Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Sebagian Besar Emisi Pertanian Dunia Berasal dari Sawah dan Gambut

Kompas.com, 19 Februari 2026, 21:14 WIB
Monika Novena,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Sumber Earth com

KOMPAS.com - Sebagian kecil lahan pertanian disebut bertanggung jawab atas sebagian besar polusi iklim, menurut penelitian yang dilakukan Universitas Cornell di New York, Amerika Serikat, 

Para peneliti menemukan bahwa pada tahun 2020, sekitar 70 persen emisi dari lahan pertanian hanya berasal dari dua sumber yakni sawah yang digenangi air dan lahan gambut yang dikeringkan, dilansir dari Earth.com, Kamis (19/2/2026).

Baca juga: 

Dalam studi ini, alih-alih melihat emisi pertanian sebagai satu masalah besar yang samar, peneliti membuat peta baru dengan memperbesar tampilannya ke dalam kotak-kotak berukuran sekitar 10 kilometer sehingga polusi dapat dihubungkan langsung dengan tanaman dan bentang alam tertentu.

Dengan menggabungkan data lapangan, catatan satelit, dan pemodelan, para peneliti berhasil menunjukkan dengan tepat di mana lokasi sawah dan lahan gambut yang dikeringkan mendominasi total emisi tersebut.

Padi jadi pemicu polusi pertanian

Emisi lahan pertanian capai 2,5 miliar ton CO2e

Hampir separuh emisi pertanian global berasal dari Asia Timur dan Pasifik. Sawah dan lahan gambut jadi penyumbang utama.Dok. PEXELS/icon0.com Hampir separuh emisi pertanian global berasal dari Asia Timur dan Pasifik. Sawah dan lahan gambut jadi penyumbang utama.

Pada tahun 2020, emisi dari lahan pertanian dunia mencapai 2,5 miliar ton ekuivalen karbon dioksida (CO2e).

Ilmuwan menggunakan "ekuivalen karbon dioksida" sebagai satuan bersama untuk mengubah berbagai gas pemerangkap panas ke dalam satu skala umum. Dengan demikian, mereka bisa membandingkan dampak iklimnya secara langsung.

Hampir separuh dari total emisi tersebut berasal dari Asia Timur dan Pasifik, menurut studi yang dipublikasikan di Nature Climate Change.

Sebagian besar polusi tersebut berasal dari tiga sumber utama yakni lahan gambut yang dikeringkan dan sawah yang digenangi air, masing-masing menyumbang 35 persen.

Polusi juga berasal dari penggunaan pupuk kimia yang berlebihan sebesar 23 persen.

Namun, pola yang paling jelas pada peta baru ini adalah pola geografis. Wilayah-wilayah yang kaya padi di seluruh Asia menjadi pusat emisi terpanas, terutama di sepanjang delta sungai dan dataran rendah, di mana sawah tetap tergenang air dalam waktu yang lama.

Lantas bagaimana sawah mencemari lingkungan?

Hampir separuh emisi pertanian global berasal dari Asia Timur dan Pasifik. Sawah dan lahan gambut jadi penyumbang utama.PIXABAY/ERLIANZAKIA Hampir separuh emisi pertanian global berasal dari Asia Timur dan Pasifik. Sawah dan lahan gambut jadi penyumbang utama.

Ketika sawah tergenang air selama berminggu-minggu, tanah di bawahnya kekurangan oksigen

Saat itulah mikroba mengambil alih, menguraikan bahan tanaman dalam kondisi lembap tersebut dan melepaskan metana.

Di wilayah yang hangat dengan musim tanam yang panjang, sawah dapat terus terendam air selama berbulan-bulan. Hal ini berarti emisi gas terus dihasilkan dalam jangka waktu yang lebih lama.

Petani dapat mengurangi sebagian emisi metana tersebut dengan mengeringkan sawah secara berkala, mengelola sisa jerami dengan lebih hati-hati, atau mengatur waktu pemupukan dengan lebih tepat.

Namun, di banyak tempat, aturan pengelolaan air dan sistem irigasi membatasi seberapa besar fleksibilitas yang sebenarnya dimiliki oleh para petani.

Baca juga:

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Swasta
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
Pemerintah
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
LSM/Figur
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Pemerintah
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
LSM/Figur
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
Pemerintah
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Pemerintah
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
LSM/Figur
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Pemerintah
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
Pemerintah
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
Pemerintah
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pemerintah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Pemerintah
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Pemerintah
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau