Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Serangan AS-Israel ke Iran Picu Harga Minyak Global Naik, Bagaimana Harga BBM di Indonesia?

Kompas.com, 2 Maret 2026, 18:19 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Sumber BBC

KOMPAS.com - Sekitar 90 persen minyak yang diimpor Indonesia berasal dari wilayah Timur Tengah. Maka dari itu, serangan Amerika Serikat-Israel ke Iran sejak Sabtu (28/2/2026) bisa memicu kenaikan harga minyak global sekitar 26 hingga 50 persen.

Sementara itu, Iran membalas dengan meluncurkan rudal ke Israel utara dan pangkalan militer Amerika Serikat di Timur Tengah, dilaporkan oleh Kompas.com, Minggu (1/3/2026).

Baca juga:

Peristiwa tersebut juga kemungkinan akan meningkatkan harga bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia di atas 25 persen.

"Ada kemungkinan harga minyak naik di atas 25 persen jika Iran menutup Selat Hormuz," kata pakar energi dari Universitas Padjajaran (Unpad), Yayan Satyakti kepada Kompas.com, Senin (2/3/2026).

Dampak serangan Amerika-Israel ke Iran pada BBM Indonesia

Pelabuhan Al Aqir di Selat Hormuz, difoto dari Ras Al Khaimah, Uni Emirat Arab, 25 Februari 2026. Serangan AS dan Israel ke Iran berpotensi mendorong harga minyak global naik 26–50 persen. Bagaimana dengan BBM di Indonesia?AFP/FADEL SENNA Pelabuhan Al Aqir di Selat Hormuz, difoto dari Ras Al Khaimah, Uni Emirat Arab, 25 Februari 2026. Serangan AS dan Israel ke Iran berpotensi mendorong harga minyak global naik 26–50 persen. Bagaimana dengan BBM di Indonesia?

Di sisi lain, dalam skenario Iran tidak melakukan retaliasi dan masih membuka Selat Hormuz, kemungkinan harga minyak global naik 10 sampai 25 persen.

Jika Iran tidak melakukan retaliasi dan masih membuka Selat Hormuz, harga BBM di Indonesia juga bisa naik sekitar 10 sampai 25 persen.

Penghitungan prediksi kenaikan harga minyak global dengan kedua skenario tersebut menggunakan game theory dalam pendekatan Bayesian Nash Equilibrium (BNE).

Sebagai informasi, Selat Hormuz berperan penting dalam pasokan minyak dan gas. Dilansir dari BBC, Senin (3/2/2026), sekitar 20 persen dari pasokan minyak dan gas dunia dikirimkan lewat perairan tersebut. 

Baca juga:

Harga minyak global naik, percepat transisi energi di Indonesia?

Cerobong asap dari Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Cirebon-1 terlihat dari permukiman warga di Desa Citemu, Kecamatan Mundu, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, Minggu (11/1/2026). Serangan AS dan Israel ke Iran berpotensi mendorong harga minyak global naik 26–50 persen. Bagaimana dengan BBM di Indonesia?KOMPAS.com/DANUR LAMBANG PRISTIANDARU Cerobong asap dari Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Cirebon-1 terlihat dari permukiman warga di Desa Citemu, Kecamatan Mundu, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, Minggu (11/1/2026). Serangan AS dan Israel ke Iran berpotensi mendorong harga minyak global naik 26–50 persen. Bagaimana dengan BBM di Indonesia?

Menurut Yayan, kenaikan harga minyak global tidak akan mempercepat transisi ke energi baru terbarukan (EBT) di Indonesia.

Hal ini mengingat pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) di Indonesia sudah sedikit atau sekitar lima hingga 10 persen. Untuk energi fosil di Indonesia, sebagian besar adalah pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batu bara.

Yayan menganggap, lonjakan harga saham batu bara di tengah esklasi konflik Israel dan AS versus Iran hanya sentiman teknikal.

"Kalau secara fundamentalnya, enggak. Agak-agak kurang begitu relevan ya (kenaikan harga minyak global mempengaruhi peningkatan penggunaan batu bara). Itu hanya sentimen terhadap pasar saham," tutur Yayan.

Selain itu, transisi energi ke EBT di Indonesia lebih banyak dipengaruhi investasi, bukan tekanan dari kenaikan harga minyak global. Apalagi, dana Just Energy Transtition Partnership (JETP) saja sampai sekarang masih belum turun.

Indonesia tidak mempunyai modal untuk transisi energi ke EBT dalam skala besar. Adapun yang bisa dilakukan Indonesia saat ini mungkin memensiunkan dini PLTU batu bara Cirebon-1 dan menggantinya dengan PLTU Ombilin yang terletak di Kota Sawahlunto, Sumatera Barat.

"Kalau kita mau transisi ya transisinya ya butuh empat atau lima tahun, sementara kan kita lihat Pak (Presiden) Prabowo (Subianto) itu cenderung ke fosil ya," ucapnya.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
LSM/Figur
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
Pemerintah
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Pemerintah
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
LSM/Figur
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Pemerintah
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
Pemerintah
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
Pemerintah
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pemerintah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Pemerintah
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Pemerintah
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
LSM/Figur
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Pemerintah
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Pemerintah
Ahli Ingatkan Ancaman Kerusakan Total 'Great Barrier Reef' Akibat El Nino
Ahli Ingatkan Ancaman Kerusakan Total "Great Barrier Reef" Akibat El Nino
Pemerintah
Dari Ibu Hamil hingga Remaja, Program PASTI Bangun Ekosistem Pencegahan Stunting di Kubu Raya
Dari Ibu Hamil hingga Remaja, Program PASTI Bangun Ekosistem Pencegahan Stunting di Kubu Raya
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau