JAKARTA, KOMPAS.com - Clean Air Asia dan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) tengah melakukan kajian untuk menghitung beban emisi dari transportasi, industri, dan sumber non energi untuk permukiman, pertanian, serta sampah.
Direktur Indonesia Clean Air Asia, Ririn Radiawati Kusuma, menjelaskan bahwa studi juga bertujuan melihat sebaran emisi di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi (Jabodetabek) dan wilayah penyangga saat musim kemarau.
"Tujuan yang ketiga, mengidentifikasi potensi lokasi sumber pencemar pada saat episode di Jakarta. Jadi kita bisa tahu pada saat musim kemarau (emisi) yang lari ke Jakarta dari mana saja dan seberapa besar," ungkap Ririn dalam konferensi pers di Jakarta Pusat, Selasa (22/7/2025).
Baca juga: Jurus KLH Atasi Polusi Udara Jabodetabek di Tengah Musim Kemarau
Ia mengatakan, studi itu menargetkan daerah selain Jabodetabek yakni Karawang, Subang, Purwakarta, Cilegon, Serang, Indramayu, dan Cirebon. Kota-kota itu dikenal memiliki banyak aktivitas perindustrian.
“Sebenarnya hasilnya sudah ada, tapi masih didiskusikan, makanya tidak bisa dipresentasikan. Hasil akhirnya pada Agustus,” sebut Ririn.
Hasil studi tersebut nantinya akan menjadi rekomendasi bagi pemerintah untuk menentukan langkah dalam pengendalian emisi udara di Jabodetabek. Hal ini sejalan dengan langkah KLH yang sedang menyusun regulasi teknis terkait Wilayah Perlindungan dan Pengelolaan Mutu Udara (WPPMU).
Baca juga: Menteri LH Minta Industri Siapkan Road Map Atasi Polusi Udara
"Karena untuk WPPMU itu daerah butuh inventarisasi emisi, jadi nyari sumbernya apa, terus nanti rencananya seperti apa," tutur dia.
Adapun penelitian menggunakan data dasar tahun 2024 yang bersumber dari laporan KLH serta perhitungan emisi industri. Para peneliti memantau 1.282 industri dengan total 10.343 cerobong asap.
"Sementara dari data sektor transportasi, kami mengukur volume kendaraan dari 712 ruas jalan yang terkumpul. Data jalan diklasifikasikan jadi tiga jenis yakni arteri, kolektor, dan lokal untuk melihat volume komposisi kendaraan," papar Ririn.
"Untuk sektor non energi, dari konstruksi, sampah, pertanian, dan permukiman itu berasumber dari data yang tersedia dari masing-masing dinas," imbuh dia.
Metode pencitraan spasial menggunakan perangkat lunak sistem informasi geospasial ArcGIS. Sememtara, resolusi dari penggambaran spasial mencakup Provinsi Jawa Barat, Jakarta, dan Banten.
Baca juga: Pertamina Kembangkan Aplikasi Greenomina untuk Dorong Gaya Hidup Rendah Emisi
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya