Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Prospek Bagus, Penasehat Presiden Jawab Kritik soal Jualan Karbon di COP30

Kompas.com, 21 November 2025, 10:00 WIB
Add on Google
Manda Firmansyah,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Sejumlah organisasi masyarakat sipil menganggap Paviliun Indonesia di Konferensi Iklim ke-30 (KTT COP30) terlalu sibuk berjualan karbon.

Penasehat Presiden Urusan Energi, Purnomo Yusgiantoro, tidak menyangkal bahwa Indonesia memang berjualan karbon di KTT COP30.

Menurut Purnomo, Indonesia berjualan karbon di KTT COP30 karena pertimbangan prospeknya yang cukup bagus.

"Prospek karbon kita besar sekali untuk bisa dijual dan itu bisa membantu perekonomian kita. Memang betul kita punya nilai tambah karbon. Lha, sekarang kalau you sebagai manusia punya human capital, misalnya you pintar di bidang ini, ya kan mestinya ditonjolkan toh? Supaya you dapat pasar kan?" ucapnya di Jakarta, Kamis (20/11/2025).

Baca juga: Fokus Perdagangan Karbon, Misi RI di COP 30 Dinilai Terlalu Jualan

Di dalam strategi transisi energi yang membantu pertumbuhan ekonomi, kata dia, Indonesia akan mengimplementasikan tarif pajak karbon dan sistem perdagangan karbon (ETS) untuk mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK) yang dihasilkan dari energi berbahan bakar fosil.

Indonesia akan melanjutkan kegiatan eksplorasi produk untuk mendukung keberlangsungan suplai energi fosil pada masa transisi.

Selain itu, mengembangkan teknologi Carbon Capture Storage (CCS) dan Carbon Capture Utilization and Storage (CCUS) dengan potensi kapasitas penyimpanan CO2 sekitar 570 Gton. Ini untuk mendukung pasar internasional dan menjadi pemain strategis dalam memberikan solusi global.

"Masalah karbon ini memang sedang ada pemikiran dari pemerintah untuk bagaimana kita membuat apa yang disebut dengan karbon," ujar Purnomo.

Sebelumnya, Direktur Eksekutif CELIOS, Bhima Yudhistira Adhinegara menganggap, Paviliun Indonesia di Konferensi Iklim ke-30 (KTT COP30) lebih sibuk berjualan karbon ketimbang mencari dukungan untuk menangani ancaman keberlajutan ekosistem gambut dan laut.

Indonesia menawarkan kredit karbon sebagai solusi penanganan krisis iklim. Di dokumen komitmen iklim, Second Nationally Determined Contribution (SNDC), Indonesia secara eksplisit ingin mempersiapkan pasar karbon sukarela (voluntary carbon market/VCM).

Ia khawatir perdagangan karbon justru menjadi distraksi dalam upaya adaptasi dan mitigasi krisis iklim.

"Jadi, hilang fokus pemerintah. Alokasi sumber daya, termasuk APBN yang harusnya bisa mendukung masyarakat di pesisir, yang bisa mendukung cara-cara pemanfaatan yang lebih baik, itu semua akhirnya pindah hanya untuk mempromosikan pasar karbon," ucapnya di Jakarta, Rabu (19/11/2025).

Dalam setahun terakhir, karbon sebenarnya menjadi pasar yang paling sepi dibandingkan kripto dan saham. Menurut Bhima, investor enggan membeli kredit karbon lantaran SNDC tidak mencerminkan keseriusan Indonesia untuk menurunkan emisi gas rumah kaca (GRK). Indonesia tidak menghargai keanekaragaman hayati di berbagai ekosistem, kecuali nilai sebagai kredit karbon.

"Kenapa kok yang dijual justru kredit karbonnya? Hanya karena ada beberapa hutan dan laut yang bisa difinansialisasi, tadi (yang) bisa dijual," ucapnya.

Baca juga: Climate Policy: Pangkas Emisi Tak Cukup dengan Jualan Karbon

Senada, Deputi Pengelolaan Program dan Jaringan KIARA, Erwin Suryana mengatakan, dalam SNDC, laut dipandang sebagai aset karbon yang bisa diperdagangkan. SNDC mengkomodifikasi alam, memposisikan laut hanya sekadar komoditas. Negara bertindak sebagai broker iklim, dengan memediasi kapital global dan sumber daya lokal.

"Ini jadinya kayak etalase SNDC ini, yang kemudian pemerintah ini seolah-olah jadi, pedagang eceran," ujar Erwin.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Perusahaan yang Punya Komitmen pada ESG Lebih Cepat Bangkit dari Krisis
Perusahaan yang Punya Komitmen pada ESG Lebih Cepat Bangkit dari Krisis
LSM/Figur
Memilah Berulang Jadi Kesulitan Para Ibu Pengelola Sampah
Memilah Berulang Jadi Kesulitan Para Ibu Pengelola Sampah
LSM/Figur
ASN di Bekasi Bisa Berhemat BBM sejak Kebijakan WFH
ASN di Bekasi Bisa Berhemat BBM sejak Kebijakan WFH
Pemerintah
Meleset dari Janji, Emisi Karbon Penerbangan Eropa Malah Melonjak Tinggi
Meleset dari Janji, Emisi Karbon Penerbangan Eropa Malah Melonjak Tinggi
Pemerintah
Studi Ungkap Perilaku Laki-Laki Cenderung Punya Jejak Karbon Lebih Besar
Studi Ungkap Perilaku Laki-Laki Cenderung Punya Jejak Karbon Lebih Besar
Pemerintah
Tukang Sampah dan Warga di Daerah Langganan Banjir Paling Berisiko Terinfeksi Hantavirus
Tukang Sampah dan Warga di Daerah Langganan Banjir Paling Berisiko Terinfeksi Hantavirus
LSM/Figur
Perubahan Iklim Jadi Risiko Bisnis, Dunia Usaha Didorong Lakukan Mitigasi Secara Terukur
Perubahan Iklim Jadi Risiko Bisnis, Dunia Usaha Didorong Lakukan Mitigasi Secara Terukur
Pemerintah
Perusahaan Raksasa Dunia Ramai-ramai PHK Karyawan, Ada Meta dan Amazon
Perusahaan Raksasa Dunia Ramai-ramai PHK Karyawan, Ada Meta dan Amazon
Swasta
PBB: Kekerasan Online Terhadap Perempuan di Ranah Publik Semakin Canggih
PBB: Kekerasan Online Terhadap Perempuan di Ranah Publik Semakin Canggih
Pemerintah
WHO Selidiki Risiko Hantavirus Menular Antar Manusia, Apakah Mengulang Pandemi Covid-19?
WHO Selidiki Risiko Hantavirus Menular Antar Manusia, Apakah Mengulang Pandemi Covid-19?
LSM/Figur
Danantara Dinilai Mampu Percepat Transisi Energi
Danantara Dinilai Mampu Percepat Transisi Energi
LSM/Figur
Pekerja Migran Indonesia di Jepang Perkuat Jejaring Lewat Pentas Budaya
Pekerja Migran Indonesia di Jepang Perkuat Jejaring Lewat Pentas Budaya
Pemerintah
Praktik 'Open Dumping' Masih Marak Terjadi Imbas Minimnya Anggaran Daerah
Praktik "Open Dumping" Masih Marak Terjadi Imbas Minimnya Anggaran Daerah
LSM/Figur
Kampanye Tahun Petani Perempuan, Tingkatkan Ketahanan Pangan di Tengah Krisis Iklim
Kampanye Tahun Petani Perempuan, Tingkatkan Ketahanan Pangan di Tengah Krisis Iklim
Pemerintah
Populasi Serangga Berkurang Sebabkan Gizi Pangan Turun, Kok Bisa?
Populasi Serangga Berkurang Sebabkan Gizi Pangan Turun, Kok Bisa?
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau