Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

AC Bisa Tambah Pemanasan Global di Bumi 0,05 Derajat, Mengapa?

Kompas.com, 2 Maret 2026, 19:46 WIB
Monika Novena,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Seiring memanasnya bumi, makin banyak orang yang menggunakan pendingin udara (air conditioner atau AC) agar tetap merasa sejuk.

Masalahnya, selain mengonsumsi listrik dalam jumlah besar, AC juga disebut menyebabkan emisi gas rumah kaca yang signifikan dan memperburuk pemanasan global.

Baca juga:

AC bisa sebabkan emisi gas rumah kaca

Emisi dari AC

Studi baru yang dipublikasikan dalam Nature Communications mengungkapkan, menjelang tahun 2050, emisi terkait AC dapat meningkatkan suhu rata-rata global sebesar 0,05 derajat celsius dalam skenario moderat.

Penyebab utamanya adalah emisi karbon dari jaringan listrik serta kebocoran zat pendingin kimia, dilansir dari Phys.org, Senin (2/3/2026).

Dalam studi mereka, peneliti tidak hanya terpaku pada kenaikan suhu . Mereka mengambil pendekatan menyeluruh dengan memeriksa bagaimana iklim, permintaan akan pendingin, dan pertumbuhan ekonomi saling memengaruhi terhadap pemanasan di masa depan.

Hal ini melibatkan pengukuran bagaimana tingkat kelembapan dan kenaikan pendapatan akan memacu penjualan AC masa depan, serta penggunaan simulator iklim untuk menghitung total pemanasan yang terjadi.

Tim peneliti juga menghitung angka-angka tersebut melalui lima jalur iklim masa depan, yang merupakan skenario "bagaimana-kalau" yang digunakan oleh Panel Antar-pemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC).

Skenario ini mencakup rentang dari dunia yang dengan cepat mengadopsi energi hijau hingga dunia yang tetap sangat bergantung pada bahan bakar fosil.

Baca juga: 

Biaya untuk tetap sejuk

Studi mengungkap emisi dari AC berpotensi menaikkan suhu bumi hingga 0,05 derajat celsius pada 2050. Shutterstock/Andrey_Popov Studi mengungkap emisi dari AC berpotensi menaikkan suhu bumi hingga 0,05 derajat celsius pada 2050.

Studi tersebut menemukan bahwa pendorong utama pertumbuhan AC adalah peningkatan pendapatan, urbanisasi, dan penurunan harga peralatan.

Dalam skenario SSP245 (skenario moderat), pendapatan menyumbang 190 persen dari peningkatan konsumsi AC global pada tahun 2050.

Meskipun penggunaan listrik merupakan faktor utama, kebocoran zat pendingin bisa mencapai 60 persen dari seluruh polusi terkait AC pada tahun tersebut.

Salah satu temuan kunci adalah kesenjangan antara kebutuhan pendinginan dan akses terhadap AC.

Wilayah berpenghasilan tinggi menggunakan paling banyak AC meskipun tidak terlalu membutuhkannya.

Sementara itu, negara-negara yang mengalami panas paling ekstrem justru sering kali menggunakan AC lebih sedikit.

Namun, menutup kesenjangan pendinginan ini dengan teknologi saat ini akan melepaskan antara 14 hingga 146 miliar ton gas rumah kaca tambahan.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Survei Global Temukan Risiko Greenwashing Meluas di Perusahaan
Survei Global Temukan Risiko Greenwashing Meluas di Perusahaan
LSM/Figur
Penyelamat Iklim yang Terlupakan, Ini Manfaat Padang Lamun untuk Indonesia
Penyelamat Iklim yang Terlupakan, Ini Manfaat Padang Lamun untuk Indonesia
LSM/Figur
Sering Cek Email Kerja Saat Akhir Pekan? Waspada Dampaknya untuk Mental
Sering Cek Email Kerja Saat Akhir Pekan? Waspada Dampaknya untuk Mental
LSM/Figur
Hari Perempuan Internasional, Rayakan Peran Perempuan di Balik Gerai Kopi
Hari Perempuan Internasional, Rayakan Peran Perempuan di Balik Gerai Kopi
Swasta
Terumbu Karang Bisa Tahan Pemanasan Laut akibat Krisis Iklim?
Terumbu Karang Bisa Tahan Pemanasan Laut akibat Krisis Iklim?
LSM/Figur
Masa Depan Pasar Karbon Tergantung Intervensi Pemerintah, Ini Skenarionya
Masa Depan Pasar Karbon Tergantung Intervensi Pemerintah, Ini Skenarionya
Swasta
Dampak Longsor di Bantargebang Menurut Ahli, Akumulasi Gas Metana hingga Air Lindi
Dampak Longsor di Bantargebang Menurut Ahli, Akumulasi Gas Metana hingga Air Lindi
LSM/Figur
Mengapa Longsor Bantargebang Terjadi Berulang? KLH Soroti Bahaya Open Dumping
Mengapa Longsor Bantargebang Terjadi Berulang? KLH Soroti Bahaya Open Dumping
Pemerintah
Akan Dibor Tahun Ini, PGE Siapkan Infrastruktur PLTP Lumut Balai Unit 3
Akan Dibor Tahun Ini, PGE Siapkan Infrastruktur PLTP Lumut Balai Unit 3
BUMN
Awas Penipuan, PBB Sebut 20 Persen Produk Laut Terindikasi Palsu
Awas Penipuan, PBB Sebut 20 Persen Produk Laut Terindikasi Palsu
Pemerintah
Longsor Bantargebang, Berbagai Pihak Serukan Perombakan Tata Kelola Sampah
Longsor Bantargebang, Berbagai Pihak Serukan Perombakan Tata Kelola Sampah
Pemerintah
Dari Operasional hingga Komunitas, Begini Upaya Musim Mas Perkuat Pemberdayaan Perempuan dan Kesetaraan Gender
Dari Operasional hingga Komunitas, Begini Upaya Musim Mas Perkuat Pemberdayaan Perempuan dan Kesetaraan Gender
BrandzView
411 KK di Lombok Diberi Akses Kelola 560 Hektare Hutan lewat Perhutanan Sosial
411 KK di Lombok Diberi Akses Kelola 560 Hektare Hutan lewat Perhutanan Sosial
Pemerintah
Ini Pekerjaan yang Sulit Digantikan AI Menurut Studi Terbaru
Ini Pekerjaan yang Sulit Digantikan AI Menurut Studi Terbaru
Swasta
PLN Perluas Infrastruktur EV, SPKLU di Kemendag Catat Ribuan Transaksi
PLN Perluas Infrastruktur EV, SPKLU di Kemendag Catat Ribuan Transaksi
BUMN
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau