Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kandungan Mikroplastik Seafood Sekarang Bisa Dianalisis, Ilmuwan Temukan Caranya

Kompas.com, 19 Juli 2025, 19:06 WIB
Monika Novena,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Seberapa banyak mikroplastik yang ada di makanan laut di piring kita?

Jawaban tidak pasti. Ini karena belum ada cara standar yang disepakati untuk mengukurnya dalam pemantauan makanan.

Karena tidak ada metode standar, sulit juga membandingkan hasil penelitian tentang mikroplastik di makanan laut, dan keandalan datanya pun dipertanyakan.

Kini, ilmuwan di Max Rubner-Institut akhirnya menyesuaikan metode analisis lingkungan untuk mengukur mikroplastik di makanan laut, meskipun harus menghadapi berbagai tantangan dalam prosesnya.

Hasilnya, mereka menemukan cara baru untuk mendeteksi mikroplastik di makanan laut.

Mereka menggunakan enzim dan bahan kimia untuk melarutkan jaringan makanan laut, lalu memisahkan partikel plastik dari cairan dengan filtrasi tekanan.

Baca juga: Setiap Makanan Berisiko Terkontaminasi Mikroplastik dari Kemasan

"Agar bisa menemukan mikroplastik di daging makanan laut, semua kandungan organik seperti karbohidrat, protein, lemak harus dibersihkan, tapi tanpa merusak partikel plastiknya," jelas Julia Süssmann dari Max Rubner-Institut dikutip dari Phys, Jumat (18/7/2025).

Untuk mengetahui jumlah plastik dalam sampel, peneliti menggunakan metode berbasis massa.

Caranya, sampel dipanaskan di lingkungan tanpa oksigen sampai jadi gas. Dari gas ini, ilmuwan bisa menghitung jumlah plastik, termasuk jenis seperti polietilen (PE) dan polipropilen (PP).

Peneliti juga menggunakan pewarna berpendar seperti Nile red agar partikel plastik kecil yang tak terlihat jadi menyala.

Agar tidak keliru dengan partikel alami misalnya dari udang atau tulang, mereka juga memakai pewarna kedua yang menekan pendaran bahan biologis tersebut.

Baca juga: Peneliti Temukan Mikroplastik pada Darah, Urine, dan Amnion Manusia

Dengan bantuan analisis gambar semi-otomatis, mikroplastik bisa dipastikan berbeda dari material alami. Ini memungkinkan kita mengetahui berapa banyak, seberapa besar, dan bagaimana bentuk partikel plastik di dalam suatu sampel.

Para ilmuwan mencoba pula menemukan nanoplastik (partikel plastik super kecil), tapi ini sangat sulit.

Nanoplastik cenderung menggumpal dan menempel di filter, plus sinyalnya tertutup oleh protein atau lemak dari makanan. Makanya, sampai sekarang, mendeteksi nanoplastik di makanan laut masih belum bisa dilakukan dengan pasti.

Topik mikroplastik ini rumit dan kita masih kurang data tentang bahayanya.

"Mikroplastik bukan masalah yang terbatas pada makanan laut. Dalam penelitian, kami telah menemukan bukti awal partikel plastik dalam susu, daging, telur, dan madu," tambahnya.

Federal Institute for Risk Assessment berpendapat bahwa mikroplastik dalam makanan kemungkinan besar tidak berbahaya bagi kesehatan manusia saat ini.

Namun, mereka menegaskan bahwa penelitian lebih lanjut tentang dampaknya pada tubuh dan cara penyerapan masih sangat diperlukan untuk penilaian ilmiah yang lebih lengkap.

Studi dipublikasikan di Analytical and Bioanalytical Chemistry, Journal of Consumer Protection and Food Safety, dan Food Control.

Baca juga: 568 Sarang Diteliti dan Terkuaklah, Banyak Anak Burung Mati Tercekik Plastik

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Perang, Emisi, dan Masa Depan Bumi
Perang, Emisi, dan Masa Depan Bumi
Pemerintah
Hari Perempuan Internasional 2026: Tema dan Sejarahnya
Hari Perempuan Internasional 2026: Tema dan Sejarahnya
Pemerintah
Atasi Emisi, Koalisi Perusahaan Luncurkan Superpollutant Action Initiative
Atasi Emisi, Koalisi Perusahaan Luncurkan Superpollutant Action Initiative
Pemerintah
Karhutla Landa 5 Desa di Kalbar, Luasnya Capai 17 Hektar
Karhutla Landa 5 Desa di Kalbar, Luasnya Capai 17 Hektar
Pemerintah
 50 Persen Populasi Hewan yang Bermigrasi di Dunia Turun Drastis
50 Persen Populasi Hewan yang Bermigrasi di Dunia Turun Drastis
Pemerintah
KPAI: Pembatasan Akun Medsos Anak di Bawah 16 Tahun Cegah Pornografi hingga Cyberbullying
KPAI: Pembatasan Akun Medsos Anak di Bawah 16 Tahun Cegah Pornografi hingga Cyberbullying
Pemerintah
Bumi Memanas Dua Kali Lipat Lebih Cepat dari Dekade Sebelumnya
Bumi Memanas Dua Kali Lipat Lebih Cepat dari Dekade Sebelumnya
Pemerintah
Cuaca Ekstrem Masih Berlanjut, BMKG Pantau Tiga Bibit Siklon Tropis di Selatan RI
Cuaca Ekstrem Masih Berlanjut, BMKG Pantau Tiga Bibit Siklon Tropis di Selatan RI
Pemerintah
Gelombang Panas Makin Sering, Risiko Kekeringan Mendadak Ikut Meningkat
Gelombang Panas Makin Sering, Risiko Kekeringan Mendadak Ikut Meningkat
LSM/Figur
Peneliti Temukan Mikroplastik pada Kedalaman 2.450 Meter di Laut Indonesia
Peneliti Temukan Mikroplastik pada Kedalaman 2.450 Meter di Laut Indonesia
Pemerintah
Perang dan Krisis Iklim: Dampak Ekologis Eskalasi Konflik Timur Tengah
Perang dan Krisis Iklim: Dampak Ekologis Eskalasi Konflik Timur Tengah
Pemerintah
Krisis Iklim Ubah Jalur Migrasi Penyu Tempayan, Gap Rasio Jenis Kelamin Ancam Keberlanjutan Populasi
Krisis Iklim Ubah Jalur Migrasi Penyu Tempayan, Gap Rasio Jenis Kelamin Ancam Keberlanjutan Populasi
LSM/Figur
Peran Serangga dan Laba-Laba di Negara Maju Diabaikan
Peran Serangga dan Laba-Laba di Negara Maju Diabaikan
LSM/Figur
Perjanjian Dagang dengan AS Bikin RI Bergantung Minyak dari 'Paman Sam'
Perjanjian Dagang dengan AS Bikin RI Bergantung Minyak dari "Paman Sam"
LSM/Figur
Soal Tambang Martabe, NGO Desak Pemerintah Fokus Pemulihan Lingkungan ketimbang Pengambilalihan
Soal Tambang Martabe, NGO Desak Pemerintah Fokus Pemulihan Lingkungan ketimbang Pengambilalihan
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau