Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Perubahan Iklim Picu Pohon di Hutan Hujan Amazon Tumbuh Lebih Besar

Kompas.com, 26 September 2025, 17:31 WIB
Monika Novena,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Ukuran rata-rata pohon di hutan hujan Amazon terus meningkat seiring dengan naiknya kadar karbon dioksida di atmosfer.

Ini berarti pohon-pohon yang lebih besar ini memainkan peran yang semakin penting dalam menentukan apakah hutan tersebut dapat terus berfungsi sebagai penyerap karbon.

Bagaimana hutan akan bereaksi terhadap perubahan iklim adalah pertanyaan yang masih terbuka.

Sebagai contoh, satu hipotesis mengatakan bahwa pohon yang lebih besar akan berkurang jumlahnya karena mereka lebih rentan terhadap fenomena yang berkaitan dengan iklim, seperti kekeringan atau angin kencang.

Memahami bagaimana hal ini akan terjadi sangat penting untuk model iklim masa depan. Ini karena hutan menyerap sejumlah besar CO2 dari atmosfer, menguncinya untuk memperlambat pemanasan global.

Baca juga: Deforestasi Amazon Kurangi Curah Hujan dan Picu Kenaikan Suhu

Melansir New Scientist, Kamis (25/9/2025) dalam studi ini Adriane Esquivel-Muelbert dari University of Cambridge dan rekan-rekannya di RAINFOR Amazon Forest Inventory Network telah mengukur diameter pohon di 188 lokasi pengamatan.

Setiap lokasi memiliki luas rata-rata 12.000 meter persegi yang tersebar di seluruh cekungan Amazon.

Periode pemantauan bervariasi, tetapi beberapa di antaranya berlangsung hingga 30 tahun. Selama periode tersebut, konsentrasi CO2 di atmosfer telah meningkat hampir seperlima.

"Apa yang kami pantau adalah suatu ruang di hutan, dan di ruang itu ukuran rata-rata pohon menjadi lebih besar. Ini berarti pohon dapat menyimpan lebih banyak karbon di ruang tersebut dibandingkan dengan masa lalu," kata Esquivel-Muelbert.

Para peneliti menemukan bahwa, rata-rata, diameter pohon telah meningkat sekitar 3,3 persen setiap dekade.

Rebecca Banbury Morgan, salah satu anggota tim dari University of Bristol, Inggris, mengatakan struktur Hutan Amazon sedang berubah secara cukup seragam di seluruh cekungan.

"Kita sekarang memiliki lebih banyak pohon yang ukurannya lebih besar dan lebih sedikit pohon yang kecil, sehingga ukuran rata-rata telah bergeser naik ke arah pohon-pohon yang lebih besar itu," katanya.

Morgan mengatakan pula bahwa biasanya diameter rata-rata pohon di hutan tua yang tidak tersentuh akan tetap kurang lebih sama. Ini terjadi karena pohon muda menggantikan pohon besar yang tumbang dan terus tumbuh.

Baca juga: Perubahan Iklim dan Deforestasi Ubah Hutan Amazon Menjadi Sabana dalam Waktu Seabad

Para peneliti meyakini bahwa pohon-pohon Amazon merespons kenaikan kadar CO2 atmosfer dengan tumbuh lebih banyak dan mengakumulasi biomassa lebih besar dan pemenangnya adalah pohon-pohon besar yang bersaing lebih baik untuk cahaya dan air.

Sehingga ini berarti pohon-pohon besar sangat penting terhadap jumlah karbon yang dapat ditahan oleh hutan dan konsekuensi dari hilangnya pohon-pohon besar ini pun akan menjadi sangat besar.

"Temuan pentingnya adalah bahwa CO2 telah bertindak sebagai pupuk, meningkatkan pertumbuhan pohon. Dalam banyak hal, itu melegakan, karena kayu adalah penyerap karbon yang signifikan secara global," papar Peter Etchells dari Durham University, Inggris.

"Namun yang menjadi pertanyaan apakah ini akan terus terjadi seiring perubahan iklim dan berpotensi menggeser keseimbangan antara pertumbuhan, nutrisi, suhu, dan CO2," tambahnya.

Studi ini dipublikasikan di Nature Plants.

Baca juga: Pemberlakukan UU Deforestasi UE Ditunda Lagi, Gara-Gara Masalah Teknis

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
'Hutan Bukan Mainan': Menanam Harapan Lintas Generasi di Sedekah Hutan 2026
'Hutan Bukan Mainan': Menanam Harapan Lintas Generasi di Sedekah Hutan 2026
LSM/Figur
Hari Gajah Sedunia 2026: Hilangnya Hutan Jadi Ancaman Terbesar Gajah Sumatra
Hari Gajah Sedunia 2026: Hilangnya Hutan Jadi Ancaman Terbesar Gajah Sumatra
LSM/Figur
Karbon, Hutan Adat, dan Keadilan Tertunda
Karbon, Hutan Adat, dan Keadilan Tertunda
Pemerintah
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Swasta
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
LSM/Figur
Dampak Kekeringan, Perancis Batasi Pemakaian Air di 70 Persen Wilayahnya
Dampak Kekeringan, Perancis Batasi Pemakaian Air di 70 Persen Wilayahnya
Pemerintah
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Swasta
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
LSM/Figur
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Swasta
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
Pemerintah
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
LSM/Figur
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Pemerintah
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
LSM/Figur
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
Pemerintah
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau