Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Warga Keluhkan Bau RDF Rorotan, Baunya Asam Menusuk Hidung

Kompas.com, 2 Februari 2026, 17:39 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Bau dari fasilitas pengolahan sampah terpadu (TPST) untuk diubah menjadi bahan bakar alternatif, refuse derived fuel atau RDF Rorotan di Jakarta Utara, cukup mengganggu aktivitas sehari-hari warga perumahan Jakarta Garden City (JGC) di Kelurahan Cakung Timur, Jakarta Timur.

"Bau banget sampah dari RDF itu, bukan bau sampah biasa, tapi bau asam yang menusuk hidung. Aktivitas sehari-hari jelas terganggu. Bayangkan saja, mau makan atau sedang bersantai di rumah bersama keluarga, tiba-tiba 'serangan' bau datang," kata Ketua RT 18 RW 14, Cluster Shinano Perumahan JGC, Wahyu Andre Maryono kepada Kompas.com, Senin (2/2/2026).

Baca juga:

Saat "serangan" bau datang, Wahyu segera menutup pintu dan jendela dengan rapat, meski menginginkan sirkulasi udara yang segar.

Ia juga khawatir dampak kesehatan dari bau tidak sedap RDF bagi anak-anak dan lansia (lanjut usia) di lingkungan tempat tinggalnya, yang memang sering beraktivitas di luar ruangan.

Warga keluhkan bau RDF Rorotan, bak langit dan bumi

Bau bisa sangat menyengat kala hujan turun

Jalur menuju RDF dari tepi BKT, Jakarta Timur, Senin (2/2/2026). Warga mengeluhkan bau menyengat dari RDF Rorotan. Bau datang tak menentu dan mengganggu aktivitas harian serta kenyamanan hidup.KOMPAS.com/Manda Firmansyah Jalur menuju RDF dari tepi BKT, Jakarta Timur, Senin (2/2/2026). Warga mengeluhkan bau menyengat dari RDF Rorotan. Bau datang tak menentu dan mengganggu aktivitas harian serta kenyamanan hidup.

Dulu, udara di Cluster Shinano dan kawasan sekitarnya relatif segar karena berdekatan dengan ruang terbuka hijau (RTH) yang masih luas.

Namun, saat ini, warga Cluster Shinano bak hidup berdampingan dengan tempat pembuangan sampah raksasa. Posisi Shinano di ujung perumahan JGC yang sangat luas, agak terpisah dari cluster-cluster lainnya, serta terletak dekat banjir kanal timur (BKT) dan lokasi RDF Rorotan.

"Perbedaan sebelum versus sesudah ada RDF, bedanya langit dan bumi. Kualitas hidup menurun, kenyamanan hilang, serta ada rasa was-was tiap hari soal polusi udara ini," tutur Wahyu.

Ketika sore menjelang malam, angin berembus dari arah utara ke selatan, menyebarkan bau RDF ke perumahan JGC. Namun, sering pula bau RDF menguar pada subuh atau pagi, yang merusak suasana memulai hari.

"Jadi memang enggak menentu, tergantung arah angin, tapi paling sering ya sore sampai malam itu," ucapnya.

Saat atau usai hujan, bau dari RDF malah semakin menyengat. Wahyu menduga bau sangat busuk disebabkan kelembapan udara yang tinggi sehingga aromanya tertahan di bawah dan tercium di mana-mana.

Bahkan, warga Karang Tengah, Desa Pusaka Rakyat, Kecamatan Tarumajaya, Kabupaten Bekasi, kebagian bau selama 24 jam, karena posisi rumah mereka berada sekitar 200 meter di seberang BKT.

Baca juga:

Bau RDF Rorotan tidak menentu

Warga mengeluhkan bau menyengat dari RDF Rorotan. Bau datang tak menentu dan mengganggu aktivitas harian serta kenyamanan hidup.KOMPAS.com/ SHINTA DWI AYU Warga mengeluhkan bau menyengat dari RDF Rorotan. Bau datang tak menentu dan mengganggu aktivitas harian serta kenyamanan hidup.

Ketika Kompas.com mengunjungi wilayah sekitar RDF, bau memang belum tercium, tapi sejumlah warga mengonfirmasi adanya aroma menyengat itu, bahkan dalam seminggu terakhir.

Seorang penjual di sekitar RDF itu mengaku mencium bau tidak sedap pada Rabu (28/1/2026).

Bau dari RDF memang tidak setiap hari, terkadang seminggu sekali atau dua kali. Seperti Wahyu, sang ibu penjual memahami bau busuk dari RDF yang khas dan menyebut, warga Karang Tengah paling parah.

Ia mengaku mendengar keluhan dari penjual lain tentang kehilangan seorang pelanggan yang pindah ke Bogor akibat tidak kuat menahan bau dari RDF. Padahal tempat tinggalnya berada di salah satu cluster di perumahan JGC yang memang lumayan jauh dari RDF.

Baca juga:

"Memang kalau sekarang enggak bau. Cuma kalau anginnya kemari, ya baunya luar biasa, nyess banget," ucapnya.

Sebelumnya, pada Minggu (1/2/2026), warga Kota Harapan Indah, Bekasi, Jawa Barat, mengeluhkan bau menyengat dari RDF, yang telah menembus wilayah mereka. Padahal fasilitas wilayah mereka berjarak jarak sekitar tiga kilometer dari RDF. 

Mereka bersiap melayangkan petisi dan merencanakan audiensi langsung dengan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi atau Kang Dedi, pada Februari 2026.

"Saat ini kami juga sedang buat petisi menolak RDF dan kami akan coba audiensi ke KDM (Kang Dedi Mulyadi)," ucap Kepala Dusun IV Kota Harapan Indah, Bekasi, Jawa Barat, Tomy, dilaporkan oleh Kompas.com, Minggu (1/2/22026).

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Karhutla Bakar 637.011 Hektar Lahan, Organisasi Lintas Iman Desak Siklus Tahunan Diputus
Karhutla Bakar 637.011 Hektar Lahan, Organisasi Lintas Iman Desak Siklus Tahunan Diputus
Pemerintah
ASRI Menyapa Surabaya, Dorong Siswa dan Guru Wujudkan Sekolah Berkelanjutan
ASRI Menyapa Surabaya, Dorong Siswa dan Guru Wujudkan Sekolah Berkelanjutan
Swasta
Lonjakan Belanja Militer Perparah Perubahan Iklim dan Keamanan Global
Lonjakan Belanja Militer Perparah Perubahan Iklim dan Keamanan Global
Pemerintah
Pengembangan PLTS Terapung Perlu Mitigasi agar Tak Ganggu Fungsi Badan Air
Pengembangan PLTS Terapung Perlu Mitigasi agar Tak Ganggu Fungsi Badan Air
Pemerintah
Rotan Kian Sulit Didapat, Perajin Anyaman Mahakam Ulu Terpaksa Beralih ke Plastik
Rotan Kian Sulit Didapat, Perajin Anyaman Mahakam Ulu Terpaksa Beralih ke Plastik
LSM/Figur
'Cage Free Eggs', Mengangkat Isu Kesejahteraan di Sebutir Telur
"Cage Free Eggs", Mengangkat Isu Kesejahteraan di Sebutir Telur
LSM/Figur
Pelajar Galang Dana lewat Golf untuk Wujudkan Harapan Anak dengan Penyakit Kritis
Pelajar Galang Dana lewat Golf untuk Wujudkan Harapan Anak dengan Penyakit Kritis
LSM/Figur
Dilema Pemanfaatan Dana Karbon di Pedalaman Kalimantan...
Dilema Pemanfaatan Dana Karbon di Pedalaman Kalimantan...
LSM/Figur
Bank Global Kucurkan Rp 10,69 Kuadriliun ke Perusahaan Terkait Deforestasi
Bank Global Kucurkan Rp 10,69 Kuadriliun ke Perusahaan Terkait Deforestasi
Pemerintah
Menjaga Mangrove Tetap Hidup, Bukan Sekadar Menanam
Menjaga Mangrove Tetap Hidup, Bukan Sekadar Menanam
Pemerintah
LSEG: Pemilik Aset Semakin Integrasikan Keberlanjutan ke Dalam Portofolio
LSEG: Pemilik Aset Semakin Integrasikan Keberlanjutan ke Dalam Portofolio
Pemerintah
Bisakah Pemulihan Populasi Hewan Besar Bantu Atasi Perubahan Iklim?
Bisakah Pemulihan Populasi Hewan Besar Bantu Atasi Perubahan Iklim?
Pemerintah
Dari Rotan, Masyarakat Dayak Merawat Tradisi dan Membuka Jalan Penghidupan
Dari Rotan, Masyarakat Dayak Merawat Tradisi dan Membuka Jalan Penghidupan
LSM/Figur
Pembangunan Proyek Batu Bara Baru Tiga Kali Lebih Cepat dari Penghentiannya
Pembangunan Proyek Batu Bara Baru Tiga Kali Lebih Cepat dari Penghentiannya
LSM/Figur
Ketika Greenpeace Mencuri Panggung di Bundaran HI
Ketika Greenpeace Mencuri Panggung di Bundaran HI
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau