Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Sampah Jarang Diangkut Bikin Daur Ulang Rumah Tangga Naik

Kompas.com, 5 Maret 2026, 17:18 WIB
Zintan Prihatini,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Sumber Phys.org

KOMPAS.com - Berkurangnya jadwal pengangkutan sampah membuat praktik daur ulang sampah rumah tangga meningkat, menurut studi terbaru. 

Dalam studi yang dipublikasikan di jurnal Waste Management, peneliti Concordia University, Kanada, menyebut kondisi ini dipengaruhi budaya, pendapatan, tingkat pendidikan, kepadatan penduduk, serta frekuensi pengambilan sampah.

“Kami menemukan bahwa pengambilan sampah yang lebih jarang, ditambah dengan pengumpulan sampah makanan setiap minggu dan pengumpulan sampah taman gratis, berkorelasi dengan tingkat daur ulang yang lebih tinggi,” kata salah satu peneliti, Jonathan Wilansky dilansir dari Phys.org, Kamis (5/3/2026).

Baca juga: 

Dampak jadwal angkut sampah pada daur ulang

Berhasil bila sistem daur ulang dan pengomposan tersedia

Studi mengungkapkan jarangnya sampah yang diangkut petugas menyebabkan naiknya tingkat daur ulang di rumah tangga.freepik Studi mengungkapkan jarangnya sampah yang diangkut petugas menyebabkan naiknya tingkat daur ulang di rumah tangga.

Wilansky menyampaikan, analisis dilakukan menggunakan data serta kebijakan dari 297 distrik dewan di Inggris dan Wales untuk melihat kombinasi kebijakan apa yang berkaitan dengan tingkat daur ulang rumah tangga tertinggi.

“Menyimpan sampah selama dua atau tiga minggu merepotkan sehingga orang terdorong untuk mendaur ulang dan membuat kompos agar bisa mengurangi sampah. Hasilnya, lebih banyak daur ulang dan lebih sedikit truk sampah di jalan," tutur Wilansky.

Kendati demikian, teori ini hanya hanya berhasil apabila sistem daur ulang dan pengomposan tersedia dengan baik dan mudah diakses oleh masyarakat.

Wilansky dan rekannya, Kailun Cao mengumpulkan informasi rinci dari situs web pemerintah daerah mengenai berbagai faktor.

Mereka mencatat frekuensi pengambilan sampah residu dan sampah daur ulang, kewajiban memilah sampah, pengumpulan limbah makanan, serta sistem pembayaran layanan pengangkutan. 

Peneliti memadukannya dengan data sensus tahun 2021 mencakup pendapatan, pendidikan, usia, jenis perumahan, komposisi rumah tangga, tingkat pengangguran, dan bahasa yang digunakan di rumah.

Selanjutnya, para peneliti menggunakan model regresi untuk memisahkan pengaruh kebijakan dan faktor demografi terhadap tingkat daur ulang.

Hasil analisis menunjukkan, distrik yang mengumpulkan sampah setiap tiga minggu sekali atau lebih jarang memiliki tingkat daur ulang jauh lebih tinggi.

Distrik yang menerapkan kombinasi pengumpulan sampah makanan mingguan, pengumpulan sampah taman gratis, serta pengambilan sampah umum setiap tiga minggu memiliki tingkat daur ulang hingga 61 persen.

Baca juga: 

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dianggap Boros Emisi, Perjalanan Udara Presiden FIFA di Piala Dunia Tuai Protes
Dianggap Boros Emisi, Perjalanan Udara Presiden FIFA di Piala Dunia Tuai Protes
Pemerintah
Ekonom IPB: Pembangunan Terlalu Fokus pada Angka, Abaikan Aspek Moral dan Tata Kelola
Ekonom IPB: Pembangunan Terlalu Fokus pada Angka, Abaikan Aspek Moral dan Tata Kelola
Pemerintah
Mayoritas Pemimpin Bisnis Cemas Transisi Iklim Berjalan Kacau
Mayoritas Pemimpin Bisnis Cemas Transisi Iklim Berjalan Kacau
Pemerintah
PBB Desak Raksasa Teknologi Transparan Soal Dampak Lingkungan dari AI
PBB Desak Raksasa Teknologi Transparan Soal Dampak Lingkungan dari AI
Pemerintah
Dari Gang Sempit di Jakarta, Seorang ASN Bangun Ekonomi Sirkular yang Turut Hidupi Warga
Dari Gang Sempit di Jakarta, Seorang ASN Bangun Ekonomi Sirkular yang Turut Hidupi Warga
LSM/Figur
Konsorsium Tiga Media di Asia Tenggara Kerja Sama untuk Perkuat ESG
Konsorsium Tiga Media di Asia Tenggara Kerja Sama untuk Perkuat ESG
Pemerintah
Menilik Upaya BNI dalam Mendorong Pemerataan Pendidikan di Tanah Air
Menilik Upaya BNI dalam Mendorong Pemerataan Pendidikan di Tanah Air
BUMN
Survei KPMG: 4 dari 5 Perusahaan Bingung Ukur Nilai Ekonomi Bisnis Berkelanjutan
Survei KPMG: 4 dari 5 Perusahaan Bingung Ukur Nilai Ekonomi Bisnis Berkelanjutan
Pemerintah
BNPB Catat Banjir-Kekeringan Landa Sejumlah Wilayah, Ribuan Orang Terdampak
BNPB Catat Banjir-Kekeringan Landa Sejumlah Wilayah, Ribuan Orang Terdampak
Pemerintah
Ilusi Lahan Baru di Tengah Deforestasi
Ilusi Lahan Baru di Tengah Deforestasi
Pemerintah
Regulasi ESG di Indonesia Belum Penuhi Aspek yang Dipersyaratkan Pasar Global
Regulasi ESG di Indonesia Belum Penuhi Aspek yang Dipersyaratkan Pasar Global
Pemerintah
Krisis Iklim Rusak Keanekaragaman Hayati Mikroba Sungai
Krisis Iklim Rusak Keanekaragaman Hayati Mikroba Sungai
Pemerintah
BRIN dan YKAN Uji Pembakaran Gambut Terkendali untuk Perbaiki Akurasi Data Emisi Nasional
BRIN dan YKAN Uji Pembakaran Gambut Terkendali untuk Perbaiki Akurasi Data Emisi Nasional
LSM/Figur
Paparan Suhu Panas Ekstrem Global Naik 22 Persen, Apa Dampaknya?
Paparan Suhu Panas Ekstrem Global Naik 22 Persen, Apa Dampaknya?
LSM/Figur
PBB Peringatkan AI Perparah Bias Gender dan Kekerasan di Dunia Maya
PBB Peringatkan AI Perparah Bias Gender dan Kekerasan di Dunia Maya
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau