KOMPAS.com - Sebagian kecil lahan pertanian disebut bertanggung jawab atas sebagian besar polusi iklim, menurut penelitian yang dilakukan Universitas Cornell di New York, Amerika Serikat,
Para peneliti menemukan bahwa pada tahun 2020, sekitar 70 persen emisi dari lahan pertanian hanya berasal dari dua sumber yakni sawah yang digenangi air dan lahan gambut yang dikeringkan, dilansir dari Earth.com, Kamis (19/2/2026).
Baca juga:
Dalam studi ini, alih-alih melihat emisi pertanian sebagai satu masalah besar yang samar, peneliti membuat peta baru dengan memperbesar tampilannya ke dalam kotak-kotak berukuran sekitar 10 kilometer sehingga polusi dapat dihubungkan langsung dengan tanaman dan bentang alam tertentu.
Dengan menggabungkan data lapangan, catatan satelit, dan pemodelan, para peneliti berhasil menunjukkan dengan tepat di mana lokasi sawah dan lahan gambut yang dikeringkan mendominasi total emisi tersebut.
Hampir separuh emisi pertanian global berasal dari Asia Timur dan Pasifik. Sawah dan lahan gambut jadi penyumbang utama.Pada tahun 2020, emisi dari lahan pertanian dunia mencapai 2,5 miliar ton ekuivalen karbon dioksida (CO2e).
Ilmuwan menggunakan "ekuivalen karbon dioksida" sebagai satuan bersama untuk mengubah berbagai gas pemerangkap panas ke dalam satu skala umum. Dengan demikian, mereka bisa membandingkan dampak iklimnya secara langsung.
Hampir separuh dari total emisi tersebut berasal dari Asia Timur dan Pasifik, menurut studi yang dipublikasikan di Nature Climate Change.
Sebagian besar polusi tersebut berasal dari tiga sumber utama yakni lahan gambut yang dikeringkan dan sawah yang digenangi air, masing-masing menyumbang 35 persen.
Polusi juga berasal dari penggunaan pupuk kimia yang berlebihan sebesar 23 persen.
Namun, pola yang paling jelas pada peta baru ini adalah pola geografis. Wilayah-wilayah yang kaya padi di seluruh Asia menjadi pusat emisi terpanas, terutama di sepanjang delta sungai dan dataran rendah, di mana sawah tetap tergenang air dalam waktu yang lama.
Lantas bagaimana sawah mencemari lingkungan?
Hampir separuh emisi pertanian global berasal dari Asia Timur dan Pasifik. Sawah dan lahan gambut jadi penyumbang utama.Ketika sawah tergenang air selama berminggu-minggu, tanah di bawahnya kekurangan oksigen
Saat itulah mikroba mengambil alih, menguraikan bahan tanaman dalam kondisi lembap tersebut dan melepaskan metana.
Di wilayah yang hangat dengan musim tanam yang panjang, sawah dapat terus terendam air selama berbulan-bulan. Hal ini berarti emisi gas terus dihasilkan dalam jangka waktu yang lebih lama.
Petani dapat mengurangi sebagian emisi metana tersebut dengan mengeringkan sawah secara berkala, mengelola sisa jerami dengan lebih hati-hati, atau mengatur waktu pemupukan dengan lebih tepat.
Namun, di banyak tempat, aturan pengelolaan air dan sistem irigasi membatasi seberapa besar fleksibilitas yang sebenarnya dimiliki oleh para petani.
Baca juga:
Hampir separuh emisi pertanian global berasal dari Asia Timur dan Pasifik. Sawah dan lahan gambut jadi penyumbang utama.Pertanian terkadang juga menggunakan lahan gambut, tanah yang tergenang air yang terbentuk dari berabad-abad tanaman yang sebagian membusuk.
Selama tanah tersebut tetap basah, sebagian besar karbon yang terkubur tetap terkunci. Masalahnya, lahan gambut yang akan ditanami biasanya akan dikeringkan terlebih dahulu.
Saat lahan dikeringkan, oksigen meresap masuk setelah itu karbon yang tersimpan akan cepat terurai dan keluar sebagai karbon dioksida.
Kabar baiknya adalah emisi dapat turun dengan cepat jika tanah gambut dibasahi kembali.
Namun, untuk menghasilkan produk pertanian yang tinggi, pupuk sintetis digunakan untuk mendorong nitrogen melebihi kemampuan tanaman untuk menggunakannya sehingga menyebabkan emisi meningkat.
Baca juga:
Dalam hal ini, banyak lahan pertanian dengan emisi tertinggi juga merupakan lahan yang paling produktif.
Artinya, target iklim terbesar berada tepat di dalam wilayah-wilayah yang menjadi lumbung pangan utama dunia.
Dengan kata lain, jika ingin menurunkan emisi secara drastis, manusia harus mengubah cara bertani di wilayah-wilayah tersebut.
Namun, jika kita salah langkah dalam menerapkan aturan iklim, ada risiko yang mengganggu pasokan makanan dunia.
Apa yang akan terjadi selanjutnya bergantung pada apakah pemerintah dan perusahaan bersedia berinvestasi dalam perubahan sistem pertanian padi, lahan gambut, dan penggunaan pupuk tanpa mengurangi pasokan pangan.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya