Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ratusan Ikan Salmon Mati akibat Pipa PLTA Pecah di Amerika Serikat

Kompas.com, 20 Februari 2026, 12:42 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Sumber Phys.org, NOAA

KOMPAS.com - Ratusan ikan salmon chinook muda ditemukan mati di bagian hilir Sungai Yuba, California utara, Amerika Serikat, usai pecahnya pipa besar di pembangkit listrik tenaga air (PLTA) New Colgate.

Aliran air di bagian hilir Sungai Yuba sempat menurun usai terjadi patahan, yang menyebabkan anak-anak salmon terperangkap di bebatuan di sepanjang tepi sungai.

Baca juga:

"Anda bekerja sangat keras dan menghabiskan begitu banyak waktu, energi, dan sumber daya untuk mencoba mengembalikan spesies-spesies ini, lalu terjadi kecelakaan yang mengerikan. Sulit untuk tidak merasa bahwa sebagian dari kerja keras itu menjadi sia-sia," ujar direktur eksekutif South Yuba River Citizens League, Aaron Zettler-Mann, dilansir dari Phys.org, Jumat (20/2/2026).

Adapun ikan yang kerap dijuluki raja salmon ini tidak mengalami overfishing (pemancingan berlebihan). Namun, biasanya ikan ini akan mati setelah bertelur, dilansir dari laman National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA). 

Sementara itu, badan yang menaungi PLTA New Colgate telah menerima laporan tentang salmon mati di hilir Sungai Yuba.

"(Kami) sedang bekerja sama dengan Departemen Perikanan dan Satwa Liar California serta South Yuba River Citizens League untuk menilai dampak insiden tersebut terhadap kondisi di hilir Sungai Yuba, termasuk angka kematian ikan," tutur juru bicara Yuba Water Agency, DeDe Cordell.

Baca juga:

Ratusan ikan salmon mati di AS akibat pipa pecah

Kegagalan mendadak

Ratusan salmon chinook muda ditemukan mati di hilir Sungai Yuba, California, Amerika Serikat, usai pipa PLTA New Colgate pecah.Dok. Wikimedia Commons/Roger Tabor/USFWS Ratusan salmon chinook muda ditemukan mati di hilir Sungai Yuba, California, Amerika Serikat, usai pipa PLTA New Colgate pecah.

Pipa baja besar yang mengalirkan air ke PLTA New Colgate pecah di lereng atas Sungai North Yuba pada Jumat (13/2/2026) sore.

Imbasnya, aliran air, lumpur, dan puing-puing menerjang fasilitas PLTA New Colgate dan melukai seorang pekerja.

Peristiwa tersebut membuat operasional PLTA New Colgate terhenti. Hal itu memicu penurunan mendadak pelepasan air dari bendungan Englebright, yang secara kasar mengurangi aliran Sungai Yuba bagian hilir hingga setengahnya selama sekitar dua jam.

Dampaknya, anak-anak salmon terperangkap saat air surut.

"Untuk memperjelas, tidak ada puing atau material yang terlempar akibat insiden tersebut yang sampai di bawah Bendungan Englebright hingga saat ini sehingga dampak apa pun terhadap bagian hilir Sungai Yuba tidak disebabkan oleh puing atau material lain di dalam air," ucap Cordell dari Yuba Water Agency.

Menurt Cordell, pemeriksaan lapangan awal di dekat lokasi kejadian menunjukkan kekeruhan yang tinggi. Berbagai sampel kualitas air telah dikirim ke laboratorium untuk dianalisis.

Juru bicara Kantor Pencegahan dan Penanggulangan Tumpahan di Departemen Perikanan dan Satwa Liar California, Eric Laughlin mengatakan, pihaknya juga mengumpulkan sampel lapisan minyak, yang masih sedang dianalisis.

Baca juga:

Namun, Zettler-Mann menyebut, yang membunuh salmon muda itu bukanlah polusi dari puing-puing.

Seorang peneliti senior di Pusat Ilmu Daerah Aliran Sungai UC Davis, Carson Jeffres mengatakan, insiden tersebut tidak akan memusnahkan populasi salmon di Sungai Yuba.

Kendati demikian, populasi salmon di California belum sepenuhnya pulih.

"California sedang mengalami periode langka dengan curah hujan sekitar empat tahun berturut-turut, dan tahun-tahun yang lebih basah tersebut telah membantu populasi salmon pulih dari jumlah yang sangat rendah yang menyebabkan penutupan perikanan empat tahun lalu," jelas Jeffres.

Penurunan aliran air yang cepat dapat berdampak buruk bagi ikan yang tidak mampu bergerak, terutama salmon muda yang saat itu kemampuan berenangnya masih lemah. Salmon muda kemungkinan terdampar di tepi sungai.

"Ketika kita bergantung pada struktur buatan manusia untuk mengelola ekosistem kita, kita harus waspada bahwa kegagalan struktur ini dapat berdampak pada ekosistem," ucapnya.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Swasta
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pemerintah
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
LSM/Figur
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
Pemerintah
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Pemerintah
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
Swasta
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Pemerintah
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Pemerintah
'Bijak Jajan Cinta Bumi', Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
"Bijak Jajan Cinta Bumi", Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
Swasta
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
LSM/Figur
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Pemerintah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
LSM/Figur
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Pemerintah
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
BUMN
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau