Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Indonesia dan AS Sepakati Pengalihan Utang untuk Lindungi Terumbu Karang

Kompas.com, 31 Januari 2026, 19:56 WIB
Ni Nyoman Wira Widyanti

Penulis

Sumber Antara

KOMPAS.com - Pemerintah Indonesia dan Amerika Serikat (AS)menyepakati skema pengalihan utang (debt for nature swap) untuk konservasi terumbu karang. Skema ini disepakati bersama dengan nilai mencapai 35 juta dollar Amerika Serikat atau sekitar Rp 588 miliar.

"Harusnya kita bisa memanfaatkan potensi pendanaan itu karena tidak mungkin penanganan konservasi kelautan tanpa dukungan dana," kata Deputi Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), Rasio Ridho Sani, dilansir dari Antara, Sabtu (31/1/2026).

Baca juga:

Indonesia-Amerika Serikat sepakati skema pengalihan utang

Pendanaan dari pengalihan utang menjadi sumber dana alternatif

KLH menyatakan dukungan penuh terhadap kesepakatan pengalihan utang tersebut. Menurut Ridho, skema debt for nature swap akan mengoptimalkan upaya konservasi terumbu karang di Indonesia.

Pendanaan dari pengalihan utang ini disebut berfungsi sebagai sumber dana alternatif. Dana tersebut tidak hanya digunakan untuk konservasi, tapi juga untuk pengendalian pencemaran dan kerusakan ekosistem kelautan. Terumbu karang menjadi bagian penting dari ekosistem yang perlu dilindungi secara serius.

"Kami sangat dukung itu artinya menjadi salah satu alternatif pembiayaan yang diperlukan untuk pelestarian, pemanfaatan berkelanjutan dari sumber daya kelautan," kata Ridho.

Pemerintah percepat konservasi terumbu karang melalui pengalihan utang Indonesia-AS senilai Rp 588 miliar untuk lindungi ekosistem laut.Dok. Wikimedia Commons/Brocken Inaglory Pemerintah percepat konservasi terumbu karang melalui pengalihan utang Indonesia-AS senilai Rp 588 miliar untuk lindungi ekosistem laut.

Ridho menjelaskan bahwa manfaat konservasi terumbu karang tidak hanya dirasakan oleh Indonesia, tapi juga dirasakan oleh negara lain. Hal ini terjadi karena Indonesia memiliki kekayaan terumbu karang yang sangat besar.

Terumbu karang memiliki peran penting dalam menyerap karbon, yang mana krusial di tengah krisis iklim global. Perlindungan terumbu karang berarti turut berkontribusi dalam upaya menekan laju perubahan iklim.

Dalam paparannya di Forum Bali Ocean Days, Ridho menyebut Indonesia sebagai rumah bagi terumbu karang dengan luas sekitar 2,5 juta hektar. Terumbu karang tersebut tersebar di berbagai wilayah perairan Indonesia.

Wilayah tersebut meliputi Aceh, Jakarta, Bali, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Tenggara, dan Papua Barat Daya. Sebaran yang luas ini menunjukkan besarnya tanggung jawab Indonesia dalam menjaga ekosistem laut dunia.

Namun, kondisi terumbu karang di Indonesia masih menghadapi tantangan besar. 

"Berdasarkan data secara nasional mengindikasikan sekitar 30-40 persen terumbu karang Indonesia dalam kondisi rusak," ucap Ridho.

Baca juga:

Pemerintah percepat konservasi terumbu karang melalui pengalihan utang Indonesia-AS senilai Rp 588 miliar untuk lindungi ekosistem laut.SHUTTERSTOCK/Simon Shin kwangsig Pemerintah percepat konservasi terumbu karang melalui pengalihan utang Indonesia-AS senilai Rp 588 miliar untuk lindungi ekosistem laut.

Sebelumnya, Pemerintah Indonesia dan Amerika Serikat telah menuntaskan proses pengalihan utang senilai 35 juta dollar AS pada 2025. Dana tersebut dialokasikan khusus untuk kegiatan konservasi dan perlindungan terumbu karang di Indonesia.

Kesepakatan ini kemudian diperkuat melalui Tropical Forest and Coral Reef Conservation Act atau TFCCA. Program tersebut resmi diluncurkan di Jakarta pada Selasa (27/1/2026).

Sebagai tindak lanjut, sebanyak 58 organisasi dan inisiatif lokal menerima hibah dari skema ini. Penerima hibah terdiri dari kelompok masyarakat dan organisasi yang bergerak di bidang lingkungan.

Mereka bertugas mendukung perlindungan dan pengelolaan ekosistem terumbu karang. Fokus wilayahnya berada di kawasan Segitiga Terumbu Karang Dunia, yang mencakup Kepala Burung di Pulau Papua, Sunda Kecil, dan Banda.

Baca juga:

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Swasta
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pemerintah
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
LSM/Figur
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
Pemerintah
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Pemerintah
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
Swasta
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Pemerintah
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Pemerintah
'Bijak Jajan Cinta Bumi', Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
"Bijak Jajan Cinta Bumi", Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
Swasta
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
LSM/Figur
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Pemerintah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
LSM/Figur
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Pemerintah
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
BUMN
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau