Selain itu, analisis genetik juga dilakukan dengan metode Bayesian dan Maximum Likelihood, menggunakan data DNA mitokondria. Penanda genetik menjadi dasar obyektif untuk menentukan batas antarspesies, dan hasilnya menunjukkan perbedaan sekuens DNA hingga 11 persen — cukup besar untuk menunjukkan adanya isolasi evolusioner yang panjang.
Rury menegaskan, penemuan ini bukan hanya menambah daftar keanekaragaman hayati Indonesia, tetapi juga menunjukkan urgensi konservasi spesies air tawar Papua yang hidup di habitat rentan.
Banyak dari spesies ini hanya ditemukan di satu lokasi kecil, seperti anak sungai atau hulu yang belum terpetakan secara ekologis, sehingga sangat peka terhadap perubahan lingkungan.
Hasil penelitian ini dimuat dalam artikel berjudul “Seven New Species of Crayfish of the Genus Cherax (Crustacea, Decapoda, Parastacidae) from Western New Guinea, Indonesia” yang dipublikasikan secara terbuka pada 6 Juni 2025 di jurnal Arthropoda (Quartil 2).
Riset ini merupakan kolaborasi antara UGM, peneliti independen dari Jerman, dan lembaga riset di Berlin.
Ke depan, Rury menekankan adanya riset lanjutan dan pemetaan distribusi spesies akan diperlukan untuk mendukung kebijakan konservasi berbasis data.
“Kami harus menjaga keseimbangan antara eksplorasi ilmiah dan perlindungan habitat, apalagi banyak dari spesies ini hidup di wilayah yang mulai terjamah aktivitas manusia,” pungkas Rury.
Baca juga: Spesies Baru Begonia Ditemukan di Kalimantan, Berduri seperti Cakar Kucing
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya