Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kolaborasi UMKM Garut dan BRIN Bikin Gedebog Pisang Naik Kelas

Kompas.com, 9 Juli 2025, 20:36 WIB
Eriana Widya Astuti,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

KOMPAS.com — Delapan perempuan perajin di Garut, Jawa Barat, mengolah gedebog pisang, bagian batang pisang yang selama ini dianggap limbah menjadi produk bernilai seperti furnitur dan dekorasi rumah.

Namun, keterbatasan teknologi membuat mereka menghadapi kendala efisiensi dan kualitas produksi.

Melalui program Pendampingan Usaha Mikro berbasis Iptek (PUMI), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) hadir untuk mendampingi proses produksi UMKM tersebut.

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya BRIN untuk mendukung keberlanjutan UMKM melalui inovasi pengelolaan limbah organik.

Salah satu tantangan yang dihadapi adalah proses ekstraksi serat yang masih dilakukan secara semi-manual sehingga hasil serat pun belum seragam.

Selain itu, metode pewarnaan alami menggunakan ekstrak kentang untuk menghilangkan komponen lignin dinilai belum optimal karena biayanya relatif mahal dan justru membuat serat menjadi seperti pulp.

Menjawab tantangan itu, BRIN memberikan dukungan teknologi pengepresan dan pewarnaan.

Pendampingan dilakukan di Bank Sampah Rapekan, Garut, dengan tujuan agar proses daur ulang gedebog pisang bisa lebih efisien dan menghasilkan produk dengan kualitas lebih baik.

Baca juga: Adena Coffee Berbagi Strategi Bangun Kopi Berkelanjutan dari Kebun

Direktur Pemanfaatan Riset dan Inovasi untuk UMKM di BRIN, Driszal Fryantoni, menyatakan bahwa kegiatan ini bertujuan meningkatkan produktivitas dan kualitas UMKM. Namun, ia mengakui bahwa keberlanjutan upaya ini memerlukan kerja sama lintas sektor karena BRIN tidak menyediakan bantuan modal atau alat produksi.

“Sehingga diperlukan kerja sama dengan stakeholder lainnya, baik kementerian maupun dinas setempat, untuk bersama-sama memperkuat UMKM agar mereka bisa naik kelas,” ujar Driszal.

Periset pendamping dari BRIN, Sukma Surya Kusumah, menambahkan bahwa pengolahan limbah gedebog pisang masih menyimpan potensi besar agar memiliki nilai tambah. Ia berharap pelaku usaha dapat berkolaborasi lebih jauh dengan para peneliti di Pusat Riset Biomassa Bioproduk BRIN.

Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan ESDM Kabupaten Garut, Ridwan Effendi, menyambut baik pendekatan ini. Ia menilai model pendampingan seperti di Bank Sampah Rapekan bisa direplikasi oleh desa-desa lain dalam mengatasi permasalahan limbah, khususnya limbah organik dari pisang.

Pemilik UMKM yang terlibat dalam program ini pun, Gita, mengungkapkan harapannya agar pengembangan inovasi-inovasi baru teruratama yang berbahan baku gedebog pisang terus mendapatkan pendampingan dari BRIN.

Baca juga: Sampah Organik Keluarga Jadi Biogas: Upaya Ekonomi Sirkular dari Rumah

“Saya tidak pernah menyangka bahan baku gedebog pisang bisa diseragamkan ketebalannya,” ujar Gita.

Dengan iklim tropis, pohon pisang tumbuh subur di banyak wilayah Indonesia. Namun, bagian batangnya kerap dibuang begitu saja, padahal jika tidak dikelola dapat mencemari lingkungan.

Melalui pendekatan riset dan teknologi, limbah seperti gedebog pisang dapat diolah menjadi sumber ekonomi baru sekaligus mendukung transisi menuju ekonomi sirkular. Dengan penguatan teknologi dan kolaborasi lintas sektor, potensi keberlanjutan bisa tumbuh dari akar rumput.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Kisah Faris Budiman, Kampanyekan Kesehatan Anak lewat Karya Animasi
Kisah Faris Budiman, Kampanyekan Kesehatan Anak lewat Karya Animasi
LSM/Figur
BMKG: Cuaca Ekstrem Diprediksi Terjadi hingga Sepekan ke Depan
BMKG: Cuaca Ekstrem Diprediksi Terjadi hingga Sepekan ke Depan
Pemerintah
Ahli Jelaskan Solusi Pencemaran Pestisida di Sungai Cisadane, Pakai Eceng Gondok?
Ahli Jelaskan Solusi Pencemaran Pestisida di Sungai Cisadane, Pakai Eceng Gondok?
LSM/Figur
2 Nuri Maluku Diamankan dari Kapal di Banda, BKSDA Perketat Pengawasan Jalur Laut
2 Nuri Maluku Diamankan dari Kapal di Banda, BKSDA Perketat Pengawasan Jalur Laut
Pemerintah
Daur Ulang Plastik Fleksibel Terkendala Biaya dan Regulasi
Daur Ulang Plastik Fleksibel Terkendala Biaya dan Regulasi
LSM/Figur
Berdayakan Pekerja Sektor Informal Persampahan, Coca-Cola Indonesia gandeng Mahija
Berdayakan Pekerja Sektor Informal Persampahan, Coca-Cola Indonesia gandeng Mahija
Swasta
1.500 Ecoenzym Dituang ke Sungai Cisadane, Ahli Jelaskan Efektivitasnya
1.500 Ecoenzym Dituang ke Sungai Cisadane, Ahli Jelaskan Efektivitasnya
LSM/Figur
Generasi Sandwich Mudah Burnout akibat Beban Ekonomi dan Tekanan Kerja
Generasi Sandwich Mudah Burnout akibat Beban Ekonomi dan Tekanan Kerja
LSM/Figur
Cuaca Ekstrem Meningkat, Ilmuwan Desak Sistem Peringatan Bencana yang Lebih Personal
Cuaca Ekstrem Meningkat, Ilmuwan Desak Sistem Peringatan Bencana yang Lebih Personal
LSM/Figur
BKSDA Sumbar Pasang Kandang Jebak, Tangani Serangan Beruang di Talamau
BKSDA Sumbar Pasang Kandang Jebak, Tangani Serangan Beruang di Talamau
Pemerintah
Sampah Organik MBG Jadi Sumber Ekonomi Tambahan Pemulung di Duren Sawit
Sampah Organik MBG Jadi Sumber Ekonomi Tambahan Pemulung di Duren Sawit
Swasta
Program Hidroponik Berbasis PLTS Dukung Inisiatif Green Terminal Tanjung Sekong
Program Hidroponik Berbasis PLTS Dukung Inisiatif Green Terminal Tanjung Sekong
BUMN
Sukabumi Resmikan Fasilitas Biogas dan Solar Dryer House
Sukabumi Resmikan Fasilitas Biogas dan Solar Dryer House
LSM/Figur
Sinar Matahari Bisa Turunkan Keanekaragaman dan Biomassa Padang Rumput
Sinar Matahari Bisa Turunkan Keanekaragaman dan Biomassa Padang Rumput
LSM/Figur
450 Spesies Ular Terancam Punah, Studi Soroti Peran Orangtua Bentuk Persepsi Anak
450 Spesies Ular Terancam Punah, Studi Soroti Peran Orangtua Bentuk Persepsi Anak
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau