Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kisah Kampung Berseri Astra Cidadap, Ubah Tambang Ilegal Jadi Ekowisata

Kompas.com, 22 November 2025, 13:00 WIB
Zintan Prihatini,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

BANDUNG BARAT, KOMPAS.com - Kampung Berseri Astra (KBA) Cidadap, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, menjadi contoh di mana masyarakat berinisiatif mengubah wajah tambang ilegal menjadi kawasan pariwisata.

Penggerak KBA Cidadap, Deden Syarif Hidayat, menceritakan gerakan tersebut bermula dari keprihatinan para pemuda terhadap kerusakan lingkungan di bentang alam karst Citatah, Padalarang akibat aktivitas tambang. Inisiatif ini berlangsung sejak 2009 lalu mendapatkan dukungan Grup Astra pada 2017.

"Tadinya memang kesadaran saya melihat bahwa ini persoalan lingkungan di kawasan Karst Citata ini seakan sudah menjadi budaya dan rusak, jadi seakan masyarakat terbiasa," ujar Deden dalam Workshop Lingkungan Astra, Jumat (21/11/2025).

Baca juga: Tambang Batu Bara Bekas Masih Lepaskan Karbon, Studi Ungkap

Komunitas di kampungnya pun mulai khawatir, jika dibiarkan maka karst Citatah akan kian tergerus. Deden dan anggota komunitas itu lantas mengedukasi warga terkait dampak pertambangan ilegal di kawasan lindung.

"Bukan berarti kami anti pertambangan dan bukan berarti kita anti produksi, permasalahannya adalah pertambangan ilegal di kawasan lindung," tutur dia.

Ia mengaku tak mudah mengedukasi, sosialisasi, dan mengajak masyarakat untuk turut berkontribusi langsung. Perlahan, mereka memahami manfaat tebing dan efek berkepanjangan tambang terhadap sumber mata air yang kian berkurang. Permasalahan lainnya, hilangnya keanekaragaman hayati.

"Saya pernah ditanya oleh pengusaha ilegal itu 'kalau gunung ini tidak ditambang, masyarakat mau makan apa?' Kemudian kami jawab 'justru kalau gunung ini habis, nanti masyarakat mau makan apa?'," tutur Deden.

Baca juga: 36 Tambang Ilegal di Merapi Ditindak, Kemenhut Siap Pulihkan Ekosistem

Kala itu, Deden dan pemuda di desanya bahkan mendapatkan ancaman. Namun, ia tak berhenti, dan terus berupaya memulihkan lingkungan hingga terbangunlah Stone Garden dengan ciri khas tebing dan batu gamping.

Konon, kawasan itu merupakan dasar laut purba yang terangkat. Di sekitarnya terdapat jejak peradaban manusia purba. Menurut Deden, selain ekowisata, masyarakat membuka pemginapan maupun berjualan di sekitar lokasi.

"Peningkatannya (ekonomi) sepertinya bahkan 5 kali lipat lah ya atau 10 kali lipat yang saya lihat," ucap dia.

Kampung Berseri Astra Cidadap melibatkan lebih dari 60 kader lingkungan yang berperan aktif mengelola sampah, edukasi ketahanan pangan, hingga pemanfaatan komposter cair dan eco-enzyme.

Kampung ini juga telah meraih penghargaan Trophy Utama Program Kampung Iklim (ProKlim) dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, dengan pelaksanaan lebih dari 5 kegiatan lingkungan setiap tahunnya dan keterlibatan ratusan warga dalam berbagai program edukasi dan aksi pelestarian lingkungan.

Sementara itu, Head of Internal Communications PT Astra International, Regina Panontongan, menyebur perusahaannya berkecimpung dalam upaya pelestarian lingkungan.

"Tujuannya untuk memberikan kontribusi positif yang bermanfaat luas bagi masyarakat di sekitarnya. Astra sendiri menjalankan kontribusi sosial sudah sejak lama," kata Regina.

Astra, lanjut dia, memiliki empat pilar perusahaan yakni lingkungan, pendidikan, kesehatan, dan kewirausahaan. Memasuki tahun pelaksanaan ke-16, Workshop Lingkungan Astra diperluas dengan melibatkan penerima apresiasi Satu Indonesia Awards, KBA, dan Desa Sejahtera Astra.

Baca juga: Cerita dari Pulau Obi: Reklamasi Tambang Tak Sekadar Menanam Ulang

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Karbon, Hutan Adat, dan Keadilan Tertunda
Karbon, Hutan Adat, dan Keadilan Tertunda
Pemerintah
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Swasta
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
LSM/Figur
Dampak Kekeringan, Perancis Batasi Pemakaian Air di 70 Persen Wilayahnya
Dampak Kekeringan, Perancis Batasi Pemakaian Air di 70 Persen Wilayahnya
Pemerintah
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Swasta
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
LSM/Figur
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Swasta
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
Pemerintah
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
LSM/Figur
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Pemerintah
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
LSM/Figur
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
Pemerintah
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Pemerintah
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
LSM/Figur
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau