JAKARTA, KOMPAS.com — Sejak 2018, PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) bersama para petani kopi di Kamojang mengembangkan Geothermal Dry House, alat pengering kopi ramah lingkungan yang memanfaatkan uap buangan dari steam trap panas bumi.
Inovasi ini lahir dari kebutuhan untuk mengatasi tantangan geografis wilayah Kamojang, sekaligus menghadirkan solusi energi bersih dalam proses pasca-panen kopi.
“Pemanfaatan panas bumi tidak semata untuk pembangkitan listrik, tetapi juga dapat menopang ekonomi lokal dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujar Direktur Utama PGE, Julfi Hadi, dalam keterangannya, Sabtu (19/7/2025)
Teknologi ini bukan hanya membuat pengeringan kopi berlangsung hingga tiga kali lebih cepat dibanding metode konvensional, tetapi biji kopi yang dihasilkan pun disebut memiliki cita rasa yang lebih kaya dan aroma yang lebih kuat.
Baca juga: Pertamina Geothermal Kembangkan Pupuk Ramah Lingkungan dari Panas Bumi
Pengembangan teknologi tersebut juga merupakan bagian dari mendukung terciptanya ekosistem berkelanjutan sehingga terjadi praktik ekonomi sirkular.
Sepanjang 2024, Julfi menyebut total penjualan hasil olahan kopi ini mencapai 4,9 ton green beans, 640 kilogram roasted beans, dan 17.500 bungkus ground coffee, dengan omzet sebesar Rp863,9 juta.
Disisi lain, dukungan terhadap pemanfaatan panas bumi untuk penggunaan langsung seperti pengeringan kopi juga disampaikan pemerintah.
Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, menyatakan bahwa regulasi tengah disiapkan untuk mendorong optimalisasi penggunaan panas bumi langsung oleh masyarakat.
“Kita mendorong penuh agar ini bisa terlaksana dengan tumbuhnya masyarakat kita yang makin tahu dan terlibat panas bumi,” ujar Eniya dalam keterangannya, Sabtu (19/7/2025).
Saat ini, PGE bermitra dengan 18 kelompok tani dan memberdayakan 312 petani lokal yang mengelola lahan seluas 80 hektare di sekitar Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) Kamojang. Program ini dikembangkan melalui inisiatif Geothermal Coffee Process (GCP).
Jumat (18/7/2025), PGE dan petani Kamojang menggelar panen bersama sekaligus ekspor perdana Kopi Geotermal Kamojang di Desa Laksana, Kecamatan Ibun, Kabupaten Bandung. Biji kopi yang dipanen berasal dari dua varietas arabika unggulan, Andungsari dan USDA.
Selain itu, panen ini juga menandai ekspor perdana kopi panas bumi Kamojang ke pasar Asia dan Eropa, dengan total volume 15 ton.
Langkah ini dinilai tidak hanya memperkuat posisi kopi Kamojang sebagai produk hijau bernilai ekspor, tetapi juga menjadi contoh penerapan ekonomi sirkular berbasis energi bersih yang berkelanjutan.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya