Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Lebih dari 10.000 Perusahaan Miliki Target Iklim Berbasis Sains

Kompas.com, 23 Januari 2026, 19:11 WIB
Monika Novena,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Sumber ESG Today

KOMPAS.com - Science Based Targets initiative (SBTi) mengumumkan, jumlah perusahaan yang memiliki target iklim berbasis sains yang tervalidasi telah melewati angka 10.000.

Target iklim berbasis sains atau Science-based Climate Targets merupakan target pengurangan emisi yang selaras dengan apa yang menurut ilmuwan diperlukan untuk memenuhi tujuan Perjanjian Paris yaitu membatasi pemanasan global hingga 1,5 derajat celsius di atas tingkat pra-industri.

Baca juga: 

Pencapaian ini menandai pertumbuhan signifikan bagi organisasi tersebut, dengan lebih dari 2.800 perusahaan baru yang tervalidasi pada tahun 2025.

Jumlah total perusahaan yang tervalidasi tersebut meningkat hampir 40 persen dari sekitar 7200 pada awal tahun 2025.

“Perusahaan menetapkan target berbasis sains karena mereka menyadari manfaat strategis, reputasi, dan keuangan dari transformasi bisnis net-zero," kata CEO Science Based Targets initiative, David Kennedy, dilansir dari ESG Today, Jumat (22/1/2026).

"Tonggak sejarah ini mencerminkan komitmen yang semakin besar dari perusahaan untuk menetapkan target yang kredibel dan akuntabel, dan kami berharap dapat mendukung lebih banyak perusahaan lagi seiring berlanjutnya transisi ini,” tambah dia. 

Baca juga:

Ada 10.000 perusahaan dengan target iklim berbasis sains

Jumlah perusahaan dengan target iklim berbasis sains versi SBTi tembus 10.000. SHUTTERSTOCK/HOLIDAY62 Jumlah perusahaan dengan target iklim berbasis sains versi SBTi tembus 10.000.

SBTi didirikan pada tahun 2015 dengan tujuan menetapkan penetapan target lingkungan berbasis sains sebagai praktik standar perusahaan.

Fungsi utama organisasi ini meliputi menetapkan dan mempromosikan praktik terbaik dalam pengurangan emisi dan target net-zero yang selaras dengan ilmu iklim.

Tidak hanya itu, organisasi ini juga memberikan bantuan teknis kepada perusahaan yang menetapkan target berbasis sains, serta memberikan penilaian dan validasi independen atas target pengurangan emisi perusahaan tersebut.

Standar Net-Zero Korporat pertama yang menjadi unggulan organisasi ini diterbitkan pada tahun 2021.

Saat ini SBTi sedang dalam proses memperbarui standar tersebut, dengan baru-baru ini merilis draf Standar Net-Zero Korporat V2.

Baca juga: 

Menurut SBTi, perusahaan dengan target yang telah divalidasi sekarang mewakili lebih dari 40 persen kapitalisasi pasar global dan tersebar di lebih dari 90 negara, di berbagai sektor dan ukuran perusahaan.

Organisasi tersebut mencatat bahwa pertumbuhan jumlah perusahaan Asia dengan target yang tervalidasi sangat kuat.

Jepang saat ini memiliki jumlah perusahaan tervalidasi tertinggi yaitu lebih dari 2.000, diikuti oleh Inggris, Amerika Serikat, dan China.

Hal tersebut terjadi meskipun secara keseluruhan, perusahaan yang berkantor pusat di Eropa masih menyumbang sebagian besar dari total tersebut.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Peneliti Ciptakan Energi Listrik dari Urin, Berpotensi Jadi EBT Baru
Peneliti Ciptakan Energi Listrik dari Urin, Berpotensi Jadi EBT Baru
LSM/Figur
Studi Sebut Polusi Udara Bisa Tingkatkan Risiko Alzheimer pada Lansia
Studi Sebut Polusi Udara Bisa Tingkatkan Risiko Alzheimer pada Lansia
LSM/Figur
1 Hektar Hutan Tropis Hasilkan 2,4 Juta Liter Hujan Tiap Tahun
1 Hektar Hutan Tropis Hasilkan 2,4 Juta Liter Hujan Tiap Tahun
LSM/Figur
AI Bikin Jaringan 5G Lebih Hemat Energi, Bantu Capai Target ESG
AI Bikin Jaringan 5G Lebih Hemat Energi, Bantu Capai Target ESG
LSM/Figur
Angka Kematian Ibu Meningkat Drastis di Wilayah Konflik dan Rentan
Angka Kematian Ibu Meningkat Drastis di Wilayah Konflik dan Rentan
Pemerintah
Profesional Muda Ingin Industri Periklanan Melek Literasi Iklim
Profesional Muda Ingin Industri Periklanan Melek Literasi Iklim
LSM/Figur
Jelang Ramadhan, Listrik di Aceh Masih Padam dan Warga Harus Jalan Kaki demi Bantuan
Jelang Ramadhan, Listrik di Aceh Masih Padam dan Warga Harus Jalan Kaki demi Bantuan
LSM/Figur
Pemerintah Buka Akses Pembiayaan untuk Pelaku Ekonomi Kreatif
Pemerintah Buka Akses Pembiayaan untuk Pelaku Ekonomi Kreatif
Pemerintah
24 Perusahaan Ikut Tender Pembangunan Fasilitas 'Waste to Energy' Danantara
24 Perusahaan Ikut Tender Pembangunan Fasilitas "Waste to Energy" Danantara
Pemerintah
AI Diklaim Cegah Kerusakan Iklim, Benarkah?
AI Diklaim Cegah Kerusakan Iklim, Benarkah?
LSM/Figur
Polusi Nitrogen Ganggu Penyerapan Karbon dan Ritme Respirasi Hutan
Polusi Nitrogen Ganggu Penyerapan Karbon dan Ritme Respirasi Hutan
LSM/Figur
Siswa MAN 1 Kendari Olah Limbah Kulit Udang dan Kepiting Jadi Kemasan Ramah Lingkungan
Siswa MAN 1 Kendari Olah Limbah Kulit Udang dan Kepiting Jadi Kemasan Ramah Lingkungan
LSM/Figur
Jakarta Utara Harus Jadi Model Pengelolaan Sampah Nasional, Ini Alasannya
Jakarta Utara Harus Jadi Model Pengelolaan Sampah Nasional, Ini Alasannya
Pemerintah
Satu Dekade Pasca-Perjanjian Paris, Pemanasan Global Justru Makin Cepat
Satu Dekade Pasca-Perjanjian Paris, Pemanasan Global Justru Makin Cepat
Pemerintah
Lawan Krisis Iklim, Prancis Minta Warganya Kurangi Makan Daging
Lawan Krisis Iklim, Prancis Minta Warganya Kurangi Makan Daging
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau