Salah satu temuan paling signifikan adalah, setelah kebakaran, kerusakan bertahan jauh lebih lama daripada yang diperkirakan sebelumnya.
Hanya sekitar 31 persen dari erosi pasca-kebakaran disebabkan oleh kebakaran baru. Sisanya, 69 persen, disebabkan oleh erosi dari kebakaran yang dimulai beberapa tahun sebelumnya.
Bahkan, setelah 20 tahun, lebih dari 50 persen area yang terbakar di seluruh dunia belum kembali ke kondisi sebelum kebakaran.
Para peneliti memperkirakan bahwa masalah ini hanya akan semakin buruk karena perubahan iklim menyebabkan badai hujan yang lebih intens dan sering.
Mereka memperkirakan bahwa erosi tanah pasca-kebakaran dapat meningkat hingga 28 persen pada tahun 2070.
Baca juga:
Menunggu alam untuk pulih dengan sendirinya bukanlah pilihan, jadi para peneliti menyerukan perubahan dalam pengelolaan lahan setelah kebakaran.
"Hasil kami menggambarkan besarnya erosi tanah pasca-kebakaran secara global dan oleh karena itu mendukung tindakan pengelolaan pasca-kebakaran menuju mitigasi dan pemulihan area yang terkena dampak dan kebijakan menuju netralitas degradasi lahan," tulis peneliti.
Hal tersebut berarti lebih cepat bertindak akan lebih baik.
"Meningkatkan ketahanan hutan global sangat mendesak untuk menghentikan degradasi lahan dan meningkatkan adaptasi perubahan iklim," tulis para peneliti lagi.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya