Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Sampah Antariksa Bikin Lapisan Ozon Bumi Berlubang

Kompas.com, 2 Maret 2026, 17:09 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Polusi yang disebabkan sampah antariksa diprediksi semakin meningkat. Jenis polusi tersebut akan merusak lapisan ozon di atmosfer bumi dan membentuk awan yang menyebabkan pemanasan global.

Sebagai contoh, roket SpaceX, yang terbakar setelah kembali ke atmosfer, melepaskan gumpalan logam yang menguap di atas Eropa.

Baca juga:

Sampah antariksa bisa rusak lapisan ozon bumi

Lonjakan litium terdeteksi ketika roket kembali ke bumi

Sampah antariksa dan roket SpaceX melepaskan litium serta aluminium oksida yang bisa merusak ozon dan memperparah pemanasan global.Freepik Sampah antariksa dan roket SpaceX melepaskan litium serta aluminium oksida yang bisa merusak ozon dan memperparah pemanasan global.

Bagian atas roket Falcon 9, yang dirancang untuk mendarat di Samudera Pasifik untuk digunakan kembali, kehilangan kendali akibat kegagalan mesin. Bagian atas roket Falcon 9 jatuh dari orbit di atas Atlantik utara pada Februari 2025.

Setelah mendengar kabar itu, Robin Wing di Institut Fisika Atmosfer Leibniz di Jerman dan rekan-rekannya segera menyalakan lidar, instrumen untuk penginderaan atmosfer.

Sekitar 20 jam kemudian, alat tersebut mendeteksi lonjakan kadar litium 10 kali lipat di lapisan atmosfer bagian atas saat gumpalan logam yang menguap melayang di atasnya. Adapun litium termasuk komponen kunci badan roket. 

Berdasarkan permodelan, gumpalan asap ini telah bergeser sejauh 1.600 kilometer dari area Falcon 9.

Studi terbaru yang diterbitkan dalam Communications Earth & Environment ini untuk pertama kalinya melacak polusi di ketinggian akibat pergi dan baliknya pesawat ruang angkasa yang dapat digunakan kembali.

"Partikel logam kecil tersebut bisa jadi mengkatalisis perusakan ozon, menciptakan awan di stratosfer dan mesosfer, memengaruhi cara sinar matahari merambat melalui atmosfer," ujar Wing, dilansir dari NewScientist, Senin (2/3/2026).

Sampah antariksa dan roket SpaceX melepaskan litium serta aluminium oksida yang bisa merusak ozon dan memperparah pemanasan global.Pexels/SpaceX Sampah antariksa dan roket SpaceX melepaskan litium serta aluminium oksida yang bisa merusak ozon dan memperparah pemanasan global.

Namun, isu tersebut masih kurang diteliti. Kekhawatiran terhadap jenis polusi ini semakin menguat seiring dengan melonjaknya peluncuran roket komersial.

Hal itu ditambah dengan perluasan konstelasi satelit raksasa oleh perusahaan-perusahaan, seperti Starlink milik SpaceX dan Leo milik Amazon.

Sekitar 14.500 satelit sudah berada di orbit. Bulan lalu, SpaceX mengajukan permohonan meluncurkan satu juta satelit lagi.

CEO SpaceX, Elon Musk meluncurkan satelit untuk menciptakan pusat data orbital dalam mendukung AI (Artificial Intelligence atau kecerdasan buatan).

Satelit biasanya dibiarkan jatuh dan terbakar habis pada akhir masa pakainya demi menghindari siklus tabrakan tak terkendali, yang mana bisa menghasilkan semakin banyak puing antariksa.

Jumlah sampah antariksa berpotensi naik hingga 50 kali lipat dalam dekade berikutnya dan melebihi 40 persen dari massa meteoroid yang saat ini dibawa ke atmosfer.

"Ada kesalahpahaman bahwa puing-puing luar angkasa terbakar di atmosfer dan menghilang. Mari kita sedikit menahan diri, dan mari kita benar-benar melakukan analisis menyeluruh tentang efek apa yang mungkin ditimbulkan oleh material ini," tutur Daniel Cziczo dari Universitas Purdue, Indiana, yang tidak terlibat dalam penelitian ini.

Baca juga:

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Swasta
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pemerintah
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
LSM/Figur
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
Pemerintah
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Pemerintah
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
Swasta
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Pemerintah
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Pemerintah
'Bijak Jajan Cinta Bumi', Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
"Bijak Jajan Cinta Bumi", Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
Swasta
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
LSM/Figur
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Pemerintah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
LSM/Figur
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Pemerintah
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
BUMN
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau