KOMPAS.com - Analisis global terbaru menemukan seperempat dari total pusat data di dunia berlokasi di daerah yang mengalami krisis air setidaknya satu bulan setiap tahunnya.
Dalam analisis yang dipublikasikan di jurnal Environmental Science & Technology tersebut, para peneliti memetakan lokasi pusat data dengan ketersediaan air setempat. Hasilnya menunjukkan bahwa di masa depan akibat perubahan iklim, proporsi pusat data di wilayah yang mengalami krisis air bisa meningkat hingga sepertiga dari total keseluruhan.
Melansir Phys, Senin (19/10/2026) ribuan pusat data di seluruh dunia menyediakan ruang penyimpanan informasi dan daya komputasi bagi teknologi kecerdasan buatan (AI) saat ini.
Fasilitas-fasilitas ini membutuhkan air dalam jumlah yang sangat besar untuk mendinginkan mesin server agar tidak terlalu panas. Mereka menyedot pasokan air yang sama dengan yang digunakan oleh warga lokal serta industri sekitar, seperti pertanian dan manufaktur.
Baca juga: Lonjakan Pusat Data Bakal Picu Tsunami Sampah Elektronik
Berbeda dengan energi listrik yang bisa disalurkan dari tempat jauh, air untuk pusat data diambil langsung dari sungai, danau, dan sumur air tanah di sekitarnya yang jumlahnya fluktuatif dari waktu ke waktu.
Oleh karena itu, peneliti membuat peta visualisasi untuk membandingkan lokasi pusat data dengan ketersediaan serta konsumsi air saat ini maupun di masa mendatang.
"Jejak penggunaan energi pusat data sudah terukur secara rinci karena listrik selalu dicatat dan dilaporkan," ujar Lorenzo Rosa, penulis utama studi tersebut.
"Sebaliknya, kelangkaan air diukur secara lokal, tidak konsisten, dan bahkan sering kali tidak dicatat sama sekali. Jadi, kami membuat pemetaan ini karena data tersebut belum pernah ada sebelumnya," katanya lagi.
Para peneliti memetakan 9.347 pusat data yang beroperasi di seluruh dunia, lalu membandingkannya dengan ketersediaan air lokal serta kebutuhan air untuk kota, pemukiman, pertanian, manufaktur, dan pembangkit listrik.
Hasil analisis peta tersebut menunjukkan sekitar 25 persen pusat data berada di wilayah yang mengalami krisis air setidaknya satu bulan setiap tahun, dan sekitar 6 persen berada di wilayah yang mengalami krisis air hampir sepanjang tahun.
Analisis juga menemukan wilayah perkotaan dan pemukiman menjadi pengguna air terbesar di sekitar 41 persen lokasi pusat data, sedangkan sektor pertanian menjadi konsumen utama di 28 persen lokasi lainnya.
"Pusat data ini tidak dibangun di lahan kosong. Kehadirannya langsung 'merebut' pasokan air untuk kota dan lahan pertanian," kata Rosa.
Baca juga: Bagaimana Asia Memenuhi Kebutuhan Energi untuk Lonjakan Pusat Data?
Para peneliti kemudian menghitung perkiraan pasokan dan kebutuhan air di masa depan. Mereka menggunakan beberapa model iklim dengan asumsi suhu bumi memanas hingga 3 derajat Celsius dibanding tahun 1900—kondisi yang diprediksi terjadi 10 hingga 40 tahun dari sekarang.
Hasilnya memperkirakan 33 persen pusat data yang ada saat ini akan berada di wilayah yang kebutuhan airnya melebihi pasokan yang tersedia. Sebagian besar fasilitas tambahan yang terancam krisis air ini berada di Amerika Serikat, tempat 39 persen pusat data dunia saat ini beroperasi.
Temuan ini menunjukkan bahwa pusat data dapat menambah beban berat bagi ketersediaan air di wilayah yang sedang atau diprediksi akan mengalami krisis air.
Dampak pasti dari kelangkaan air ini bagi para pengguna masih perlu diteliti lebih lanjut. Namun, para peneliti menegaskan bahwa pengelola pusat data harus memperhitungkan manajemen air lokal dan kebutuhan infrastruktur dalam perencanaan jangka panjang mereka.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya