Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Booming AI dan Pusat Data Picu Peningkatan Polusi PFAS

Kompas.com, 6 Oktober 2025, 17:00 WIB
Monika Novena,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

Sumber Guardian


KOMPAS.com - Kebutuhan listrik yang besar pusat data untuk mengoperasikan kecerdasan buatan (AI) dianggap memperlambat upaya peralihan ke energi bersih, bahkan memaksa pembangkit listrik berbahan bakar fosil untuk tetap beroperasi.

Tingginya tingkat konsumsi air pusat data juga menimbulkan kekhawatiran tersendiri.

Kini, ada masalah baru yang muncul akibat naiknya tren penggunaan AI dan pusat data. Aktivis kesehatan mulai mencemaskan adanya masalah lingkungan baru yakni polusi PFAS yang berhubungan dengan operasional pusat data tersebut.

PFAS adalah kelompok yang terdiri dari kurang lebih 16.000 jenis zat kimia. Fungsi utamanya adalah memberikan sifat antifoto, antinoda, dan antilemak pada produk.

Senyawa ini berbahaya karena diduga menjadi penyebab kanker, cacat lahir, kekebalan tubuh yang melemah, kolesterol tinggi, gangguan ginjal, dan penyakit serius lainnya.

Zat ini dikenal sebagai "bahan kimia abadi" karena tidak bisa terurai secara alami di alam.

Baca juga: Meta Bangun Pusat Data dengan Kayu Rekayasa agar Lebih Berkelanjutan, Cukupkah?

Melansir Guardian, Sabtu (4/10/2025) perusahaan teknologi raksasa seperti Google, Microsoft, dan Amazon sangat bergantung pada pusat data.

Fasilitas ini berfungsi menyimpan server dan perlengkapan jaringan yang diperlukan untuk mengolah semua data digital di dunia.

Kini, lonjakan popularitas AI semakin memicu kebutuhan akan pembangunan lebih banyak pusat data.

Para aktivis menyoroti kekhawatiran khusus terkait penggunaan gas PFAS (f-gas) di data center.

Gas ini dikenal sebagai gas rumah kaca yang sangat kuat, yang mengindikasikan bahwa dampak lingkungan dari data center jauh lebih parah dari perkiraan awal.

Jenis f-gas lain di fasilitas ini terurai menjadi senyawa berbahaya yang saat ini sedang menumpuk secara cepat di seluruh penjuru bumi.

Belum ada pengujian yang dilakukan untuk mendeteksi polusi PFAS di udara atau air, dan perusahaan tidak wajib melaporkan jumlah bahan kimia yang mereka pakai atau lepaskan ke lingkungan.

Namun demikian, beberapa organisasi lingkungan kini mulai mendorong undang-undang yang akan mewajibkan adanya pelaporan yang lebih ketat.

"Kami tahu PFAS ada di pusat data, dan zat itu pasti berakhir di suatu tempat di lingkungan," kata Jonathan Kalmuss-Katz, seorang pengacara dari organisasi nirlaba Earthjustice.

"Masalah ini sangat kurang dipelajari saat kita terus membangun data center, dan tidak ada informasi yang memadai tentang dampak jangka panjangnya," paparnya lagi yang juga memantau penggunaan PFAS di data center.

Para aktivis lingkungan berpendapat bahwa pusat data meningkatkan polusi PFAS melalui dua jalur.

Pertama, PFAS diperlukan untuk operasional pusat data misalnya pada sistem pendingin, yang hampir pasti menimbulkan pencemaran di lokasi tersebut.

Baca juga: Ide Pusat Data Masa Depan: Di Laut, Pakai Energi Angin, Hemat Listrik

Kedua, PFAS yang ada pada perangkat di pusat data harus dikelola limbahnya. Ini menjadi masalah karena zat kimia ini tidak dapat dihilangkan sepenuhnya dari lingkungan.

Selain itu, sejumlah besar PFAS dipakai dalam proses manufaktur semikonduktor untuk data center, sehingga memperparah polusi di lokasi pabrik-pabrik produksi komponen tersebut.

Industri pusat data berargumen bahwa f-gas yang bocor tidak berbahaya karena akan terurai di udara menjadi senyawa yang dikenal sebagai Trifluoroacetic acid (TFA).

Riset terkini menunjukkan TFA jauh lebih toksik dari perkiraan awal, dan berpotensi mengganggu sistem reproduksi manusia layaknya zat PFAS lainnya.

Sementara itu menurut dokumen industri, setiap peralatan atau limbah PFAS yang sengaja dikeluarkan dari pusat data akan berakhir di tempat pembuangan akhir, di mana ia dapat mencemari perairan lokal, atau dibakar.

Namun, pembakaran tidak sepenuhnya menghancurkan senyawa PFAS tapi hanya memecahnya menjadi potongan-potongan yang lebih kecil yang masih berupa PFAS, atau menjadi produk sampingan lain dengan risiko kesehatan yang tidak diketahui.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
'Hutan Bukan Mainan': Menanam Harapan Lintas Generasi di Sedekah Hutan 2026
'Hutan Bukan Mainan': Menanam Harapan Lintas Generasi di Sedekah Hutan 2026
LSM/Figur
Hari Gajah Sedunia 2026: Hilangnya Hutan Jadi Ancaman Terbesar Gajah Sumatra
Hari Gajah Sedunia 2026: Hilangnya Hutan Jadi Ancaman Terbesar Gajah Sumatra
LSM/Figur
Karbon, Hutan Adat, dan Keadilan Tertunda
Karbon, Hutan Adat, dan Keadilan Tertunda
Pemerintah
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Swasta
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
LSM/Figur
Dampak Kekeringan, Perancis Batasi Pemakaian Air di 70 Persen Wilayahnya
Dampak Kekeringan, Perancis Batasi Pemakaian Air di 70 Persen Wilayahnya
Pemerintah
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Swasta
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
LSM/Figur
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Swasta
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
Pemerintah
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
LSM/Figur
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Pemerintah
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
LSM/Figur
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
Pemerintah
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau