Sebelumnya, Guru Besar Ilmu Kehutanan Universitas Sumatera Utara (USU), Muhammad Basyuni menuturkan bahwa, sebagai sistem monokultur, perkebunan kelapa sawit tidak dapat menggantikan fungsi hutan.
Kanopi pepohonan di hutan mampu menahan hingga 35 persen air hujan agar tidak langsung jatuh ke tanah. Akar pepohonan di hutan juga bisa membantu penyerapan air puluhan sampai ribuan liter air.
Pepohonan di hutan mencegah terjadinya erosi dan limpasan air (run-off) hujan mengalir ke permukaan secara cepat ke sungai. Alih fungsi lahan menjadi perkebunan kelapa sawit menghilangkan fungsi hutan sebagai spons berukuran besar.
Baca juga: Cegah Banjir Berulang di Sumatera, Akademisi IPB Usul Moratorium Sawit
"Kalau hanya satu jenis (tanaman atau) monokultur tidak bisa (mengembalikan fungsi hutan). Faktanya, kita lihat banjir Sumatera. Itu tidak mampu menahan air, menyimpan dan menyerap air juga tidak bisa," ucap Basyuni dalam webinar, Sabtu (27/12/2025).
Selain itu, hutan juga bersifat heterogen, berbeda dengan perkebunan kelapa sawit yang homogen.
Ekosistem atau sistem ekologi yang terbentuk dari hubungan timbal baik antara makhluk hidup dengan lingkungannya di dalam hutan tidak akan bisa digantikan oleh perkebunan kelapa sawit.
"Flora, fauna, dan interaksinya sebenarnya itu ada di dalam hutan. Kalau (di perkebunan kelapa sawit yang) monokultur malah kurang berkembang dengan baik," ujar Basyuni.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya