JAKARTA, KOMPAS.com - Bau dari fasilitas pengolahan sampah terpadu (TPST) untuk diubah menjadi bahan bakar alternatif, refuse derived fuel atau RDF Rorotan di Jakarta Utara, cukup mengganggu aktivitas sehari-hari warga perumahan Jakarta Garden City (JGC) di Kelurahan Cakung Timur, Jakarta Timur.
"Bau banget sampah dari RDF itu, bukan bau sampah biasa, tapi bau asam yang menusuk hidung. Aktivitas sehari-hari jelas terganggu. Bayangkan saja, mau makan atau sedang bersantai di rumah bersama keluarga, tiba-tiba 'serangan' bau datang," kata Ketua RT 18 RW 14, Cluster Shinano Perumahan JGC, Wahyu Andre Maryono kepada Kompas.com, Senin (2/2/2026).
Baca juga:
Saat "serangan" bau datang, Wahyu segera menutup pintu dan jendela dengan rapat, meski menginginkan sirkulasi udara yang segar.
Ia juga khawatir dampak kesehatan dari bau tidak sedap RDF bagi anak-anak dan lansia (lanjut usia) di lingkungan tempat tinggalnya, yang memang sering beraktivitas di luar ruangan.
Jalur menuju RDF dari tepi BKT, Jakarta Timur, Senin (2/2/2026). Warga mengeluhkan bau menyengat dari RDF Rorotan. Bau datang tak menentu dan mengganggu aktivitas harian serta kenyamanan hidup.Dulu, udara di Cluster Shinano dan kawasan sekitarnya relatif segar karena berdekatan dengan ruang terbuka hijau (RTH) yang masih luas.
Namun, saat ini, warga Cluster Shinano bak hidup berdampingan dengan tempat pembuangan sampah raksasa. Posisi Shinano di ujung perumahan JGC yang sangat luas, agak terpisah dari cluster-cluster lainnya, serta terletak dekat banjir kanal timur (BKT) dan lokasi RDF Rorotan.
"Perbedaan sebelum versus sesudah ada RDF, bedanya langit dan bumi. Kualitas hidup menurun, kenyamanan hilang, serta ada rasa was-was tiap hari soal polusi udara ini," tutur Wahyu.
Ketika sore menjelang malam, angin berembus dari arah utara ke selatan, menyebarkan bau RDF ke perumahan JGC. Namun, sering pula bau RDF menguar pada subuh atau pagi, yang merusak suasana memulai hari.
"Jadi memang enggak menentu, tergantung arah angin, tapi paling sering ya sore sampai malam itu," ucapnya.
Saat atau usai hujan, bau dari RDF malah semakin menyengat. Wahyu menduga bau sangat busuk disebabkan kelembapan udara yang tinggi sehingga aromanya tertahan di bawah dan tercium di mana-mana.
Bahkan, warga Karang Tengah, Desa Pusaka Rakyat, Kecamatan Tarumajaya, Kabupaten Bekasi, kebagian bau selama 24 jam, karena posisi rumah mereka berada sekitar 200 meter di seberang BKT.
Baca juga:
Warga mengeluhkan bau menyengat dari RDF Rorotan. Bau datang tak menentu dan mengganggu aktivitas harian serta kenyamanan hidup.Ketika Kompas.com mengunjungi wilayah sekitar RDF, bau memang belum tercium, tapi sejumlah warga mengonfirmasi adanya aroma menyengat itu, bahkan dalam seminggu terakhir.
Seorang penjual di sekitar RDF itu mengaku mencium bau tidak sedap pada Rabu (28/1/2026).
Bau dari RDF memang tidak setiap hari, terkadang seminggu sekali atau dua kali. Seperti Wahyu, sang ibu penjual memahami bau busuk dari RDF yang khas dan menyebut, warga Karang Tengah paling parah.
Ia mengaku mendengar keluhan dari penjual lain tentang kehilangan seorang pelanggan yang pindah ke Bogor akibat tidak kuat menahan bau dari RDF. Padahal tempat tinggalnya berada di salah satu cluster di perumahan JGC yang memang lumayan jauh dari RDF.
Baca juga:
"Memang kalau sekarang enggak bau. Cuma kalau anginnya kemari, ya baunya luar biasa, nyess banget," ucapnya.
Sebelumnya, pada Minggu (1/2/2026), warga Kota Harapan Indah, Bekasi, Jawa Barat, mengeluhkan bau menyengat dari RDF, yang telah menembus wilayah mereka. Padahal fasilitas wilayah mereka berjarak jarak sekitar tiga kilometer dari RDF.
Mereka bersiap melayangkan petisi dan merencanakan audiensi langsung dengan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi atau Kang Dedi, pada Februari 2026.
"Saat ini kami juga sedang buat petisi menolak RDF dan kami akan coba audiensi ke KDM (Kang Dedi Mulyadi)," ucap Kepala Dusun IV Kota Harapan Indah, Bekasi, Jawa Barat, Tomy, dilaporkan oleh Kompas.com, Minggu (1/2/22026).
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya