Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

'Hutan Bukan Mainan': Menanam Harapan Lintas Generasi di Sedekah Hutan 2026

Kompas.com, 12 Agustus 2026, 18:04 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Lebih dari 50 persen hutan mangrove Indonesia dilaporkan telah hilang dalam 30 tahun terakhir. Pada saat yang sama, Indonesia juga menjadi negara dengan kehilangan hutan hujan tropis terbesar kedua di dunia setelah Brasil.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kerusakan ekosistem hutan tidak hanya mengancam keberadaan pepohonan, tetapi juga kehidupan berbagai spesies dan masyarakat yang bergantung pada ekosistem tersebut.

Karena itu, upaya menjaga hutan dinilai perlu dilakukan tidak sekadar melalui penanaman pohon, tetapi juga dengan memastikan ekosistem yang telah dipulihkan dapat terus tumbuh dan berfungsi.

Baca juga: Hari Gajah Sedunia 2026: Hilangnya Hutan Jadi Ancaman Terbesar Gajah Sumatra

Pesan tersebut menjadi salah satu fokus dalam kegiatan Sedekah Hutan 2026 yang digelar Bakul Budaya Nusantara (BBN) pada 7-8 Agustus 2026. Mengusung tema "Hutan Bukan Mainan!", kegiatan tersebut mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, melihat hutan sebagai ruang hidup yang memiliki fungsi ekologis penting.

Ketua Umum BBN Dewi Fajar Marhaeni mengatakan, perlindungan hutan membutuhkan kesadaran sekaligus tindakan yang dilakukan secara berkelanjutan.

"Dari seorang Rosita Istiawan (64) dan seorang Harley Fatahillah Yodhaloka (14), kita belajar banyak tentang bagaimana sebuah niat kuat dan kesadaran dapat dilakukan oleh siapa saja untuk menyelamatkan bumi, khususnya hutan yang mempunyai peran vital dalam kehidupan manusia," ujar Dewi dalam keterangan tertulis, Rabu (12/8/2026).

Hutan bukan sekadar lahan

Menurut Dewi, hutan perlu dipandang sebagai bagian dari sistem kehidupan yang menopang berbagai makhluk, bukan sekadar lahan yang dapat dialihfungsikan untuk kepentingan ekonomi.

Alih fungsi hutan menjadi kawasan pertambangan maupun perkebunan, kata dia, perlu mempertimbangkan keseimbangan ekosistem dan dampak jangka panjang terhadap lingkungan.

Pandangan tersebut menjadi dasar pelaksanaan Sedekah Hutan 2026 yang tidak hanya berisi penanaman pohon, tetapi juga pelepasan ikan dan burung serta edukasi mengenai pentingnya menjaga ekosistem.

Rangkaian kegiatan tersebut menggambarkan bahwa pemulihan hutan tidak berhenti setelah bibit ditanam. Pohon yang ditanam membutuhkan perawatan agar dapat tumbuh, sementara berbagai satwa juga membutuhkan habitat yang mendukung keberlangsungan hidupnya.

"Karena bumi adalah tempat tinggal kita satu-satunya, kita wajib menjaga, merawat dan melestarikannya," tutur Dewi.

Dalam kegiatan tersebut, BBN juga berkolaborasi dengan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI), Kementerian Kehutanan, BPDAS Citarum-Ciliwung, Badan Penghubung Provinsi Kalimantan Selatan, Santika Indonesia Resorts & Hotels, serta sejumlah pihak lainnya.

Belajar dari hutan yang dipulihkan

Salah satu lokasi yang menjadi bagian dari rangkaian kegiatan adalah Hutan Organik Megamendung. Di kawasan tersebut, peserta melihat langsung proses pemulihan hutan yang dirintis Rosita Istiawan sejak 2003.

Ketika pertama kali dirintis, kawasan tersebut menghadapi kondisi tanah yang tandus serta berbagai tantangan sosial. Namun, setelah dirawat selama lebih dari dua dekade, kawasan tersebut berkembang menjadi ruang hidup bagi berbagai jenis makhluk.

Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa pemulihan hutan membutuhkan proses panjang dan konsistensi. Hutan tidak dapat tumbuh hanya melalui penanaman, tetapi membutuhkan perawatan dalam jangka panjang.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Harita Nickel Turunkan 2.600 Terumbu Buatan di Pesisir Pulau Obi, Datangkan Banyak Jenis Ikan
Harita Nickel Turunkan 2.600 Terumbu Buatan di Pesisir Pulau Obi, Datangkan Banyak Jenis Ikan
Swasta
Sepertiga Sampah Plastik Dunia Tak Terkelola dengan Baik pada 2026
Sepertiga Sampah Plastik Dunia Tak Terkelola dengan Baik pada 2026
Pemerintah
Aksi Terpadu Tangani Iklim dan Polusi Udara Berikan Keuntungan 15 Kali Lipat
Aksi Terpadu Tangani Iklim dan Polusi Udara Berikan Keuntungan 15 Kali Lipat
Pemerintah
Impor Batu Bara Metalurgi Naik, Indonesia Jadi Salah Satu Pendorong Pasar Global
Impor Batu Bara Metalurgi Naik, Indonesia Jadi Salah Satu Pendorong Pasar Global
LSM/Figur
PBB: Kebakaran Hutan dan Gelombang Panas Hambat Perbaikan Kualitas Udara Dunia
PBB: Kebakaran Hutan dan Gelombang Panas Hambat Perbaikan Kualitas Udara Dunia
Pemerintah
Harita Nickel Luncurkan Buku mengenai Pulau Obi dan Keanekaragaman Ikan
Harita Nickel Luncurkan Buku mengenai Pulau Obi dan Keanekaragaman Ikan
Swasta
Dampak El Nino: Terusan Panama Hadapi Krisis Air dan Penurunan Jalur Pelayaran
Dampak El Nino: Terusan Panama Hadapi Krisis Air dan Penurunan Jalur Pelayaran
Pemerintah
Keanekaragaman Pohon Jadi Perisai Hutan Hadapi Krisis Iklim
Keanekaragaman Pohon Jadi Perisai Hutan Hadapi Krisis Iklim
Pemerintah
Perkembangan AI di Asia Pasifik Pesat, tapi Masih Ada Kesenjangan
Perkembangan AI di Asia Pasifik Pesat, tapi Masih Ada Kesenjangan
Pemerintah
Abu Vulkanik Ganggu Proses Fotosintesis Tanaman, Berisiko Gagal Panen Jika Terpapar Terlalu Lama
Abu Vulkanik Ganggu Proses Fotosintesis Tanaman, Berisiko Gagal Panen Jika Terpapar Terlalu Lama
LSM/Figur
Perempuan Makin Didorong Terlibat dalam Transisi Energi Indonesia
Perempuan Makin Didorong Terlibat dalam Transisi Energi Indonesia
LSM/Figur
Cavendish Rentan Penyakit Layu Fusarium, RI Bisa Ubah Pisang Liar Jadi Varietas Unggul Tahan Krisis Iklim
Cavendish Rentan Penyakit Layu Fusarium, RI Bisa Ubah Pisang Liar Jadi Varietas Unggul Tahan Krisis Iklim
LSM/Figur
Banyak TPA Masih Terbakar Selama El Niño dan Musim Kemarau, Meski Praktik Open Dumping Dilarang
Banyak TPA Masih Terbakar Selama El Niño dan Musim Kemarau, Meski Praktik Open Dumping Dilarang
LSM/Figur
Penerbitan Obligasi Hijau Global Tembus Rekor Baru di Q2 2026
Penerbitan Obligasi Hijau Global Tembus Rekor Baru di Q2 2026
Pemerintah
Vulkanik Anak Krakatau Menyebar ke 5 Provinsi, Ahli Peringatkan Risiko Kesehatan dari Menghirup dan Lingkungan Tercemar
Vulkanik Anak Krakatau Menyebar ke 5 Provinsi, Ahli Peringatkan Risiko Kesehatan dari Menghirup dan Lingkungan Tercemar
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau