk Dama Kara—mulai dari baju, pin, gantungan kunci, sapu tangan, hingga amplop.
“Namun, tidak semua karya dipakai. Mereka kan unik. Ada yang bisa dijadikan desain, ada yang tidak. Dan itu nggak masalah,” urai Dini.
Tak berhenti sampai di sana, Dini juga memberdayakan teman-teman disabilitas dan ibu-ibu dari desa dalam proses produksi. Mereka diajak membuat desain sashiko, seni jelujur dari Jepang, yang diaplikasikan ke produk fashion.
“Saat ini kami bekerja sama dengan teman tuli sebagai kreator desain sashiko, bernama Salma. Selain itu, kami juga menggandeng ibu-ibu dari desa kecil di Garut untuk membuat desain yang sama,” jelas Dini.
Prosesnya dilakukan kolaboratif: baju polos dibuat di Bandung, lalu dikirim ke Garut untuk diberi sentuhan sashiko, sebelum kembali lagi ke Bandung untuk dipasarkan.
Sempat Kesulitan
Dini mengakui bahwa awalnya tak mudah. Ia sempat kesulitan menemukan yayasan yang selaras secara visi dan misi. Bahkan, ia sempat ingin mendirikan yayasan sendiri, meski terkendala tempat dan dana.
Peluang datang saat Dini mengenal Diplomat Success Challenge (DSC) dari Wismilak pada 2023. Ia memberanikan diri mengajukan proposal bisnis dan berhasil meraih juara 3 setelah melewati proses seleksi awal 2024.
“Tahun 2023 kami kenal dengan DSC dari Wismilak. Kami memberanikan diri mengajukan proposal bisnis dan alhamdulillah menang juara 3 setelah mengikuti seleksi pada awal 2024,” kata Dini.
Dengan dana hibah dan pendampingan dari DSC, terutama dalam pengambilan keputusan bisnis, Dama Kara mengalami pertumbuhan signifikan. Saat ini, mereka memiliki dua toko offline di Bandung, menaungi 12 anak berkebutuhan khusus, serta meningkatkan penjualan hingga 80 persen dibanding tahun sebelumnya.
Tak hanya itu, Dama Kara kini menjual 8.000–9.000 potong pakaian per bulan, dan mampu mencapai 30.000 potong saat musim Lebaran.
Ke depan, Dini berharap Dama Kara bisa menjangkau lebih banyak anak berkebutuhan khusus, memberdayakan perempuan di desa terpencil, dan terus menebar kebermanfaatan.
Sebagai catatan, Diplomat Success Challenge adalah kompetisi kewirausahaan tahunan yang diinisiasi oleh Wismilak Foundation. Kini memasuki tahun ke-16, DSC telah menerima lebih dari 160.000 proposal bisnis dari seluruh Indonesia. Dengan dana hibah total Rp2,5 miliar, program ini terus membangun ekosistem kolaboratif bagi wirausahawan muda yang ingin menciptakan dampak nyata.
Baca juga: Dari Krisis ke Kesadaran, Perjalanan Slow Fashion Chynthia Suci Lestari
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya