Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Beban Lingkungan Baru, Mayoritas Pusat Data Beroperasi di Wilayah Rentan Air

Kompas.com, 20 Oktober 2026, 15:11 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber Phys

KOMPAS.com - Analisis global terbaru menemukan seperempat dari total pusat data di dunia berlokasi di daerah yang mengalami krisis air setidaknya satu bulan setiap tahunnya.

Dalam analisis yang dipublikasikan di jurnal Environmental Science & Technology tersebut, para peneliti memetakan lokasi pusat data dengan ketersediaan air setempat. Hasilnya menunjukkan bahwa di masa depan akibat perubahan iklim, proporsi pusat data di wilayah yang mengalami krisis air bisa meningkat hingga sepertiga dari total keseluruhan.

Melansir Phys, Senin (19/10/2026) ribuan pusat data di seluruh dunia menyediakan ruang penyimpanan informasi dan daya komputasi bagi teknologi kecerdasan buatan (AI) saat ini.

Fasilitas-fasilitas ini membutuhkan air dalam jumlah yang sangat besar untuk mendinginkan mesin server agar tidak terlalu panas. Mereka menyedot pasokan air yang sama dengan yang digunakan oleh warga lokal serta industri sekitar, seperti pertanian dan manufaktur.

Baca juga: Lonjakan Pusat Data Bakal Picu Tsunami Sampah Elektronik

Berbeda dengan energi listrik yang bisa disalurkan dari tempat jauh, air untuk pusat data diambil langsung dari sungai, danau, dan sumur air tanah di sekitarnya yang jumlahnya fluktuatif dari waktu ke waktu.

Oleh karena itu, peneliti membuat peta visualisasi untuk membandingkan lokasi pusat data dengan ketersediaan serta konsumsi air saat ini maupun di masa mendatang.

"Jejak penggunaan energi pusat data sudah terukur secara rinci karena listrik selalu dicatat dan dilaporkan," ujar Lorenzo Rosa, penulis utama studi tersebut.

"Sebaliknya, kelangkaan air diukur secara lokal, tidak konsisten, dan bahkan sering kali tidak dicatat sama sekali. Jadi, kami membuat pemetaan ini karena data tersebut belum pernah ada sebelumnya," katanya lagi.

Pemetaan Lokasi

Para peneliti memetakan 9.347 pusat data yang beroperasi di seluruh dunia, lalu membandingkannya dengan ketersediaan air lokal serta kebutuhan air untuk kota, pemukiman, pertanian, manufaktur, dan pembangkit listrik.

Hasil analisis peta tersebut menunjukkan sekitar 25 persen pusat data berada di wilayah yang mengalami krisis air setidaknya satu bulan setiap tahun, dan sekitar 6 persen berada di wilayah yang mengalami krisis air hampir sepanjang tahun.

Analisis juga menemukan wilayah perkotaan dan pemukiman menjadi pengguna air terbesar di sekitar 41 persen lokasi pusat data, sedangkan sektor pertanian menjadi konsumen utama di 28 persen lokasi lainnya.

"Pusat data ini tidak dibangun di lahan kosong. Kehadirannya langsung 'merebut' pasokan air untuk kota dan lahan pertanian," kata Rosa.

Baca juga: Bagaimana Asia Memenuhi Kebutuhan Energi untuk Lonjakan Pusat Data?

Para peneliti kemudian menghitung perkiraan pasokan dan kebutuhan air di masa depan. Mereka menggunakan beberapa model iklim dengan asumsi suhu bumi memanas hingga 3 derajat Celsius dibanding tahun 1900—kondisi yang diprediksi terjadi 10 hingga 40 tahun dari sekarang.

Hasilnya memperkirakan 33 persen pusat data yang ada saat ini akan berada di wilayah yang kebutuhan airnya melebihi pasokan yang tersedia. Sebagian besar fasilitas tambahan yang terancam krisis air ini berada di Amerika Serikat, tempat 39 persen pusat data dunia saat ini beroperasi.

Temuan ini menunjukkan bahwa pusat data dapat menambah beban berat bagi ketersediaan air di wilayah yang sedang atau diprediksi akan mengalami krisis air.

Dampak pasti dari kelangkaan air ini bagi para pengguna masih perlu diteliti lebih lanjut. Namun, para peneliti menegaskan bahwa pengelola pusat data harus memperhitungkan manajemen air lokal dan kebutuhan infrastruktur dalam perencanaan jangka panjang mereka.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Karhutla Bakar 637.011 Hektar Lahan, Organisasi Lintas Iman Desak Siklus Tahunan Diputus
Karhutla Bakar 637.011 Hektar Lahan, Organisasi Lintas Iman Desak Siklus Tahunan Diputus
Pemerintah
ASRI Menyapa Surabaya, Dorong Siswa dan Guru Wujudkan Sekolah Berkelanjutan
ASRI Menyapa Surabaya, Dorong Siswa dan Guru Wujudkan Sekolah Berkelanjutan
Swasta
Lonjakan Belanja Militer Perparah Perubahan Iklim dan Keamanan Global
Lonjakan Belanja Militer Perparah Perubahan Iklim dan Keamanan Global
Pemerintah
Pengembangan PLTS Terapung Perlu Mitigasi agar Tak Ganggu Fungsi Badan Air
Pengembangan PLTS Terapung Perlu Mitigasi agar Tak Ganggu Fungsi Badan Air
Pemerintah
Rotan Kian Sulit Didapat, Perajin Anyaman Mahakam Ulu Terpaksa Beralih ke Plastik
Rotan Kian Sulit Didapat, Perajin Anyaman Mahakam Ulu Terpaksa Beralih ke Plastik
LSM/Figur
'Cage Free Eggs', Mengangkat Isu Kesejahteraan di Sebutir Telur
"Cage Free Eggs", Mengangkat Isu Kesejahteraan di Sebutir Telur
LSM/Figur
Pelajar Galang Dana lewat Golf untuk Wujudkan Harapan Anak dengan Penyakit Kritis
Pelajar Galang Dana lewat Golf untuk Wujudkan Harapan Anak dengan Penyakit Kritis
LSM/Figur
Dilema Pemanfaatan Dana Karbon di Pedalaman Kalimantan...
Dilema Pemanfaatan Dana Karbon di Pedalaman Kalimantan...
LSM/Figur
Bank Global Kucurkan Rp 10,69 Kuadriliun ke Perusahaan Terkait Deforestasi
Bank Global Kucurkan Rp 10,69 Kuadriliun ke Perusahaan Terkait Deforestasi
Pemerintah
Menjaga Mangrove Tetap Hidup, Bukan Sekadar Menanam
Menjaga Mangrove Tetap Hidup, Bukan Sekadar Menanam
Pemerintah
LSEG: Pemilik Aset Semakin Integrasikan Keberlanjutan ke Dalam Portofolio
LSEG: Pemilik Aset Semakin Integrasikan Keberlanjutan ke Dalam Portofolio
Pemerintah
Bisakah Pemulihan Populasi Hewan Besar Bantu Atasi Perubahan Iklim?
Bisakah Pemulihan Populasi Hewan Besar Bantu Atasi Perubahan Iklim?
Pemerintah
Dari Rotan, Masyarakat Dayak Merawat Tradisi dan Membuka Jalan Penghidupan
Dari Rotan, Masyarakat Dayak Merawat Tradisi dan Membuka Jalan Penghidupan
LSM/Figur
Pembangunan Proyek Batu Bara Baru Tiga Kali Lebih Cepat dari Penghentiannya
Pembangunan Proyek Batu Bara Baru Tiga Kali Lebih Cepat dari Penghentiannya
LSM/Figur
Ketika Greenpeace Mencuri Panggung di Bundaran HI
Ketika Greenpeace Mencuri Panggung di Bundaran HI
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau