JAKARTA, KOMPAS.com - Kualitas udara di Jakarta kembali memburuk pada Sabtu (30/5/2026) pagi. Berdasarkan data pemantau kualitas udara IQAir, Jakarta menempati urutan keenam dalam daftar kota dengan tingkat polusi udara terburuk di dunia.
Tercatat, indeks kualitas udara atau Air Quality Index (AQI) Jakarta berada di angka 140. Angka tersebut masuk dalam kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif, seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta masyarakat yang memiliki penyakit pernapasan dan jantung.
Adapun 10 kota paling berpolusi di dunia saat ini antara lain:
Baca juga: Industri Kopi dan Olahan Susu Belum Punya Target Atasi Polusi Metana
IQAir melaporkan kualitas udara Jakarta dalam beberapa pekan terakhir kerap berada di level tidak sehat, yang berulang kali masuk daftar kota paling berpolusi.
Pada awal hingga pertengahan Mei 2026, Ibu Kota juga menempati posisi enam besar bahkan sempat menjadi kota dengan polusi udara terburuk secara global.
"Tren tahunan yang lebih luas menegaskan tingkat keparahan masalah polusi. Tingkat PM2.5 di seluruh wilayah metropolitan Jabodetabek rata-rata mencapai 34.1 mikrogram per meter kubik pada 2025, setara dengan AQI 97 mendekati batas atas kategori sedang dan hampir memasuki kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif, namun masih hampir enam kali lipat di atas pedoman tahunan WHO," tulis IQAir dalam laporannya.
Berdasarkan Laporan Kualitas Udara Dunia, Indonesia tetap menjadi negara paling tercemar di Asia Tenggara dan negara ke-17 paling tercemar di dunia pada 2025.
Baca juga: Alih Fungsi Lahan di Asia Tenggara Picu Krisis Polusi Udara, RI Paling Dirugikan
Penyebab tingginya polusi udara di Jakarta antara lain emisi kendaraan bermotor, aktivitas industri, hingga kontribusi pembangkit listrik tenaga batu bara di sekitar wilayah metropolitan.
Selain itu, memasuki musim kemarau cuaca yang lebih kering dan rendahnya kecepatan angin turut memperburuk konsentrasi partikel polutan. Kebakaran lahan gambut pun memperparah polusi.
"Analisis data pemantauan kualitas udara dari 2019 hingga 2023 menegaskan bahwa konsentrasi rata-rata bulanan PM2.5 di Jakarta mengikuti pola musiman yang jelas, dengan puncak polusi terjadi pada Juni, Juli, dan Agustus selama musim kemarau, lalu menurun dari September hingga April selama musim hujan," kata IQAir.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya