Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Krisis Air Picu Kelaparan, Retno Marsudi Ungkap 3 Solusinya

Kompas.com, 18 Juli 2025, 10:46 WIB
Eriana Widya Astuti,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com — Ketahanan pangan tidak akan tercapai tanpa terlebih dahulu mengatasi krisis air.

Hal ini ditegaskan oleh Utusan Khusus Sekjen PBB untuk Air, Retno Marsudi, dalam forum Kagama Leaders Forum Series bertajuk Daulat Pangan di Tengah Disrupsi Geopolitik dan Perang Dagang, Kamis (17/7/2025).

“Air adalah sumber kehidupan. Tanpa air, tidak ada kehidupan,” ujar Retno.

Ia menekankan bahwa ketahanan air dan ketahanan pangan adalah dua hal yang tidak terpisahkan. Sekitar 72 persen air tawar dunia digunakan untuk sektor pertanian, ini menunjukkan betapa air menjadi fondasi dari sistem pangan kita.

Retno mencontohkan, untuk menghasilkan satu kilogram beras, dibutuhkan sekitar 2.500 liter air dalam setahun. Sedangkan jagung membutuhkan sekitar 900 liter air per kilogram.

“Bisa dibayangkan betapa besarnya kebutuhan air hanya untuk memastikan kita bisa makan,” ujarnya.

Namun, dunia saat ini tengah menghadapi krisis air yang kompleks. Terdapat, setidaknya 3 tantangan utama di sektor air ini, yaitu banjir, kekeringan, dan pencemaran air, makin diperparah oleh perubahan iklim.

Baca juga: Darurat Air Dunia: 40 Persen Daratan Rusak, 3 Miliar Orang Terancam

“Ini adalah masalah besar yang dihadapi berbagai negara,” tambah Retno.

Selain itu, ia mengatakan bahwa satu dari empat orang di dunia kini hidup dalam kondisi kekurangan air, dan pada 2050, kekeringan diperkirakan berdampak pada tiga dari empat orang.

Di saat yang sama, populasi dunia diprediksi mencapai 10 miliar jiwa. Ini berarti kebutuhan pangan akan melonjak 50 persen, dan kebutuhan air tawar naik sekitar 30 persen.

“Kita menghadapi situasi di mana kebutuhan pangan dan air meningkat tajam, sementara pasokan air makin tertekan,” jelasnya.

Retno juga menyoroti lemahnya infrastruktur air, terutama dari sisi pendanaan. Hanya sekitar 1,2 persen dari total belanja publik global yang dialokasikan untuk infrastruktur air.

Sebagian besar pembiayaan masih ditanggung pemerintah, sementara partisipasi swasta baru sekitar 2 persen. Ketimpangan ini memperkuat tantangan pembangunan yang berkelanjutan, terutama di negara berkembang.

Padahal, menurut data PBB, sebagian besar pekerjaan di negara-negara berkembang sangat bergantung pada air. Maka, membangun kemitraan, termasuk dengan sektor swasta menjadi salah satu fokus dalam berbagai forum internasional terkait air.

Dalam konteks keberlanjutan, Retno mengingatkan bahwa isu air dan pangan juga terkait erat dengan tercapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).

Ketahanan pangan tercantum dalam SDG nomor 2: Zero Hunger, yang tidak hanya menargetkan penghapusan kelaparan, tetapi juga sistem pangan yang inklusif, sehat, dan ramah lingkungan.

“Sekarang kita berada di tahun 2025, yang artinya hanya tersisa lima tahun lagi menuju target SDGs 2030. Namun, baru sekitar 17 persen target yang berada di jalur yang benar,” jelas Retno.

Baca juga: Sistem Pangan Berkelanjutan Punya 3 Hambatan, Salah Satunya Makanan Murah

Data ketahanan pangan global menunjukkan bahwa 9,1 persen penduduk dunia masih mengalami kelaparan, meningkat dari 7,5 persen pada 2019. Sebanyak 2,8 miliar orang juga belum mampu mengakses makanan sehat.

Retno menambahkan, kondisi ini diperburuk oleh melemahnya semangat kerja sama internasional. Dalam Konferensi Tingkat Tinggi NATO, negara-negara anggota memutuskan menaikkan anggaran pertahanan hingga 5 persen dari PDB, sementara komitmen bantuan pembangunan justru terus menyusut.

“Pergeseran prioritas ini tentu berdampak pada ruang fiskal untuk pembangunan, termasuk untuk air dan pangan,” ujar Retno.

Bahkan, bantuan internasional dari beberapa negara seperti Amerika Serikat telah dihentikan total.

Dalam menghadapi kompleksitas tersebut, Retno menekankan perlunya pendekatan baru.

Business as usual sudah tidak relevan lagi,” tegasnya. Maka dari itu, ada tiga arah perubahan tata kelola yang disarankan.

Pertama, mempercepat transformasi sistem agrifood agar menjadi lebih efisien, tangguh, inklusif, dan berkelanjutan.

Ini meliputi pemanfaatan teknologi seperti irigasi cerdas, daur ulang air limbah, dan pengembangan varietas tanaman tahan kekeringan.

Kedua, mendorong prinsip produce more with less, menghasilkan lebih banyak dengan lebih sedikit sumber daya, khususnya air.

Retno menekankan perlunya pendekatan pendekatan pengelolaan sumber daya air terpadu (integrated water resources management) dan kebijakan pangan yang responsif terhadap air (water-responsive).

Baca juga: Kemarau tetapi Hujan, BMKG Minta Petani Cerdas Kelola Air

Semua ini menuntut komitmen politik, koordinasi lintas sektor, dan konsistensi kebijakan dari pusat hingga daerah.

Ketiga, memperkuat akurasi data dan sistem informasi.

“Tanpa data yang benar, kita tidak bisa membuat keputusan yang tepat,” ujarnya.

Teknologi, termasuk kecerdasan buatan, dinilai dapat menjadi alat penting dalam pengambilan keputusan di sektor air dan pangan.

Retno menutup paparannya dengan menegaskan bahwa kebijakan air dan pangan harus saling terintegrasi, sebagai jalan menuju ketahanan yang berkelanjutan.

Tata kelola air adalah kunci untuk kehidupan yang lebih baik, produksi yang lebih baik, nutrisi yang lebih baik, lingkungan yang lebih baik, dan tidak ada yang tertinggal,” pungkasnya.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
'Hutan Bukan Mainan': Menanam Harapan Lintas Generasi di Sedekah Hutan 2026
'Hutan Bukan Mainan': Menanam Harapan Lintas Generasi di Sedekah Hutan 2026
LSM/Figur
Hari Gajah Sedunia 2026: Hilangnya Hutan Jadi Ancaman Terbesar Gajah Sumatra
Hari Gajah Sedunia 2026: Hilangnya Hutan Jadi Ancaman Terbesar Gajah Sumatra
LSM/Figur
Karbon, Hutan Adat, dan Keadilan Tertunda
Karbon, Hutan Adat, dan Keadilan Tertunda
Pemerintah
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Swasta
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
LSM/Figur
Dampak Kekeringan, Perancis Batasi Pemakaian Air di 70 Persen Wilayahnya
Dampak Kekeringan, Perancis Batasi Pemakaian Air di 70 Persen Wilayahnya
Pemerintah
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Swasta
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
LSM/Figur
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Swasta
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
Pemerintah
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
LSM/Figur
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Pemerintah
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
LSM/Figur
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
Pemerintah
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau