Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Batasi Medsos Dinilai Tak Efektif, PBB Desak Platform Lebih Aman untuk Anak

Kompas.com, 30 Mei 2026, 18:37 WIB
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menilai pemblokiran akses media sosial (medsod) bagi anak-anak tak cukup efektif. Menurut Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia, Volker Turk, pemerintah dan perusahaan teknologi harus membuat platform medsos lebih aman sejak perancangan awal.

Pasalnya, paparan di ruang digital saat ini kian mereskahkan mulai dari fitur desain yang membuat ketagihan hingga pelanggaran privasi anak.

“Bahaya daring terhadap keselamatan, privasi, dan kesejahteraan anak-anak merupakan hasil dari pilihan desain dan praktik bisnis yang mengabaikan keselamatan, termasuk fitur desain yang membuat ketagihan seperti gulir tanpa batas (infinite scroll), putar otomatis (autoplay), dan notifikasi yang terus-menerus muncul,” ujar Turk dilansir dari UN News, Sabtu (30/5/2026).

Baca juga: Bullying lewat AI Kian Marak Terjadi, Anak-Anak Jadi Korbannya

PBB lantas merilis pedoman berjudul Getting Children's Safety Online Right, yang terbit seiring dengan pembatasan media sosial berdasarkan usia diterapkan di berbagai negara dunia.

Di Australia, misalnya, pemerintah melarang anak di bawah usia 10 tahun menggunakan platform medsos sejak Desember 2025. Aturan ini disusul Indonesia dan Malaysia, sementar belasan negara lainnya tengah mempertimbangkan hal serupa.

Namun, Turk memperingatkan bahwa larangan semacam itu dapat dengan mudah dihindari dan berisiko mendorong anak-anak menuju ruang digital yang lebih berbahaya dan kurang diawasi.

“Sekadar membatasi akses ke platform yang tetap tidak aman tidak dapat menjadi tujuan akhir,” ucap dia.

Direktur Keterlibatan Tematik dan Prosedur Khusus OHCHR, Peggy Hicks, mengatakan bahwa perusahaan teknologi kini menghadapi pilihan yang jelas.

Baca juga: Anak Perempuan Kurang Percaya Diri Hadapi Teknologi AI Dibandingkan Laki-Laki

“Mengubah cara platform mereka dirancang dan dioperasikan agar lebih melindungi hak serta keselamatan anak-anak, atau dipaksa melakukannya melalui undang-undang yang semakin ketat dan denda regulasi,” jelas Hicks.

Berikut 10 pedoman yang direkomendasikan PBB:

  1. Mewajibkan platform aman sejak tahap perancangan lantaran PBB menilai perlindungan anak tidak boleh dibebankan sepenuhnya kepada orangtua dan anak. Perusahaan teknologi harus menerapkan prinsip safety by design dengan menghilangkan fitur yang berpotensi menimbulkan kecanduan
  2. Menjadikan hak anak sebagai dasar regulasi digital
  3. Memperkuat perlindungan data pribadi anak, menegaskan bahwa perlindungan privasi harus menjadi pengaturan bawaan. Praktik penargetan iklan berbasis data terhadap anak-anak untuk kepentingan komersial tidak boleh dilakukan
  4. Perusahaan teknologi diminta melakukan penilaian dampak terhadap hak-hak anak sebelum meluncurkan fitur, layanan, atau aplikasi baru. Hasil penilaian tersebut juga harus dilaporkan secara terbuka kepada publik
  5. Sistem verifikasi usia berpotensi menimbulkan risiko privasi jika tidak dikelola dengan baik. Karena itu, penerapannya harus disertai aturan ketat mengenai penyimpanan data, transparansi, dan akuntabilitas
  6. Pembatasan yang ditargetkan pada konten atau layanan berisiko tinggi, seperti pornografi, perjudian, atau fitur-fitur yang terbukti bersifat adiktif.
  7. Anak-anak harus dilibatkan dalam perumusan regulasi dan desain lingkungan digital. Mereka memiliki hak untuk didengar terkait kebijakan yang berdampak langsung pada kehidupan mereka
  8. Perusahaan teknologi diminta lebih terbuka mengenai cara kerja algoritma, sistem rekomendasi konten, praktik pengumpulan data, dan mekanisme moderasi konten agar dapat diawasi oleh regulator maupun peneliti.
  9. Setiap kebijakan perlindungan anak harus disertai mekanisme pengawasan independen, pelaporan berkala, serta sanksi yang efektif bagi pihak yang melanggar aturan
  10. Regulator perlu terus mengumpulkan bukti dan penelitian terbaru mengenai dampak teknologi terhadap anak. Akses peneliti independen terhadap data perusahaan juga dinilai penting untuk memastikan kebijakan yang diambil tetap relevan.

Hicks menekankan, lanskap digital yang berkembang sangat cepat termasuk meningkatnya penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dan chatbot menjadikan kebijakan sebagai hal yang sangat penting.

“Kita perlu mengumpulkan bukti dan beradaptasi dengan cepat terhadap apa yang kita pelajari,” papar dia.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
BRIN Dorong Pemanfaatan Biomaterial untuk Industri Pertahanan
BRIN Dorong Pemanfaatan Biomaterial untuk Industri Pertahanan
Pemerintah
Filosi Tanam 1.000 Pohon di NTT untuk Hijaukan Kali Liliba
Filosi Tanam 1.000 Pohon di NTT untuk Hijaukan Kali Liliba
Swasta
Menteri LH: Indonesia Masuki Fase Kedua Pembangunan, Bertumpu pada Kredit Karbon
Menteri LH: Indonesia Masuki Fase Kedua Pembangunan, Bertumpu pada Kredit Karbon
Pemerintah
Kereta Hidrogen Komersial Pertama Jepang Siap Meluncur 2027
Kereta Hidrogen Komersial Pertama Jepang Siap Meluncur 2027
Pemerintah
UNU Yogyakarta Buka Beasiswa Kuliah terkait Pembangunan Berkelanjutan
UNU Yogyakarta Buka Beasiswa Kuliah terkait Pembangunan Berkelanjutan
LSM/Figur
Penurunan Angka Kelahiran Bentuk Ulang Transisi Energi Global
Penurunan Angka Kelahiran Bentuk Ulang Transisi Energi Global
Pemerintah
Peneliti Khawatir Suhu Daun Tanaman Naik Lebih Cepat akibat Perubahan Iklim
Peneliti Khawatir Suhu Daun Tanaman Naik Lebih Cepat akibat Perubahan Iklim
LSM/Figur
Limbah Tandan Kosong Sawit Berpotensi Jadi Bahan Plafon yang Lebih Kuat dan Murah
Limbah Tandan Kosong Sawit Berpotensi Jadi Bahan Plafon yang Lebih Kuat dan Murah
LSM/Figur
Gelombang Panas Ancam Stadion, Ahli Dorong Renovasi untuk Hadapi Krisis Iklim
Gelombang Panas Ancam Stadion, Ahli Dorong Renovasi untuk Hadapi Krisis Iklim
Pemerintah
Pindad Kembangkan Amunisi dari Limbah Kelapa Sawit
Pindad Kembangkan Amunisi dari Limbah Kelapa Sawit
BUMN
 Primata Kunci Cegah Kepunahan Massal akibat Perubahan Iklim
Primata Kunci Cegah Kepunahan Massal akibat Perubahan Iklim
Pemerintah
IATA: Penerbangan Ramah Lingkungan Mahal dan Maskapai Tak Sanggup Tanggung Sendiri
IATA: Penerbangan Ramah Lingkungan Mahal dan Maskapai Tak Sanggup Tanggung Sendiri
Pemerintah
Peta Risiko Penyakit Menular Lewat Air Bergeser akibat Perubahan Iklim
Peta Risiko Penyakit Menular Lewat Air Bergeser akibat Perubahan Iklim
LSM/Figur
Pasar Hijau Tembus Rp179,77 Kuadriliun, Asia Makin Dominan
Pasar Hijau Tembus Rp179,77 Kuadriliun, Asia Makin Dominan
Pemerintah
Pertamina Usul Blending SAF 1 Persen Rute Jakarta-Bali, Jaga Keseimbangan Emisi dan Harga Tiket Pesawat
Pertamina Usul Blending SAF 1 Persen Rute Jakarta-Bali, Jaga Keseimbangan Emisi dan Harga Tiket Pesawat
BUMN
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau