Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Boros Energi, Ahli Desak Konsumen Gunakan Pendingin Alternatif

Kompas.com, 30 Mei 2026, 19:17 WIB
Add on Google
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber Euronews

KOMPAS.com - Suhu panas seakan menjadi normal baru di berbagai wilayah dunia. Salah satu dampaknya adalah permintaan akan pendingin ruangan semakin meningkat.

Badan Energi Internasional (IEA) memproyeksikan kebutuhan negara-negara berkembang dan negara dengan ekonomi yang sedang tumbuh akan tumbuh lebih dari 80 persen pada 2050.

Ini artinya ada ketergantungan yang besar pada pendingin ruangan.

Namun, melansir Euro News, Jumat (29/5/2026) puncak penggunaan pendingin ruangan menyebabkan konsumsi energi yang lebih tinggi, emisi gas rumah kaca, dan udara yang lebih hangat, terutama di kota-kota, karena efek pulau panas perkotaan.

Para ahli mendesak penggunaan cara pendinginan alternatif, termasuk memilih unit pendingin udara dengan emisi lebih rendah dan desain rumah yang lebih strategis.

Permintaan melonjak di seluruh dunia

IEA menyebut 130 juta unit pendingin ruangan di Uni Eropa pada 2023 dan memperkirakan bahwa jumlahnya bisa meningkat empat kali lipat pada 2050.

Sementara itu di seluruh Asia Tenggara, jumlah pendingin udara diperkirakan akan meningkat sembilan kali lipat antara tahun 2020 dan 2040 berdasarkan pengaturan kebijakan saat ini, menurut laporan IEA tahun 2025.

Baca juga: AC Dinginkan Rumah Tapi Lemahkan Komitmen Masyarakat dalam Aksi Iklim

Khususnya di Indonesia, persentase penduduk yang memiliki unit pendingin udara diperkirakan akan meningkat dari 14 persen pada tahun 2023 menjadi 85 persen pada tahun 2050, sebagian besar didorong oleh peningkatan standar hidup.

Meskipun peningkatan akses ke sistem pendingin berarti meningkatkan kualitas hidup jutaan orang dan mencegah kematian akibat panas, hal ini juga membawa serangkaian tantangan bagi sistem energi.

“Puncak penggunaan listrik yang didorong oleh pendingin ini dapat membahayakan keterjangkauan dan keandalan listrik, terutama jika teknologi yang efisien tidak tersedia untuk meredam dampaknya pada sistem energi,” kata IEA dalam laporannya.

Selain itu, AC saat ini bertanggung jawab atas emisi sekitar satu miliar ton CO2 per tahun, dari total 37 miliar ton yang dikeluarkan di seluruh dunia.

Refrigeran hidrofluorokarbon (HFC) dan hidroklorofluorokarbon (HCFC) yang digunakan dalam pendingin udara juga memerangkap panas di atmosfer ribuan kali lebih banyak daripada CO2, sehingga mendorong pemanasan global.

"Pendingin udara dapat memberikan tekanan yang sangat besar pada jaringan listrik dan mempercepat emisi gas rumah kaca, memperburuk krisis iklim," ungkap Clara Camarasa, seorang ahli di IEA.

"Pertumbuhan pesat dalam kebutuhan pendingin udara dapat menyebabkan penggunaan peralatan yang tidak efisien dan boros energi," tambahnya.

Pendingin udara juga sering membutuhkan volume air yang besar, dan beberapa di antaranya, dengan refrigeran tertentu, memiliki potensi pemanasan yang sangat tinggi, yang juga berbahaya bagi lapisan ozon.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Boros Energi, Ahli Desak Konsumen Gunakan Pendingin Alternatif
Boros Energi, Ahli Desak Konsumen Gunakan Pendingin Alternatif
Pemerintah
Meriahkan Waisak 2026, DKI Jakarta Wujudkan Kota Inklusif lewat 'Illumination of Jakarta, Glow of Peace'
Meriahkan Waisak 2026, DKI Jakarta Wujudkan Kota Inklusif lewat "Illumination of Jakarta, Glow of Peace"
Pemerintah
Amazon, Google, Meta, dan Microsoft Kompak Investasi Teknologi Ramah Lingkungan
Amazon, Google, Meta, dan Microsoft Kompak Investasi Teknologi Ramah Lingkungan
Pemerintah
Batasi Medsos Dinilai Tak Efektif, PBB Desak Platform Lebih Aman untuk Anak
Batasi Medsos Dinilai Tak Efektif, PBB Desak Platform Lebih Aman untuk Anak
Pemerintah
Pagi Ini, Jakarta Masuk 10 Kota Paling Berpolusi di Dunia
Pagi Ini, Jakarta Masuk 10 Kota Paling Berpolusi di Dunia
Swasta
Perkuat Biodiversitas, Nuanu Creative City Tanam 1.000 Pohon Lokal
Perkuat Biodiversitas, Nuanu Creative City Tanam 1.000 Pohon Lokal
LSM/Figur
Bukit Asam Catat Lonjakan Emisi Operasional Batu Bara dalam 5 Tahun Terakhir
Bukit Asam Catat Lonjakan Emisi Operasional Batu Bara dalam 5 Tahun Terakhir
BUMN
Perempuan Lebih Rentan di Lingkungan Kerja 'Toxic'
Perempuan Lebih Rentan di Lingkungan Kerja "Toxic"
Swasta
Studi Sebut Swasembada Saja Tak Cukup Cegah Krisis Pangan Global
Studi Sebut Swasembada Saja Tak Cukup Cegah Krisis Pangan Global
Pemerintah
Suhu Bumi Diprediksi Naik 1,9 Derajat C pada Tahun 2030
Suhu Bumi Diprediksi Naik 1,9 Derajat C pada Tahun 2030
Pemerintah
Emiten Energi Fosil Raup Keuntungan Fantastis, Saatnya 'Windfall Tax' Diterapkan
Emiten Energi Fosil Raup Keuntungan Fantastis, Saatnya "Windfall Tax" Diterapkan
LSM/Figur
Pengamat: Lingkungan Kerja 'Toxic' karena Supervisor jadi 'Raja Kecil'
Pengamat: Lingkungan Kerja "Toxic" karena Supervisor jadi "Raja Kecil"
Swasta
Dana Iklim Negara Maju Melampaui Target, Capai Lebih Rp1.787 Triliun
Dana Iklim Negara Maju Melampaui Target, Capai Lebih Rp1.787 Triliun
Pemerintah
Industri Mulai Lirik ke PLTS Demi Jaga Bisnis Tetap Jalan
Industri Mulai Lirik ke PLTS Demi Jaga Bisnis Tetap Jalan
Swasta
Laporan BNEF: Perdagangan Energi Bersih Global Tembus Rp 8.564 Triliun
Laporan BNEF: Perdagangan Energi Bersih Global Tembus Rp 8.564 Triliun
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau