KOMPAS.com - Berkurangnya jadwal pengangkutan sampah membuat praktik daur ulang sampah rumah tangga meningkat, menurut studi terbaru.
Dalam studi yang dipublikasikan di jurnal Waste Management, peneliti Concordia University, Kanada, menyebut kondisi ini dipengaruhi budaya, pendapatan, tingkat pendidikan, kepadatan penduduk, serta frekuensi pengambilan sampah.
“Kami menemukan bahwa pengambilan sampah yang lebih jarang, ditambah dengan pengumpulan sampah makanan setiap minggu dan pengumpulan sampah taman gratis, berkorelasi dengan tingkat daur ulang yang lebih tinggi,” kata salah satu peneliti, Jonathan Wilansky dilansir dari Phys.org, Kamis (5/3/2026).
Baca juga:
Studi mengungkapkan jarangnya sampah yang diangkut petugas menyebabkan naiknya tingkat daur ulang di rumah tangga.Wilansky menyampaikan, analisis dilakukan menggunakan data serta kebijakan dari 297 distrik dewan di Inggris dan Wales untuk melihat kombinasi kebijakan apa yang berkaitan dengan tingkat daur ulang rumah tangga tertinggi.
“Menyimpan sampah selama dua atau tiga minggu merepotkan sehingga orang terdorong untuk mendaur ulang dan membuat kompos agar bisa mengurangi sampah. Hasilnya, lebih banyak daur ulang dan lebih sedikit truk sampah di jalan," tutur Wilansky.
Kendati demikian, teori ini hanya hanya berhasil apabila sistem daur ulang dan pengomposan tersedia dengan baik dan mudah diakses oleh masyarakat.
Wilansky dan rekannya, Kailun Cao mengumpulkan informasi rinci dari situs web pemerintah daerah mengenai berbagai faktor.
Mereka mencatat frekuensi pengambilan sampah residu dan sampah daur ulang, kewajiban memilah sampah, pengumpulan limbah makanan, serta sistem pembayaran layanan pengangkutan.
Peneliti memadukannya dengan data sensus tahun 2021 mencakup pendapatan, pendidikan, usia, jenis perumahan, komposisi rumah tangga, tingkat pengangguran, dan bahasa yang digunakan di rumah.
Selanjutnya, para peneliti menggunakan model regresi untuk memisahkan pengaruh kebijakan dan faktor demografi terhadap tingkat daur ulang.
Hasil analisis menunjukkan, distrik yang mengumpulkan sampah setiap tiga minggu sekali atau lebih jarang memiliki tingkat daur ulang jauh lebih tinggi.
Distrik yang menerapkan kombinasi pengumpulan sampah makanan mingguan, pengumpulan sampah taman gratis, serta pengambilan sampah umum setiap tiga minggu memiliki tingkat daur ulang hingga 61 persen.
Baca juga:
Studi mengungkapkan jarangnya sampah yang diangkut petugas menyebabkan naiknya tingkat daur ulang di rumah tangga.Dalam studinya, tim peneliti menemukan usia, pendapatan rata-rata, dan proporsi penghuni apartemen tidak terbukti menjadi faktor yang signifikan dalam menentukan kebiasaan daur ulang.
Wilayah dengan tingkat pendidikan tinggi cenderung memiliki tingkat daur ulang yang lebih tinggi.
Sebaliknya, daerah dengan tingkat pengangguran tinggi, banyak rumah tangga berpenghuni satu orang, dan banyak mahasiswa cenderung memiliki tingkat daur ulang lebih rendah.
Daerah dengan penduduk yang padat juga dikaitkan dengan rendahnya tingkat daur ulang sampah.
Di sisi lain, kebijakan pemerintah Wales, yang mendorong daur ulang melalui program dan pendidikan, dianggap sebagai alasan utama mengapa wilayah tersebut melampaui distrik-distrik di Inggris, di mana peningkatan daur ulang tampaknya mulai stagnan.
Para peneliti mengatakan bahwa target nasional yang jelas dan pengaruh budaya dapat menentukan keberhasilan upaya daur ulang.
Baca juga:
Peneliti merekomendasikan agar pemerintah mengoptimalkan sumber daya yang terbatas dengan memfokuskan program kesadaran daur ulang pada komunitas dengan tingkat daur ulang terendah serta menerapkan kombinasi kebijakan yang terbukti paling efektif.
Wilansky mengatakan, penelitian ini memberikan pelajaran penting bagi Kanada yang masih menghadapi permasalahan limbah rumah tangga dengan hanya 27 persennya yang didaur ulang, dikomposkan, atau dialihkan dari tempat pembuangan akhir.
Pada tahun 2022, sekitar 26,6 juta ton sampah padat berakhir di tempat pemrosesan akhir atau dibakar, meningkat 11 persen dibandingkan 2002.
“Tingkat daur ulang kami masih jauh di bawah Inggris, tetapi penelitian kami menunjukkan bahwa perubahan sederhana dan cepat pada infrastruktur yang ada dapat menghasilkan peningkatan yang signifikan,” tutur dia.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya