Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Lahan Gambut Dunia jadi Garis Depan Lawan Perubahan Iklim

Kompas.com, 26 Desember 2025, 18:36 WIB
Add on Google
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Lahan gambut global menyimpan lebih banyak karbon dibandingkan dengan seluruh karbon yang ada di atmosfer.

Namun sayangnya, lahan gambut kini berada dalam tekanan akibat pertanian berbasis pengeringan. Sementara menurut penelitian baru dari Universitas Murdoch di Australia lahan gambut berpeluang menghentikan emisi gas rumah kaca alami.

Untuk menanam komoditas tertentu seperti sawit atau kayu, lahan gambut sering dikeringkan dengan membuat parit. Saat air menghilang, gambut mulai membusuk dengan cepat atau terbakar yang kemudian melepaskan simpanan karbon ke atmosfer.

"Kami memperkirakan untuk setiap 10 sentimeter kenaikan permukaan air di lahan gambut dapat mengurangi dampak pemanasan bersih setara dengan setidaknya tiga ton CO2 per hektar per tahun," kata Profesor Davey Jones dari Food Futures Institute.

Melansir Phys, Kamis (18/12/2025) penelitian tersebut menguraikan selama air naik, pelepasan gas rumah kaca akan terus berkurang.

Peneliti menyebut tidak perlu merendam seluruh lahan gambut sampai menjadi danau. Cukup pastikan air dalam jarak 10 sentimeter dari permukaan gambut.

Baca juga: Restorasi Gambut di Ketapang Cegah Karhutla Selama Satu Dekade Terakhir

Lahan gambut adalah ekosistem lahan basah di mana keberadaan air yang konstan mencegah bahan tanaman membusuk sepenuhnya.

Lahan gambut sangat penting untuk melestarikan keanekaragaman hayati global, menyediakan air minum yang aman, meminimalkan risiko banjir, dan membantu mengatasi perubahan iklim dengan menyimpan lebih banyak karbon daripada gabungan semua jenis vegetasi lainnya di dunia.

"Jika dikelola dengan benar, lahan gambut dapat menjadi penyerap karbon," ungkap Profesor Jones.

Sebagian besar studi mengenai pengelolaan lahan gambut untuk mitigasi iklim berfokus pada pemulihannya menjadi sistem lahan basah fungsional.

Meskipun perubahan ini akan menciptakan penyerap karbon yang signifikan, hilangnya pendapatan ekonomi telah menghalangi implementasi program restorasi dalam skala besar.

Lahan gambut yang dikembalikan menjadi lahan basah alami biasanya tidak bisa lagi digunakan untuk pertanian intensif atau perkebunan. Hal ini membuat pemilik lahan atau petani kehilangan sumber penghasilan mereka.

Penelitian ini pun menawarkan solusi jalan tengah. Poinnya adalah kita tidak harus selalu mengubah lahan menjadi rawa total, menaikkan permukaan air sedikit saja sudah mengurangi jumlah emisi karbon yang lepas.

Baca juga: Tropenbos Indonesia: Restorasi Gambut Swakelola di Tingkat Tapak Butuh Pendampingan

Akan tetapi jika kondisi memungkinkan untuk membasahi lahan lebih banyak lagi, maka manfaatnya bukan hanya mengurangi kerusakan melainkan membantu mendinginkan suhu bumi karena penyerapan karbonnya menjadi maksimal.

"Hasil kami menunjukkan bahwa pengembangan langkah-langkah mitigasi yang sesuai secara lokal di lahan gambut pertanian dapat menghasilkan pengurangan emisi yang substansial. Dan itu benar-benar perlu dilakukan sekarang," kata Profesor Jones.

Ia mengatakan bahwa permukaan air perlu dinaikkan dengan cepat untuk menghindari oksidasi lebih lanjut pada lahan gambut dan mencapai emisi nol bersih dalam jangka waktu 30 tahun sesuai Perjanjian Paris.

Pengembangan tanaman yang tahan air dan layak secara ekonomi yang cocok untuk budidaya di daerah lahan gambut juga harus menjadi prioritas utama agar pertanian dapat terus berlanjut secara berkelanjutan di daerah-daerah tersebut.

Studi ini sendiri dilakukan dengan mengukur emisi CO2 di 16 lokasi lahan gambut di seluruh Inggris Raya dan Irlandia.

Lokasi-lokasi ini mencakup jenis-jenis lahan gambut beriklim sedang utama dan beragam penggunaan lahan, mulai dari lahan basah yang hampir alami dan yang telah dipugar hingga padang rumput dan lahan pertanian yang luas dan intensif.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau