Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Swasembada Pangan dalam Setahun, Doable atau Impossible?

Kompas.com, 23 Juli 2025, 08:04 WIB
Eriana Widya Astuti,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com — Pemerintah mempercepat target swasembada pangan dari empat tahun menjadi satu tahun dalam upaya mendukung tercapainya ketahanan pangan nasional.

Ambisi ini dianggap penting untuk memperkuat ketahanan pangan nasional. Namun di tengah tantangan struktural dan ancaman iklim, pertanyaannya: seberapa realistis target ini? Apakah justru berisiko mengorbankan keberlanjutan?

Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan BRIN, Puji Lestari, menyebut bahwa dari sisi produksi, target ini memang berat, tapi tidak mustahil jika tujuannya hanya terkait beras. Berdasarkan data prediksi panen 2025, Indonesia berpeluang mencapai swasembada beras.

“Lonjakan produksi triwulan I pada tahun 2025 diproyeksikan minimal 8 juta ton,” ujar Puji saat dihubungi Kompas.com, Selasa (22/7/2025).

Ia menyebut, kenaikan ini didorong berbagai strategi pemerintah, seperti pengadaan pompa air dan distribusi benih unggul.

Namun, ia mengingatkan bahwa swasembada pangan bukan hanya soal produksi. Distribusi yang merata dan keterjangkauan akses pangan masyarakat juga menjadi syarat mutlak.

“Andai kata semuanya terpenuhi, realistis atau tidak swasembada pangan dalam setahun? Realistis. Namun, pada saat sama yang juga reaktif,” ujarnya.

Baca juga: Ngebut Capai Swasembada Pangan Setahun, Pemerintah Alokasikan Rp 1,7 T untuk Pompa Air

Menurutnya, upaya percepatan seperti ini bisa memberi tekanan besar pada ekosistem pertanian, sehingga untuk tahun-tahun berikutnya, belum tentu dapat dilakukan.

Puji menggarisbawahi sejumlah tantangan mendasar yang menghambat pencapaian swasembada dalam waktu singkat. Salah satunya adalah alih fungsi lahan pertanian. Setiap tahun, sekitar 100 ribu hektare lahan berubah fungsi, menjadi kawasan industri atau perumahan.

“Ini sudah berlangsung bertahun-tahun dan belum terselesaikan sampai sekarang,” jelasnya. Di Pulau Jawa, di mana lahan sudah sangat optimal dimanfaatkan, tekanan justru semakin besar.

Selain itu, fragmentasi kepemilikan lahan membuat produktivitas sulit ditingkatkan. Banyak petani hanya memiliki lahan sangat kecil, bahkan setengah hektare.

Ini menyulitkan upaya peningkatan skala produksi, apalagi jika tidak diiringi program yang langsung menyasar kebutuhan petani.

Situasi ini dinilai kontras dengan negara seperti Amerika Serikat, yang petaninya telah menggunakan teknologi digital untuk meningkatkan efisiensi. Sementara di Indonesia, penggunaan teknologi belum merata.

Baca juga: Studi Ungkap Hanya Satu Negara di Dunia yang Bisa Swasembada Pangan

Tidak hanya produksi, distribusi pangan juga menjadi tantangan besar. Kesulitan distribusi menyebabkan disparitas harga antarwilayah, dan membuat pemerataan pangan sulit dicapai.

Di sisi lain, petani lokal dengan lahan kecil masih belum dilibatkan secara strategis dalam sistem pangan nasional.

“Beras masih jadi komoditas utama. Maka penting memastikan petani lokal ikut memproduksi secara berkelanjutan,” kata Puji.

Ia juga menyoroti bahwa ketidakpastian iklim memperburuk tantangan produksi. Perubahan pola cuaca mempengaruhi siklus tanam, dan mendorong risiko gagal panen.

Menurut Puji, selain mengejar swasembada, ketahanan pangan bisa dibangun lewat pendekatan berbasis pangan lokal. Diversifikasi dan pemanfaatan sumber daya hayati yang lebih adaptif dinilai lebih logis dalam konteks krisis iklim.

“Tanaman lokal juga lebih kuat dari hama dan gulma, karena dia lebih adaptif. Jadi bisa mendorong penguatan ketahanan pangan,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan risiko jika percepatan produksi dilakukan tanpa memperhatikan daya dukung lingkungan. Pembukaan lahan secara masif berisiko merusak keanekaragaman hayati.

Baca juga: IPB Rilis Inovasi Berbasis AI untuk Tingkatkan Ketahanan Pangan

Praktik pertanian monokultur pun berpotensi meningkatkan penggunaan pupuk kimia, yang bisa merusak tanah dan menyumbang emisi.

Karena itu, Puji menekankan pentingnya perencanaan yang berbasis zonasi, karakteristik tanah, dan iklim lokal.

“Setiap wilayah punya iklim yang unik, dan ini harus diperhitungkan dalam perencanaan pertanian,” ujar Puji.

Produksi juga perlu diawasi lewat pendekatan intensifikasi yang berkelanjutan, agar tidak hanya mendorong output jangka pendek, tapi menjaga ekosistem dalam jangka panjang.

“Dengan begitu, swasembada tidak bertabrakan dengan keberlanjutan lingkungan,” tutupnya.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
TPST Bantargebang Tak Bisa Diperluas Lagi, Sampah Jakarta Dibawa ke Mana?
TPST Bantargebang Tak Bisa Diperluas Lagi, Sampah Jakarta Dibawa ke Mana?
Pemerintah
Kepedulian Lingkungan Turun saat Seseorang Berlibur, Mengapa?
Kepedulian Lingkungan Turun saat Seseorang Berlibur, Mengapa?
LSM/Figur
Bantargebang Kritis, Sampah Jakarta Tembus 7.300 Ton per Hari
Bantargebang Kritis, Sampah Jakarta Tembus 7.300 Ton per Hari
Pemerintah
Usai Banjir Sumatera, Banyak Warga yang Tinggal di Pengungsian dengan Fasilitas Terbatas
Usai Banjir Sumatera, Banyak Warga yang Tinggal di Pengungsian dengan Fasilitas Terbatas
LSM/Figur
Dari Kulit Buah Jadi Energi, Eksperimen Sederhana yang Ubah Cara Pandang tentang Sampah
Dari Kulit Buah Jadi Energi, Eksperimen Sederhana yang Ubah Cara Pandang tentang Sampah
LSM/Figur
Sistem Pengelolaan Terpadu Bisa Tekan Biaya dan Emisi Limbah Makanan
Sistem Pengelolaan Terpadu Bisa Tekan Biaya dan Emisi Limbah Makanan
LSM/Figur
Kemenhut Terapkan Syarat Ketat untuk Pengelola Baru Bandung Zoo
Kemenhut Terapkan Syarat Ketat untuk Pengelola Baru Bandung Zoo
Pemerintah
Mandatori Biodiesel B50 Ditunda, Ini Alasan Tak Perlu Buru-buru
Mandatori Biodiesel B50 Ditunda, Ini Alasan Tak Perlu Buru-buru
Swasta
Daftar 10 Spesies Terancam Punah 2026, Belut hingga Tulip
Daftar 10 Spesies Terancam Punah 2026, Belut hingga Tulip
LSM/Figur
Gajah Sumatera Mati Tanpa Kepala di Riau, Kemenhut Pastikan Pidanakan Pelaku
Gajah Sumatera Mati Tanpa Kepala di Riau, Kemenhut Pastikan Pidanakan Pelaku
Pemerintah
Bulog Pasok Komoditas Pangan ke 648 KDMP di Jawa Timur
Bulog Pasok Komoditas Pangan ke 648 KDMP di Jawa Timur
BUMN
Dilarang Naik Gajah, Ini Alasan Kemenhut Hentikan Wisata Gajah Tunggang
Dilarang Naik Gajah, Ini Alasan Kemenhut Hentikan Wisata Gajah Tunggang
Pemerintah
IPB University Dorong Desa Kembangkan Koperasi dan Ekosistem Bisnis Berkelanjutan
IPB University Dorong Desa Kembangkan Koperasi dan Ekosistem Bisnis Berkelanjutan
Pemerintah
Peneliti Ungkap Kondisi Oksigen Laut Masa Depan lewat Plankton Purba
Peneliti Ungkap Kondisi Oksigen Laut Masa Depan lewat Plankton Purba
LSM/Figur
133.792 Petani Jawa Timur Kelola 198.326 Ha Hutan dalam Skema Perhutanan Sosial
133.792 Petani Jawa Timur Kelola 198.326 Ha Hutan dalam Skema Perhutanan Sosial
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau