Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Inisiatif Food Waste Breakthrough: Target Potong Setengah Sampah Makanan Kota

Kompas.com, 17 November 2025, 19:00 WIB
Monika Novena,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Program Lingkungan PBB (UNEP) dan para mitra meluncurkan sebuah inisiatif baru untuk memotong setengah limbah makanan pada tahun 2030 dan mengurangi hingga tujuh persen emisi metana sebagai bagian dari upaya untuk memperlambat perubahan iklim.

Inisiatif baru yang disebut Food Waste Breakthrough ini diluncurkan di COP30 di Belem, Brasil, Sabtu (15/11/2025).

Inisiatif tersebut merupakan Solusi Iklim 2030 di bawah Kemitraan Marrakech untuk Aksi Iklim Global (Marrakech Partnership for Global Climate Action) untuk menyatukan pemerintah, kota, dan masyarakat sipil untuk bertindak mengatasi isu yang menyentuh inti dari kelaparan global dan perubahan iklim.

Melansir Eco Business, dunia membuang lebih dari satu miliar ton makanan setiap tahun, menyumbang hingga 10 persen dari emisi gas rumah kaca global.

Makanan sendiri menyumbang hingga 14 persen dari emisi metana. Itu merupakan polutan iklim berumur pendek yang 84 kali lebih kuat dalam menghangatkan atmosfer daripada karbon dioksida selama 20 tahun.

Baca juga: Pajak Makanan, Solusi Ganda Selamatkan Nyawa Sekaligus Iklim

Dengan kontribusi terhadap kerugian finansial sebesar 1 triliun dolar AS per tahun, mengurangi sampah makanan menawarkan salah satu solusi paling hemat biaya, terukur, dan berdampak tinggi untuk mengatasi perubahan iklim dan kelaparan, terutama di perkotaan.

“Dunia membuang makanan dalam jumlah yang sangat banyak setiap tahun, di setiap negara, kaya maupun miskin,” kata Inger Andersen, Direktur Eksekutif UNEP.

Itu mengapa mengurangi sampah makanan merupakan kunci untuk mengatasi kelaparan sekaligus mengurangi emisi metana dari tempat pembuangan sampah.

Ini juga merupakan tindakan tegas untuk menurunkan suhu global, menghemat uang dan mengatasi kerawanan pangan secara bersamaan.

"Food Waste Breakthrough adalah inisiatif yang kita butuhkan untuk mengendalikan perubahan iklim dan menyimpan makanan bergizi bagi mereka yang membutuhkannya," ungkap Inger lagi.

Lebih lanjut, jika emisi metana tidak ditangani, dampaknya dapat meningkat dua kali lipat pada 2050 sehingga mengancam iklim dan ketahanan pangan kita.

Baca juga: Industri Makanan Gagal Penuhi Komitmen Dasar Kemasan Berkelanjutan

Namun dengan menyatukan pemerintah, kota, bisnis, dan komunitas di seluruh dunia untuk mengurangi separuh sampah makanan pada 2030 dan mencegah makanan berakhir di tempat pembuangan akhir, metana dapat dikurangi, kekurangan pangan dan sampah juga akan jadi sejarah.

UNEP akan meluncurkan proyek global senilai 3 juta dolar AS selama empat tahun untuk mengimplementasikan target Food Waste Breakthrough.

Proyek ini akan mempercepat pencegahan limbah makanan dan mitigasi metana dengan mengadaptasi dan meningkatkan skala solusi yang telah terbukti di tingkat nasional dan sub-nasional di negara-negara berkembang, serta mendorong kolaborasi global dalam topik ini.

“Menangani limbah makanan melalui pencegahan dan perubahan perilaku tidak hanya menjanjikan aksi iklim yang hemat biaya, tetapi juga mendukung konsumsi berkelanjutan,” ujar Carlos Manuel Rodríguez, CEO dan Ketua Global Environment Facility.

Baca juga: Inovasi Keimigrasian di KEK Gresik, Langkah Strategis Perkuat Ekonomi Hijau dan Iklim Investasi Indonesia

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
'Hutan Bukan Mainan': Menanam Harapan Lintas Generasi di Sedekah Hutan 2026
'Hutan Bukan Mainan': Menanam Harapan Lintas Generasi di Sedekah Hutan 2026
LSM/Figur
Hari Gajah Sedunia 2026: Hilangnya Hutan Jadi Ancaman Terbesar Gajah Sumatra
Hari Gajah Sedunia 2026: Hilangnya Hutan Jadi Ancaman Terbesar Gajah Sumatra
LSM/Figur
Karbon, Hutan Adat, dan Keadilan Tertunda
Karbon, Hutan Adat, dan Keadilan Tertunda
Pemerintah
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Swasta
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
LSM/Figur
Dampak Kekeringan, Perancis Batasi Pemakaian Air di 70 Persen Wilayahnya
Dampak Kekeringan, Perancis Batasi Pemakaian Air di 70 Persen Wilayahnya
Pemerintah
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Swasta
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
LSM/Figur
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Swasta
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
Pemerintah
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
LSM/Figur
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Pemerintah
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
LSM/Figur
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
Pemerintah
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau