Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Wehea-Kelay Kaltim Jadi Rumah Satwa Langka yang Terancam Punah

Kompas.com, 14 Januari 2026, 19:15 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Penelitian kolaboratif yang dilakukan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN), Universitas Mulawarman, dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menemukan beragam satwa langka dan terancam punah di bentang alam Wehea–Kelay, Provinsi Kalimantan Timur.

Sejumlah satwa yang teridentifikasi antara lain orangutan Kalimantan, lutung kutai, rangkong gading, trenggiling, beruang madu, bangau Storm, macan dahan, hingga kucing merah.

Temuan ini menegaskan tingginya nilai keanekaragaman hayati kawasan tersebut, meskipun sebagian besar wilayahnya berada di luar kawasan konservasi.

Dari total luas sekitar 532.143 hektare, hanya sekitar 19 persen bentang alam Wehea–Kelay yang berstatus hutan lindung. Sisanya merupakan wilayah konsesi kehutanan, perkebunan, serta area kelola masyarakat.

Baca juga: 325.000 Hektare Perairan Wetar Barat Resmi jadi Kawasan Konservasi

Kendati demikian, kawasan ini tetap menjadi habitat penting bagi berbagai satwa langka, termasuk orangutan Kalimantan.

Rektor Universitas Mulawarman, Abdunnur, mengatakan temuan tersebut menjadi kabar positif di tengah maraknya isu degradasi dan kerusakan hutan.

“Data dan temuan ini menumbuhkan optimisme untuk perbaikan kawasan hutan, khususnya di Kalimantan. Ini juga menjadi contoh bagaimana pengelolaan berbasis lanskap yang melibatkan multipihak dan multidisiplin mampu melindungi hutan dari ancaman degradasi,” ujar Abdunnur dalam keterangan tertulis, Rabu (14/1/2026).

Penemuan satwa langka ini merupakan bagian dari penelitian tematik biodiversitas yang dilakukan sepanjang 2025. Hasilnya, peneliti mengidentifikasi sebanyak 1.618 jenis flora dan fauna, yang mencakup mamalia terestrial, burung, reptil, dan amfibi.

Selain itu, ditemukan pula 88 jenis serangga dari kelompok kupu-kupu dan kumbang sungut, serta 987 jenis tumbuhan hutan. Pemantauan dilakukan menggunakan kamera jebak dan perekam suara bioakustik untuk merekam keberadaan satwa liar.

Peneliti Ahli Utama BRIN, Tri Atmoko, menyebutkan jumlah temuan ini meningkat signifikan dibandingkan penelitian serupa pada 2016.

Baca juga: Belajar dari Bencana di Sumatera, Dedi Mulyadi Tegaskan Komitmen Konservasi Jawa Barat

“Temuan terbaru ini menambah 275 jenis flora dan fauna dibandingkan pendataan pada 2016 yang mencatat 1.343 jenis,” kata Tri.

Habitat satwa di Luar Kawasan Konservasi

Pengelolaan kolaboratif sumber daya alam di bentang alam Wehea–Kelay telah berlangsung sejak 2015. Penetapan kawasan ini mengikuti sebaran habitat orangutan Kalimantan, terutama di sekitar Sungai Kelay, Sungai Wehea, dan sebagian hulu Sungai Telen.

Selain menjadi habitat satwa langka, Wehea–Kelay juga berperan sebagai kawasan hulu penting bagi Sungai Mahakam dan Sungai Segah.

Direktur Eksekutif YKAN, Herlina Hartanto, mengatakan lebih dari 5.000 kilometer daerah aliran sungai mengalir dari kawasan ini menuju Kabupaten Berau dan Kutai Timur, memberikan jasa lingkungan seperti fungsi hidrologis dan udara bersih.

Sekitar 80 persen kawasan Wehea–Kelay masih berupa hutan yang diperkirakan menyimpan cadangan karbon hingga 191 juta ton setara karbon dioksida. Karena itu, kawasan ini memiliki kontribusi penting dalam mitigasi perubahan iklim.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dorong Pendidikan Inklusif, 5 Kampus Indonesia Pelajari Sistem Layanan Disabilitas di Jepang
Dorong Pendidikan Inklusif, 5 Kampus Indonesia Pelajari Sistem Layanan Disabilitas di Jepang
Swasta
Studi Ungkap Polusi Kapal Laut Lebih Bahaya dari Kendaraan Bermotor
Studi Ungkap Polusi Kapal Laut Lebih Bahaya dari Kendaraan Bermotor
Pemerintah
Kepedulian Iklim Pekerja Untungkan Karier Jika Sejalan Tujuan Perusahaan
Kepedulian Iklim Pekerja Untungkan Karier Jika Sejalan Tujuan Perusahaan
Swasta
Studi Ungkap Hewan Laut Respons Perubahan Iklim dengan Cara Berbeda-beda
Studi Ungkap Hewan Laut Respons Perubahan Iklim dengan Cara Berbeda-beda
Pemerintah
Urine Pendaki Percepat Pencairan Gletser di Gunung Everest
Urine Pendaki Percepat Pencairan Gletser di Gunung Everest
LSM/Figur
ESDM Siapkan Aturan Kredit Karbon Sektor Energi, Potensi Transaksi Rp 2,2 Triliun per Tahun
ESDM Siapkan Aturan Kredit Karbon Sektor Energi, Potensi Transaksi Rp 2,2 Triliun per Tahun
Pemerintah
Tak Sampai 25 Persen Perusahaan yang Sukses Adopsi AI
Tak Sampai 25 Persen Perusahaan yang Sukses Adopsi AI
Pemerintah
UNICEF: 1 dari 5 Anak Jadi Korban Kekerasan Seksual Online
UNICEF: 1 dari 5 Anak Jadi Korban Kekerasan Seksual Online
Pemerintah
Peringati Hari Ozon Sedunia, Belantara Foundation-Resona Bank Ltd. Tanam Pohon Langka di Tahura SSH Riau yang Terdegradasi
Peringati Hari Ozon Sedunia, Belantara Foundation-Resona Bank Ltd. Tanam Pohon Langka di Tahura SSH Riau yang Terdegradasi
LSM/Figur
Karhutla di Gambut Bisa Ganggu Regenerasi Alami, Pakar UGM Jelaskan Sebabnya
Karhutla di Gambut Bisa Ganggu Regenerasi Alami, Pakar UGM Jelaskan Sebabnya
LSM/Figur
Kejar Target PLTS 100 GW, ESDM : Bauran EBT Semester II-2026 Capai 17,3 Persen, Kontribusi Energi Surya Hanya 0,51 Persen
Kejar Target PLTS 100 GW, ESDM : Bauran EBT Semester II-2026 Capai 17,3 Persen, Kontribusi Energi Surya Hanya 0,51 Persen
Pemerintah
Efek Krisis Iklim, Nyamuk Tropis Invasif Ditemukan di London
Efek Krisis Iklim, Nyamuk Tropis Invasif Ditemukan di London
Pemerintah
Pertamina Eco RunFest 2026 Perkuat Gerakan Hidup Sehat dan Peduli Lingkungan
Pertamina Eco RunFest 2026 Perkuat Gerakan Hidup Sehat dan Peduli Lingkungan
BUMN
Kasus ISPA Capai 13.449 Selama Juli-Agustus 2026, Ini Kelompok yang Rentan
Kasus ISPA Capai 13.449 Selama Juli-Agustus 2026, Ini Kelompok yang Rentan
LSM/Figur
Aturan Baru Uni Eropa soal Deforestasi Bakal Ubah Pasar Kopi Dunia
Aturan Baru Uni Eropa soal Deforestasi Bakal Ubah Pasar Kopi Dunia
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau