Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

3 Mega Tren Dunia Versi Schneider Electric, Transisi Energi hingga AI

Kompas.com, 7 Maret 2026, 07:10 WIB
Ni Nyoman Wira Widyanti

Penulis

BATAM, KOMPAS.com - President Director Schneider Electric Indonesia & Timor-Leste, Martin Setiawan menyebutkan tiga mega trend yang tengah dialami masyarakat di dunia, termasuk Indonesia. 

Ketiganya adalah new energy landscape (lanskap energi baru), digitalisasi dan AI (Artificial Intelligence atau kecerdasan buatan), dan multipolar world (dunia multi-kutub). 

Baca juga:

Mega trend saat ini menurut Schneider Electric

Dari energi terbarukan hingga DC

President Director Schneider Electric Indonesia & Timor-Leste, Martin Setiawan saat Innovation Talk di Kota Batam, Riau, Rabu (25/2/2026).Dok. Schneider Electric President Director Schneider Electric Indonesia & Timor-Leste, Martin Setiawan saat Innovation Talk di Kota Batam, Riau, Rabu (25/2/2026).

Pada poin pertama, Martin memberi pertanyaan mengapa new energy landscape dibutuhkan, misalnya mengubah sumber energi dari coal fire (batu bara) ke yang renewable (terbarukan).

"Yang pasti karena greenhouse gases (gas rumah kaca) itu semakin lama semakin besar sehingga dunia kita ini semakin lama semakin tidak sehat," kata Martin saat Innovation Talk di Kota Batam, Riau, Rabu (25/2/2026).

Ia menjelaskan, cuaca semakin tidak pasti dan ekstrem. Banjir bisa terjadi meskipun hujan turun selama beberapa jam, serta cuaca bisa terasa semakin panas sehingga bisa berisiko memicu kebakaran hutan.

Maka dari itu, dunia perlu memangkas emisi global sebanyak 50 persen pada tahun 2030, yang mana tinggal empat tahun lagi. Semua komitmen lingkungan pun pada akhirnya akan mengarah ke target tersebut.

Martin juga menambahkan bahwa diperkirakan 80 persen konsumsi energi masyarakat akan menggunakan direct current (DC atau arus searah) pada tahun 2030.

"Misalnya untuk desain data center (pusat data) mulai dari sekarang sudah mulai berkembang untuk menggunakan 800 volt DC design," tutur Martin.

Hal itu berbeda dengan kondisi saat ini, yang mana banyak perangkat elektronik rumah tangga menggunakan alternating current (AC atau arus bolak-balik). 

Baca juga:

Penggunaan AI

Schneider Electric menyebut tiga mega tren yang tengah terjadi, dari transisi energi hingga meluasnya penggunaan AI.freepik Schneider Electric menyebut tiga mega tren yang tengah terjadi, dari transisi energi hingga meluasnya penggunaan AI.

Poin selanjutnya adalah meluasnya penggunaan AI yang turut memengaruhi kebutuhan data center.

"Coba Bapak, Ibu yang punya anak remaja, nanti (saat) pulang tanya sama anaknya, pakai apa sekarang kalau search (mencari informasi)? Mungkin pakai ChatGPT, pakai Gemini, atau search-nya pakai TikTok, dari Instagram. Nah, itu banyak generate data yang dikeluarkan sehingga kebutuhan data center ini akan semakin tinggi," jelas Martin. 

Di Kota Batam pun tengah dibangun banyak data center untuk mendukung aktivitas industri yang ada. 

Martin juga menyoroti konsekuensi yang ada, antara lain peningkatan internet of things (IoT), robotics, bangkitnya agentic AI, dan smart manufacturing (manufaktur cerdas). 

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dampak Perubahan Iklim: Kedelai Bisa Tumbuh Lebih Besar tapi Kurang Bergizi
Dampak Perubahan Iklim: Kedelai Bisa Tumbuh Lebih Besar tapi Kurang Bergizi
Pemerintah
Lestari Summit 2026, Hadirkan Isu Keberlanjutan yang Dekat dengan Masyarakat
Lestari Summit 2026, Hadirkan Isu Keberlanjutan yang Dekat dengan Masyarakat
Swasta
Penggemar Piala Dunia Kini Lebih Pilih Produk Ramah Lingkungan
Penggemar Piala Dunia Kini Lebih Pilih Produk Ramah Lingkungan
Pemerintah
Komitmen Lingkungan Perusahaan Terbesar Dunia Naik Tiga Kali Lipat Sejak 2019
Komitmen Lingkungan Perusahaan Terbesar Dunia Naik Tiga Kali Lipat Sejak 2019
Pemerintah
ISO Rilis Draf Panduan Net Zero untuk Perusahaan Sedunia
ISO Rilis Draf Panduan Net Zero untuk Perusahaan Sedunia
Pemerintah
Tempat Kerja Inklusif dan Berkelanjutan semakin Diperhatikan Korporasi
Tempat Kerja Inklusif dan Berkelanjutan semakin Diperhatikan Korporasi
Swasta
Terbitkan Sustainability Report 2025, TelkomGroup Perkuat Integrasi ESG dalam Transformasi Bisnis
Terbitkan Sustainability Report 2025, TelkomGroup Perkuat Integrasi ESG dalam Transformasi Bisnis
BrandzView
WVI Kampanyekan Water fo Timor, Dekatkan Akses Air Bersih dan Sanitasi di NTT
WVI Kampanyekan Water fo Timor, Dekatkan Akses Air Bersih dan Sanitasi di NTT
LSM/Figur
60 Persen Lembaga Keuangan Terkemuka di Dunia Abaikan Risiko Deforestasi
60 Persen Lembaga Keuangan Terkemuka di Dunia Abaikan Risiko Deforestasi
Pemerintah
Mayoritas Bos Perusahaan RI Akui Elektrifikasi Dongkrak Daya Saing Bisnis
Mayoritas Bos Perusahaan RI Akui Elektrifikasi Dongkrak Daya Saing Bisnis
LSM/Figur
MagnaMinds Dorong Kolaborasi Lintas Sektor untuk Perkuat Pendidikan Inklusif di Sulawesi Utara
MagnaMinds Dorong Kolaborasi Lintas Sektor untuk Perkuat Pendidikan Inklusif di Sulawesi Utara
Swasta
Bebani Listrik, Pusat Data di Asia Pasifik Kini Diperketat
Bebani Listrik, Pusat Data di Asia Pasifik Kini Diperketat
Pemerintah
Perempuan Pesisir Kehilangan Pekerjaan akibat Perubahan Iklim
Perempuan Pesisir Kehilangan Pekerjaan akibat Perubahan Iklim
LSM/Figur
BPOM dan PYFA Kolaborasi Kejar 'Net Zero Carbon', Hubungkan Kesehatan Manusia dan Bumi
BPOM dan PYFA Kolaborasi Kejar "Net Zero Carbon", Hubungkan Kesehatan Manusia dan Bumi
Swasta
Kita Salah Menghitung Risiko
Kita Salah Menghitung Risiko
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau