Pertanian terkadang juga menggunakan lahan gambut, tanah yang tergenang air yang terbentuk dari berabad-abad tanaman yang sebagian membusuk.
Selama tanah tersebut tetap basah, sebagian besar karbon yang terkubur tetap terkunci. Masalahnya, lahan gambut yang akan ditanami biasanya akan dikeringkan terlebih dahulu.
Saat lahan dikeringkan, oksigen meresap masuk setelah itu karbon yang tersimpan akan cepat terurai dan keluar sebagai karbon dioksida.
Kabar baiknya adalah emisi dapat turun dengan cepat jika tanah gambut dibasahi kembali.
Namun, untuk menghasilkan produk pertanian yang tinggi, pupuk sintetis digunakan untuk mendorong nitrogen melebihi kemampuan tanaman untuk menggunakannya sehingga menyebabkan emisi meningkat.
Baca juga:
Dalam hal ini, banyak lahan pertanian dengan emisi tertinggi juga merupakan lahan yang paling produktif.
Artinya, target iklim terbesar berada tepat di dalam wilayah-wilayah yang menjadi lumbung pangan utama dunia.
Dengan kata lain, jika ingin menurunkan emisi secara drastis, manusia harus mengubah cara bertani di wilayah-wilayah tersebut.
Namun, jika kita salah langkah dalam menerapkan aturan iklim, ada risiko yang mengganggu pasokan makanan dunia.
Apa yang akan terjadi selanjutnya bergantung pada apakah pemerintah dan perusahaan bersedia berinvestasi dalam perubahan sistem pertanian padi, lahan gambut, dan penggunaan pupuk tanpa mengurangi pasokan pangan.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya