KOMPAS.com - Perdagangan satwa liar merupakan salah satu perdagangan ilegal paling luas di dunia yang berkontribusi pada hilangnya keanekaragaman hayati, kejahatan terorganisir, dan risiko kesehatan masyarakat.
Perdagangan ini dulunya terkonsentrasi di pasar fisik, namun kini sebagian besar aktivitas ini telah berpindah ke dunia maya. Hewan dan produk hewani ilegal tersebut diiklankan di platform e-commerce besar bercampur dengan barang kebutuhan sehari-hari.
Perubahan ini memang membuat penegakan hukum jadi lebih sulit, tetapi di sisi lain, aktivitas di internet ini menciptakan sumber data baru yang sangat berharga untuk melacak para pelaku.
Melansir Phys, Kamis (26/2/2026) setiap iklan di internet meninggalkan jejak digital seperti deskripsi, harga, foto, informasi penjual, dan waktu posting.
Kalau semua data ini dikumpulkan dan dianalisis dalam jumlah besar, para peneliti bisa memahami cara kerja sindikat perdagangan satwa ilegal secara online.
Masalah utamanya adalah jumlah iklannya yang sangat banyak. Situs jual-beli online punya jutaan iklan, dan saat kita mencari nama hewan, hasil yang muncul kebanyakan justru tidak relevan, seperti mainan, pajangan, atau suvenir.
Baca juga: Terobosan Investigasi: Pakai AI untuk Bongkar Perdagangan Satwa Liar Global
Membedakan mana iklan hewan sungguhan dan mana sekadar mainan biasa sangat sulit kalau dilakukan manual, dan cukup rumit kalau mau dibuatkan sistem otomatisnya.
Juliana Freire, seorang profesor ilmu komputer dari NYU Tandon School of Engineering di New York, bersama timnya berupaya mengatasi tantangan tersebut secara langsung dengan membangun sistem yang mampu menangani data dalam jumlah besar.
Mereka menciptakan alur kerja otomatis yang dapat mengumpulkan iklan terkait satwa liar dari internet dan menyaringnya menggunakan teknologi kecerdasan buatan terkini.
Tujuan mereka bukan hanya memantau satu jenis hewan atau satu situs saja, melainkan memungkinkan pemantauan secara luas dan sistematis di berbagai platform, wilayah, dan bahasa.
Selain itu, mereka juga mengembangkan strategi untuk melumpuhkan pasar ilegal tersebut. Temuan mereka telah diterbitkan dalam jurnal Proceedings of the ACM on Management of Data.
Penelitian ini pun memungkinkan pengumpulan data besar-besaran untuk menjawab berbagai pertanyaan ilmiah dan memberikan gambaran tentang seluk-beluk perdagangan satwa liar.
Salah satu analisis terhadap 14.000 iklan produk kulit reptil di eBay menunjukkan bahwa kulit buaya, aligator, dan ular piton mendominasi pasar tersebut.
Sementara itu hanya sekitar 10 jenis produk hewan seperti tas yang terbuat dari kulit reptil, yang menyumbang 72 persen dari total iklan.
Ini menunjukkan bahwa perdagangan ilegal ini sebenarnya sangat terfokus pada segelintir barang mewah saja.
Analisis dari semua iklan tersebut menunjukkan bahwa meskipun produk kulit kecil ini dikirim dari 65 negara, ternyata 93 persennya berasal dari hanya 10 negara. Amerika Serikat, Inggris, dan Australia sendiri menyumbang lebih dari tiga perempat pasar barang mewah ini.
Data serupa dari eBay terkait pajangan hiu dan pari mengungkapkan bahwa, meskipun situs tersebut sudah melarang penjualan spesies yang terancam punah, produk turunannya seperti rahang atau gigi ternyata masih dijual secara luas.
Pajangan hiu macan menyumbang 20 persen dari total iklan, dengan harga jual mencapai sekitar Rp48 juta. Lebih dari 85 persen iklan ini berasal dari penjual di Amerika Serikat.
Ini menunjukkan adanya jalur perdagangan langsung dari kapal nelayan komersial di laut dalam, yang barangnya berakhir menjadi barang mewah di pasar Amerika.
Baca juga: Satwa Liar Terjepit Deforestasi, Perburuan, dan Perdagangan Ilegal
Penelitian ini juga dapat digunakan untuk menentukan cara paling efektif dalam melumpuhkan pasar ilegal tersebut. Misalnya, para peneliti menemukan bahwa memburu penjual utama memang efektif, tetapi menargetkan jenis produk tertentu contohnya jam tangan aligator ternyata jauh lebih efektif untuk merusak pasar kulit reptil secara keseluruhan, dan cara ini jauh lebih mudah diterapkan dalam skala yang luas.
Para penulis menegaskan bahwa sistem ini hanyalah langkah awal, bukan solusi akhir yang sempurna. Alur kerjanya dirancang agar fleksibel, sehingga peneliti di masa depan bisa dengan mudah menambahkan teknologi pendeteksi yang lebih canggih, alat analisis foto, atau sumber data baru.
Dengan membuka akses kodenya untuk siapa saja, mereka berharap bisa mendorong kerja sama yang lebih luas dari berbagai pihak.
Seiring dengan semakin banyaknya perdagangan satwa liar yang berpindah ke internet, memahami jejak digitalnya menjadi jauh lebih penting.
Alat pengumpulan data yang mampu menangani skala besar seperti ini menawarkan cara untuk mengubah iklan online yang tadinya berantakan menjadi informasi yang bisa langsung ditindaklanjuti. Ini adalah langkah krusial untuk menghentikan perdagangan satwa liar ilegal di era digital saat ini.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya