KOMPAS.com - Krisis iklim yang terus meningkat disebut menggerus pendapatan tahunan industri olahraga global sebesar 1,6 triliun dollar Amerika Serikat (AS, sekitar Rp 27.110 triliun) pada tahun 2050, dengan heat stress dianggap sebagai risiko nomor satu.
Hal tersebut berdasarkan analisis baru dari Oliver Wyman, yang didukung oleh Forum Ekonomi Dunia (World Economy Forum atau WEF) dan lebih dari 120 organisasi lainnya dari seluruh lingkup olahraga dan lingkungan global.
Baca juga:
Pendapatan tahunan industri olahraga global diproyeksikan mengalami tingkat pertumbuhan gabungan sebesar 10 persen hingga tahun 2030. Pada akhir dekade ini, diperkirakan akan mencapai 3,7 triliun dollar AS (sekitar Rp 62.695 triliun).
Oleh karena itu, tak sedikit yang bertaruh besar pada industri ini, terutama dalam balap mobil, sepak bola, dan olahraga raket, dilansir dari Edie, Selasa (20/1/2026).
Perkiraan jangka panjang sebelumnya menyimpulkan bahwa pendapatan tahunan dapat melonjak hingga 8,8 triliun dollar AS (sekitar Rp 149.133 triliun) pada tahun 2050.
Namun, analisis baru menyimpulkan bahwa sekitar 18 persen dari jumlah tersebut, setara dengan 1,6 triliun dollar AS (sekitar Rp 27.115 triliun), berisiko akibat perubahan iklim dan kerusakan lingkungan.
Krisis iklim yang terus meningkat disebut menggerus pendapatan tahunan industri olahraga global sebesar 1,6 triliun dollar AS.Risiko utama meliputi panas dan cuaca ekstrem. Beberapa wilayah geografis akan menjadi terlalu panas bagi atlet untuk berkompetisi dengan aman pada waktu-waktu tertentu dalam sehari atau setahun pada tahun-tahun mendatang.
Sementara itu, cuaca ekstrem akan mengurangi keandalan infrastruktur transportasi dan energi yang diandalkan oleh tempat penyelenggaraan, atlet, dan penonton.
Risiko-risiko ini juga kemungkinan akan mengganggu rantai pasokan barang dagangan olahraga dan mencegah masyarakat umum untuk tetap aktif, terutama di luar ruangan.
Saat ini, satu dari lima orang di seluruh dunia kesulitan berolahraga di luar ruangan karena kondisi cuaca.
Baca juga:
Penulis laporan ini pun menyimpulkan bahwa perlu tindakan terintegrasi untuk mengatasi permasalahan industri olahraga.
Dengan kata lain, risiko lingkungan bersifat berjenjang sehingga hal tersebut tidak dapat diatasi oleh satu organisasi saja.
Meningkatkan ketahanan fasilitas olahraga, tempat penyelenggaraan, dan rantai nilai akan membutuhkan kolaborasi terpadu antara pemerintah nasional, pemerintah daerah, berbagai perusahaan, dan para ahli pembangunan berkelanjutan.
Selain kolaborasi lokal ini, kemitraan baru harus dibentuk secara global untuk berbagi praktik terbaik dan membuka pendanaan tambahan.
Laporan tersebut mencatat bahwa momentum telah terbentuk melalui inisiatif Sports for Climate Action dan Sports for Nature yang didukung Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Sementara itu, Federasi Industri Barang Olahraga Dunia (WFSGI) berkolaborasi dengan Organisasi Kesehatan Dunia.
Lebih lanjut, tindakan prioritas yang diidentifikasi untuk semua organisasi di seluruh rantai nilai olahraga adalah mendorong pendanaan untuk ketahanan dan keberlanjutan, menekankan pentingnya olahraga bagi perekonomian kota, dan memperjuangkan pengelolaan sumber daya alam.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya