KOMPAS.com - Kursi kelas bisnis atau kelas satu di pesawat menghasilkan emisi karbon hingga lima kali lebih tinggi dibandingkan kursi kelas ekonomi, menurut laporan Air Transport Association (IATA).
Laporan dari studi yang dipublikasikan di jurnal Nature ini menemukan, menghilangkan kursi kelas bisnis dalam penerbangan pesawat dapat memangkas emisi karbon.
Baca juga:
Di samping itu, pengoperasian pesawat yang paling hemat bahan bakar dan menambah jumlah penumpang mengurangi 50-75 persen emisi global tanpa harus menunggu avtur berkelanjutan (Sustainable Aviation Fuel atau SAF).
"Di sini kami menilai efisiensi karbon dioksida untuk 27,5 juta penerbangan dengan 26.156 rute antar kota pada tahun 2023, menggunakan data dari Airline Data, Organisasi Penerbangan Sipil Internasional, dan IATA," kata peneliti dalam studinya, dikutip Senin (2/3/2026).
Tim peneliti mengungkap, rata-rata emisi penerbangan global mencapai 84,4 gram karbon dioksida (CO2) per kilometer (km) untuk setiap penumpang pada tahun 2023.
Emisi berkisar dari 30 gram CO2 per km per penumpang pada beberapa rute, dan hampir 900 gram CO2 pada rute lainnya.
Dalam periode dan rute yang dipelajari, Amerika Serikat merupakan negara penghasil emisi tertinggi secara global yakni 144,6 juta ton CO2, dengan rata-rata emisi penerbangan 96,5 gram CO2 per km.
Kemudian, China berada di urutan kedua yakni 88,6 gram CO2 per km per penumpang.
Norwegia dinilai sebagai negara dengan penerbangan yang sangat tidak efisien, yang sering dikaitkan dengan bandara yang lebih kecil dan penerbangan yang kurang ramai.
Di beberapa negara, rute tersebut mendapatkan pendanaan pemerintah dan penting untuk konektivitas ke daerah terpencil.
Baca juga:
Penggunaan pesawat tertentu dan menghapus kursi kelas bisnis di pesawat bisa mengurangi emisi hingga 75 persen. Studi tersebut menemukan bahwa mengubah konfigurasi pesawat menjadi kelas ekonomi saja akan mengakomodasi lebih banyak penumpang serta mengurangi 22 hingga 57 persen emisi.
Kursi-kursi kelas bisnis memakan ruang jauh lebih besar sehingga dalam satu pesawat jumlah penumpang yang bisa dibawa menjadi lebih sedikit. Padahal bahan bakar yang digunakan untuk lepas landas dan terbang tetap hampir sama.
Akan tetapi, tidak semua penerbangan sama lantaran emisi masing-masing pesawat sangat bervariasi tergantung pada efisiensi maupun konfigurasi pesawat.
Studi tersebut juga menemukan, mengganti pesawat yang lebih tua dengan armada yang lebih baru dan lebih efisien mengurangi penggunaan bahan bakar sekitar 25 sampai 28 persen.
Jenis pesawat Boeing 787-9 untuk penerbangan jarak jauh serta Airbus A321neo untuk penerbangan jarak pendek dan menengah, tercatat menghasilkan 60 gram CO2 per kilometer untuk setiap penumpang.
Sementara itu, jenis pesawat lain yang paling tidak efisien menghasilkan 360 gram CO2 per penumpang.
“Secara realistis ini akan menjadi transisi jangka panjang, transisi yang dapat didorong oleh kebijakan terkait efisiensi. Dengan demikian, pesawat yang paling efisien akan diutamakan setiap kali keputusan penggantian dibuat,” ujar salah satu peneliti Ofxord University, Milan Klöwer, dilansir dari Euronews.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya