Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

KKP Sebut Pemanasan Laut Naik 4 Kali Lipat, Terumbu Karang dan Penyu Terancam

Kompas.com, 28 Januari 2026, 18:54 WIB
Zintan Prihatini,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyampaikan, pemanasan laut global meningkat empat kali lipat sejak tahun 1980-an.

Menurut Staf Ahli Menteri Kelautan dan Perikanan Bidang Ekologi dan Sumber Daya Laut, Hendra Yusran Siry, naiknya suhu perairan menyebabkan pemutihan terumbu karang akibat pengasaman laut.

Baca juga: 

"Kalau laut makin asam, makin memberikan keterbatasan bagi makhluk hidup yang ada di sana terus hidup dan berkembang. Kalau dengan pengasaman yang tinggi biasanya akan memicu proses yang disebut dengan pemutihan karang atau bleaching, putih itu bukan berarti bagus," ujar Hendra dalam konferensi pers di kantor KKP, Jakarta Pusat, Rabu (28/1/2026).

Kenaikan suhu laut, terumbu karang dan penyu terdampak

Pemanasan suhu laut skala kecil memberi dampak besar

Staf Ahli Menteri Kelautan dan Perikanan Bidang Ekologi dan Sumber Daya Laut, Hendra Yusran Siry (tengah) menjelaskan soal hasil pertemuan WEF, Rabu (28/1/2026). KOMPAS.com/ZINTAN Staf Ahli Menteri Kelautan dan Perikanan Bidang Ekologi dan Sumber Daya Laut, Hendra Yusran Siry (tengah) menjelaskan soal hasil pertemuan WEF, Rabu (28/1/2026).

Kenaikan suhu laut dalam skala kecil sekali pun dapat berdampak besar. Hendra menuturkan, dampaknya dirasakan terutama pada biota yang rentan lantaran beberapa spesies sangat tidak toleran terhadap perubahan suhu.

"Nanti mungkin akan dominan jantannya atau dominan betinanya, contohnya adalah penyu," ucap Hendra.

Hendra menyebutkan, isu air menjadi salah satu pembahasan penting dalam pertemuan World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss, tahun ini. Para pemimpin negara-negara yang hadir turut menyoroti 1,8 miliar orang penduduk dunia yang terpapar risiko banjir.

"Kemudian kita juga kehilangan sumber air tawar ya hampir 75 persen, dan sekali lagi juga nilai dari ekosistem perairan ini juga sangat besar mencapai 58 triliun dollar AS (Amerika Serikat), tetapi investasinya baru sekitar dua sampai tiga persen," ungkap Hendra.

Pada pertemuan nertajuk Blue Davos tersebut, mereka mengangkat tiga pilar utama. Pilar pertama, pengelolaan air tawar dan aksesnya termasuk aspek pendanaan, kemitraan, serta inovasi dalam keamanan air.

Pilar kedua terkait keamanan pangan biru, di mana laut dipandang sebagai sumber pangan masa depan yang kian penting.

"Bisa saja nanti dengan perpaduan AI (artificial intelligence atau kecerdasan buatan) dan juga kita menemukan spesies-spesies penting, bisa jadi pola makan dan pola pangan kita juga berubah nanti. Mungkin proteinnya bisa berasal lebih banyak pasti dari laut, dari perairan dan juga ini mengharuskan kita untuk menjaga dan mengelolanya secara lebih baik," papar Hendra.

Baca juga: 

KKP mencatat pemansan laut global kian meningkat dan menyebabkan pemutihan terumbu karang hingga mengancam biota laut lainnya, termasuk penyu.wirestock/freepik KKP mencatat pemansan laut global kian meningkat dan menyebabkan pemutihan terumbu karang hingga mengancam biota laut lainnya, termasuk penyu.

Ketiga, perlindungan laut dan percepatan ekonomi biru. Dalam rangkaian kegiatan tersebut, Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono juga menandatangani Letter of Intent dengan World Economic Forum sebagai bentuk penguatan kerja sama strategis di bidang kelautan dan ekonomi biru.

Dalam pertemuan Velocity of the Blue Economy WEF, Trenggono membahas kerusakan laut yang kian masif menjadi ancaman bagi dunia.

Untuk itu, diperlukan upaya bersama memulihkan ekosistem laut dari dampak perubahan iklim, pencemaran, dan aktivitas penangkapan ilegal yang mengancam populasi perikanan saat ini.

“Lautan kita menghadapi ancaman serius, pemanasan laut, meningkatnya keasaman, menurunnya stok ikan, dan pencemaran laut. Lautan kita memanggil kita semua untuk bertindak bersama menyelamatkan, dan mengelolanya dengan tanggung jawab,” kata Trenggono, Selasa (22/1/2026).

Baca juga:

Dia menyatakan, dengan program Ekonomi Biru, Indonesia siap memimpin upaya bersama melindungi ekosistem laut dari kerusakan yang semakin masif.

KKP sejauh ini memperluas kawasan konservasi laut lebih dari 30 juta hektar dari target 97,5 juta hektar tahun 2045.

“Indonesia memiliki salah satu cadangan karbon biru terbesar di dunia, menyimpan sekitar 17 persen karbon biru global. Ekosistem pesisir ini adalah penyerap karbon yang sangat penting, dan berperan mengatur iklim global serta menjaga kesehatan laut,” jelas Trenggono.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Swasta
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pemerintah
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
LSM/Figur
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
Pemerintah
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Pemerintah
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
Swasta
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Pemerintah
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Pemerintah
'Bijak Jajan Cinta Bumi', Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
"Bijak Jajan Cinta Bumi", Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
Swasta
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
LSM/Figur
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Pemerintah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
LSM/Figur
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Pemerintah
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
BUMN
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau