KOMPAS.com - Sektor barang mewah tengah menghadapi tantangan isu lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG).
Dahulu, merek-merek mewah terlindungi oleh citra eksklusivitas dan prestise. Namun, sekarang mereka berada di bawah tekanan kuat dari regulator, investor, dan konsumen untuk membuktikan bahwa rantai pasok dan praktik bisnis mereka memenuhi standar etika modern.
Melansir Know ESG, Kamis (18/9/2025) inti dari permasalahan tersebut adalah praktik pengadaan bahan baku dan ketenagakerjaan merek-merek mewah.
Bahan baku seperti kulit eksotis, logam mulia, dan batu langka kini diperiksa ketat, baik untuk dampak lingkungannya maupun risiko pelanggaran hak asasi manusia.
"Mengelola kesejahteraan hewan dan manusia dalam rantai pasok sangatlah penting bagi sektor barang mewah secara keseluruhan, karena kesalahan dapat merusak nilai merek, memicu boikot konsumen, dan menyebabkan denda," catat analis dari perusahaan jasa keuangan Jefferies.
Baca juga: Ekonomi Sirkular, Solusi Nyata Masalah Limbah di Indonesia
Asal-usul bahan baku telah menjadi isu utama, di mana konsumen menuntut untuk mengetahui dari mana dan bagaimana produk dibuat. Kesejahteraan hewan tetap menjadi isu sensitif, terutama terkait barang-barang dari bulu, buaya, dan ular piton.
Pada saat yang sama, laporan mengenai kondisi yang tidak aman dan praktik kerja eksploitatif dalam rantai pasok global menimbulkan risiko reputasi dan finansial.
Beberapa kasus misalnya saja yang terjadi pada brand Loro Piana yang Piana menghadapi kecaman terkait kondisi kerja di peternakan vicuña di Peru. Sementara itu, Dior dan Armani terseret kasus pemasok di Italia yang diduga melakukan eksploitasi terhadap pekerja migran.
Pengungkapan ini bisa dengan cepat merusak kepercayaan terhadap merek dan memicu kemarahan konsumen.
Selain itu, praktik lama di industri mewah, yaitu menghancurkan barang yang tidak laku terjual demi menjaga eksklusivitas, kini juga mendapat sorotan tajam.
Dengan adanya regulasi yang lebih ketat, seperti Undang-Undang Anti-Limbah untuk Ekonomi Sirkular di Prancis, merek-merek dipaksa untuk memikirkan kembali praktik ini.
Para investor dan analis mulai mengajukan pertanyaan sulit tentang bagaimana perusahaan akan mendaur ulang atau menggunakan kembali stok barang tanpa mengorbankan nilai merek mereka.
Pergeseran ini telah memicu diskusi tentang penerapan prinsip ekonomi sirkular, memikirkan kembali desain produk, mengembangkan program pengembalian produk, dan berinvestasi pada teknologi daur ulang.
Baca juga: Tiga Tantangan Ekonomi Sirkular, Satu di Antaranya Daur Ulang
Bagi konglomerat seperti LVMH dan Kering, ini merupakan tantangan sekaligus peluang untuk menjadi pemimpin dalam hal keberlanjutan.
Namun kabar baiknya, industri ini juga perlahan mencoba beradaptasi. Merek-merek seperti CFCL dan Asket memberikan contoh dengan secara terbuka mengungkap daftar pemasok, mempublikasikan tanggal audit, bahkan menawarkan program bagi konsumen untuk mengembalikan barang yang sudah usang untuk didaur ulang.
Inisiatif-inisiatif ini masih jarang, tetapi menjadi sinyal pergeseran menuju transparansi dan akuntabilitas yang lebih besar.
Merek-merek yang mengintegrasikan ESG ke dalam setiap bagian rantai nilai mereka, mulai dari pengadaan bahan baku, ketenagakerjaan, hingga inventaris yang tidak terjual tidak hanya akan memenuhi tuntutan regulasi, tetapi juga akan mendapatkan kepercayaan konsumen.
Dengan melakukan hal tersebut, mereka juga dapat membantu mendefinisikan kembali makna kemewahan itu sendiri yakni eksklusivitas yang berpasangan dengan tanggung jawab serta ketahanan.
Baca juga: Survei Bloomberg Sebut Investor Percaya dengan Masa Depan Investasi ESG
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya