KOMPAS.com - Perubahan iklim dan urbanisasi meningkatkan potensi terjadinya kasus infeksi dari bakteri Leptospira, yang ditemukan dalam urin tikus.
Banjir di beberapa tempat, termasuk rob, memicu kasus Leptospirosis — yang telah meningkat drastis akibat perubahan iklim dan urbanisasi — menjadi kejadian luar biasa atau mewabah (outbreak).
"Potensi risiko (penyakit Leptospirosis) akan meningkat cukup untuk tahun-tahun ke depan. (termasuk juga) potensi untuk terjadinya outbreak Leptospirosis," ujar peneliti ahli muda Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi BRIN, Arief Mulyono dalam webinar beberapa hari lalu.
Outbreak kasus Leptospirosis pernah terjadi pasca banjir di Semarang, Demak, dan Jakarta. Buruknya sanitasi berkontribusi terhadap outbreak kasus Leptospirosis karena menyediakan makanan bagi tikus sebagai agen penyebaran bakteri Leptospira.
Tikus merupakan penular patogen zoonosis atau penyakit dari hewan yang bisa menginfeksi manusia. Tikus mampu membawa sekitar 88 patogen yang terdiri dari virus, parasit, bakteri, sampai infeksi jamur.
Tikus dapat bereproduksi dengan sangat cepat. Bahkan, sehari usai melahirkan banyak anak, tikus sudah bisa kawin lagi. Ini merupakan kemampuan tikus yang berperan cukup vital sebagai sasaran penyakit.
Perubahan iklim menaikkan frekuensi tikus untuk berkembang biak dan meningkatkan keberhasilan hidup anaknya pasca melahirkan. Kenaikan suhu akibat perubahan iklim juga berdampak terhadap ekologi tikus.
Baca juga: Asia Tenggara Kini Jadi Magnet Hijau, Banjir Dana Iklim
Tikus akan senantiasa berpindah ke wilayah yang nyaman untuk berkembang biak.
"Tikus akan bermigrasi dari zona yang sudah tidak nyaman baginya, ke zona yang bisa ditoleransi olehnya. Tikus menginvasi daerah-daerah yang dulunya tidak bersahabat karena ada perubahan iklim. Saat bermigrasi, tikus juga membawa patogen, besar potensinya terhadap penyebaran zoonosis," tutur Arief.
Kenaikan curah hujan akibat perubahan iklim meningkatkan ketersediaan makanan bagi tikus, yang pada gilirannya hewan pengerat ini semakin cepat bereproduksi.
Di sisi lain, kerusakan habitat tikus mendekatkannya ke tempat tinggal manusia. Imbasnya, kasus zoonosis naik seiring peningkatan interaksi antara manusia dan tikus.
"Ketersediaan makanan, terutama di daerah-daerah pertanian yang dulunya hutan, sekarang terbuka, menyebabkan tikus populasinya meningkat. Peningkatkan populasi tikus menguatkan daya hidup patogen serta membuatnya lebih cepat untuk bereplikasi pada tubuh inangnya dan meningkatkan transmisinya," ucapnya.
Selain Leptospirosis, penyakit lain yang dibawa oleh tikus juga mengalami peningkatan kasus akibat perubahan iklim. Misalnya, kasus orhohantavirus meningkatkan secara global dalam 10 tahun terakhir, termasuk di Indonesia.
"Ini kasusnya di Indonesia saat ini juga awal-awal tahun ini cukup banyak ditemukan karena kesadaran dari kemampuan untuk mendeteksinya di Indonesia sudah baik," ujar Arief.
Baca juga: Banjir Adalah Politik: Soliditas Kita Melawan Bisa Jadi Jalan Keluar
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya